Lombok Post
Selong

Di Balik Kesuksesan Atlet Tenis Lotim di Porprov (2-Habis)

KELUARGA BESAR PELTI LOTIM: Pengurus dan atlet PELTI Lotim berpoto bersama di lapangan tenis GOR Lotim di Selong, belum lama ini.

Pengurus Pelti Lotim mengaku tak memiliki persiapan istimewa di Porprov 2018 lalu. Latihan empat kali seminggu memang jadwal rutin. Tapi latihan itu jadi istimewa karena kehadiran orang tua. Menemani buah hatinya tercinta.

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

————————————————–

Prima Mega Lestari tiba di lapangan tenis saat gerimis perlahan berhenti. Seperti Dea, ia juga mengenakan jaket berwarna biru. Siswa kelas XII SMAN 3 Selong itu juga berhasil membawa pulang medali emas untuk Gumi Patuh Karya.

Ia belajar memegang raket tenis sejak SD. Sama seperti Dea. Ternyata, rumah mereka juga berdekatan. Dulu, Prima kepincut ke lapangan tenis karena melihat tetangganya, Dea. Ya, mereka berdua satu lingkungan di BTN Lendang Bedurik.

“Dulu liat Dea latihan jadi ingin ikut. Terus minta sama orang tua. Ya dikasi,” kata Prima.

Prima harus pandai membagi waktu. Karena kelas XII, ia mengatakan sebisa mungkin membagi waktu. Jika ada les di sore hari, maka ia akan menggantinya dengan les di malam hari. Sebab sorenya harus memegang raket tenis. Perjalanan Prima tak jauh berbeda dengan Dea.

Ketua Pelti Lotim Hafsan Hirwan sore itu juga sedang duduk di bangku penonton. Sesekali ia berteriak menyaksikan anak-anak yang sedang berlatih. “Sebenarnya tidak ada persiapan,” kata Hafsan saat ditanya mengenai Porprov.

Kata Hafsan, pada dasarnya para pemain rutin berlatih. Ada atau tidaknya kejuaraan. Namun jika harus diminta menjelaskan kunci kemenangan yang diraih, maka jawabannya adalah dukungan dari orang tua. Sekuat apapun atlet dan pelatih, tanpa dukungan yang besar, hasilnya tidak akan semaksimal yang diharapkan.

Dorongan orang tua sangat penting. Hal itu semakin masuk akal jika melihat bibit atlet yang sebaiknya dipersiapkan sejak dini. Bagaimana orang tua memberikan semangat ketika anaknya sedang down. “Terutama dalam memberikan anaknya kesempatan untuk berkembang,” terangnya.

Kesempatan menurut Hafsan sangatlah penting. Banyak anak yang berbakat, namun tak memiliki cukup kesempatan untuk mengasah kemampuan alami yang dimilikinya.  Kalaupun dipaksakan, pengaruhnya akan sampai ke mental atlet itu sendiri. Kata Hafsan, mentalitas pemain adalah yang utama.

Tugas dari atlet adalah bermain. Tak boleh ia diganggu oleh banyak hal di luar itu. Apalagi persoalan teknis. Menurutnya, atlet sebaiknya tak memikirkan reward. “Penonton tenis lapangan itu tidak ada yang buta. Kalau mainnya bagus, pasti menghadirkan peluang,” terangnya.

Begitu juga dengan penghargaan dari pemerintah. Bagi Hafsan, hal itu harus diletakkan di urutan ke sekian. Setelah berlatih dan bermain sebaik mungkin. Apalagi Bupati Lotim HM Sukiman Azmy menjanjikan lapangan pekerjaan bagi mereka yang berprestasi. Kata Hafsan, semoga apa yang disampaikan bupati itu terwujud.

Kembali ke dukungan orang tua, suasana itulah yang terbangun di keluarga besar Pelti. Dea misalnya, berhasil menjadi yang terbaik karena dukungan besar dari ayahnya, Isma Sutrayandi. “Saya selalu menemaninya saat latihan,” kata Isma.

Namun terkait keinginan sang anak, Isma mengaku tak pernah memaksakan. Misalnya keinginan memilih melanjutkan pendidikan atau berkarir di dunia olahraga. Isma menjelaskan, semua tergantung pada anaknya. “Kalau dia siap, saya mengizinkan saja,” ujarnya. (*/r7)

Berita Lainnya

Rohman Mantap Pilih Jalur Independen

Redaksi LombokPost

Masyarakat Harus Lebih Selektif!

Redaksi LombokPost

Spesialis Pencuri Mobil Ditangkap Polisi

Redaksi Lombok Post

80.584 Anak Belum Punya Akta

Redaksi Lombok Post

Sengketa Lahan Ancam Investasi

Redaksi Lombok Post

Di Balik Alasan Jukir RSUD dr R Soedjono Selong Mempertahankan Kehendaknya (2-Habis)

Redaksi Lombok Post

FK UI Gelar Pelatihan di Sembalun

Redaksi LombokPost

Warga Selong Tertangkap Bawa Setengah Kilo Sabu

Redaksi LombokPost

Belanja Murah di Pasar Jumat Pancor

Redaksi LombokPost