Lombok Post
Selong

Di Balik Kesuksesan Atlet Tenis Lotim di Porprov (1)

MELATIH PUKULAN: Deisya Alfina, peraih medali emas nomor perseorangan, ganda, dan beregu puteri asal Lotim sedang berlatih di lapangan tenis Pelti Lotim, belum lama ini.

Tenis menjadi salah satu cabor yang membawa nama harum Lotim pada Porprov NTB X 2018 lalu. Tiga emas, satu perak, dan satu perunggu dibawanya pulang. Deisya Alfina adalah salah satu atlet penyumbang emas.

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

————————————————–

Langit mendung menutupi sinar matahari sore di lapangan tenis GOR Selaparang Selong. Hujan rintik-rintik sempat turun beberapa saat. Sebelum perlahan hilang diterpa angin. Di tengah lapangan, ada sekeranjang bola tenis. Pelatih Syaiful melemparkannya satu per satu ke arah petenis cilik.

Ya. Syaiful sedang melatih anak-anak memukul bola.  Mereka adalah bibit-bibit petenis lapangan andalan Lotim. Syaiful mengatakan, melatih atlet alangkah lebih baik jika dari anak-anak. “Memang kalau sudah SMA cepat bisanya. Tapi gerakannya tidak akan sebagus yang dilatih sejak kecil,” kata Syaiful.

Di tengah latihan anak-anak, Deisya Alfina atau yang akrab disapa Dea datang mengenakan jaket berwarna biru. Petenis putri andalan Lotim itu sebenarnya belum sepenuhnya pulih dari cedera. Tapi kebiasaan berlatih empat kali seminggu membuatnya tak kuasa menahan diri ke lapangan.

Porprov NTB X lalu menjadi sangat berarti baginya. Tiga medali emas ia bawa pulang. Di antaranya dari nomor perseorangan, beregu, dan ganda putri. Bonus dari kemenangan tersebut juga sudah ia terima dari Pemkab Lotim. Lumayan. Ia bisa menabung dan membeli sepeda motor baru. Di luar nilai material, setidaknya hal itu merupakan bentuk perhatian sekaligus dorongan dari pemerintah.

Dea sudah memegang raket sejak ia duduk di bangku kelas 3 SD. Ayahnya yang adalah perawat dan pemain bulu tangkis mendukung sepenuhnya kesukaan Dea memukul bola berwarna hijau itu. Hasilnya, sejak duduk di bangku SD, ia sudah banyak mengikuti berbagai kejuaraan. “Dari kecil sudah suka main,” kata Dea yang kini duduk dibangku kelas XI IPS I SMAN 1 Selong.

Ia tinggal di Lendang Bedurik, Kecamatan Selong. Tahun 2014 lalu, ia meraih medali perak di Porprov IX. Kini, kekalahan di final 4 tahun lalu ia bayar lunas. Ia telah menunjukkan hasil dari latihan yang dilakukan sejak kecil. Memang hasil tak pernah membohongi proses.

Dea mengatakan lapangan tenis hampir menjadi sekolah keduanya. Empat kali dalam seminggu. Gadis yang mengidolakan petenis asal Swiss Roger Federer itu mengaku tak pernah bolos latihan. Jika ada PR dari sekolah, maka PR akan dikerjakan setelah latihan. “Tak ada tekanan. Saya melakukannya dengan perasaan senang,” terangnya.

Selain memang telah terbiasa bermain sejak kecil, Dea juga mengaku mendapat dukungan penuh dari orang tuanya. Orang tua menurutnya adalah sosok yang menginspirasi sekaligus memberikan motivasi untuknya. Hal itu memang terbukti. Tak pernah satu kalipun sang ayah absen dalam setiap latihan. Apalagi saat bertanding.

Pada PON 2020 mendatang, Dea kemungkinan besar akan mewakili NTB. Menuju ke sana, ia mengaku akan terus berlatih. Namun di sisi lain, tak menapikan juga pentingnya pendidikan. Menurut Dea, pendidikan masih ada satu tingkat di atas karir sebagai atlet. “Sepertinya setelah ini saya akan fokus kuliah,” kata Dea mengambil raket dan kemudian memainkannya. (bersambung/r7)

Berita Lainnya

Serah Terima Surat SuaraTunggu Penyortiran dan Pelipatan

Redaksi LombokPost

Destinasi Wisata di Sembalun Belum Direhab, Diguncang Gempa Lagi

Redaksi LombokPost

Rekompak: Konstruksi RTG yang Rusak Akibat Gempa Belum Sempurna

Redaksi LombokPost

Gempa Tak Ganggu Ujian Nasional

Redaksi LombokPost

Dapur Umum Rumahan ala Pengungsi Desa Pesanggrahan, Montong Gading

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Butuh Terpal dan Trauma Healing

Redaksi LombokPost

OPD Harus Pahami Visi Misi Bupati

Redaksi LombokPost

Ketika Pasar Srikaya Saleh Sungkar Berpindah ke Pancor

Redaksi LombokPost

Jumlah Rumah Rusak Akibat Gempa Diprediksi Terus Bertambah

Redaksi LombokPost