Lombok Post
Metropolis

BPBD Minta Warga Tetap Tenang

SUSAH PAYAH: Gelombang tinggi di pantai Bintaro membuat para nelayan kesulitan untuk meluncurkan perahunya ke tengah laut, beberapa waktu lalu.

MATARAM-Ada sebelas kelurahan di Kota Mataram yang masuk dalam kelas bahaya tsunami. Sepuluh diantaranya masuk dalam kelas bahaya tinggi. Sedangkan satu masuk dalam kelas bahaya sedang.

Semua keluharan itu ada di dua kecamatan. Sekarbela dan Ampenan. Sepuluh kelurahan kelas tinggi tsunami antara lain Ampenan Selatan, Ampenan Tengah, Ampenan Utara, Banjar, Taman Sari, Bintaro, Jempong Baru, Tanjung Karang, Tanjung Karang Peramai, dan Kekalik Jaya.

Lalu ada satu kelurahan yang masuk dalam kelas bahaya sedang, yakni Karang Pule. Informasi ini termuat dalam salinan PDF berupa list desa kelas bahaya sedang dan tinggi tsunami. List menggunakan kop dari Direktorat Pemberdayaan Masyarakat. Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BNPB.

Dikonfirmasi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram Dedy Supriadi enggan menanggapi kebenaran data itu.

“Begini saja soal bencana itu sulit diprediksi. Tapi yang jelas Tsunami selalu ada pemicunya,” kilah Dedy.

Ia hanya ingin melihat warga kota tenang dan tidak panik. Dengan berbagai isu dan kabar bohong datangnya Tsunami. Apalagi warga kota, lanjut dia, sudah lebih dulu lelah oleh gempa bumi. Karenanya perlu ada satu informasi yang kredibel dan bisa dipertanggung jawabkan.

“Jadi mari saling menenangkan, kasihan warga kita tidak bisa tenang beraktivitas,” ujarnya.

Jika ada bahaya, lanjut dia, pemerintah pasti akan mengupayakan langkah antisipasi terbaik. Salah satunya yakni dengan membunyikan sirine Tsunami di Kelurahan Ampenan Selatan. Memberi peringatan pada warga agar segera menjauh dari pantai dan mencari tempat berlindung ke tempat yang lebih tinggi.

“Kita (pemerintah) pasti akan informasikan pada masyakat,” yakinnya.

Yang jelas lanjut dia tsunami yang terjadi di selat sunda secara geografis posisinya sangat jauh untuk sampai ke Mataram. Ia sendiri meyakini dampak erupsi anak gunung Krakatau pun tidak akan sampai mengancam nyawa warga kota.

“Kecuali kalau ada gempa bumi itu perlu kita waspadai, tapi ini kan jauh sekali,” ujar Dedi.

Ia pun mengatakan telah memberikan sosialiasi pada masyarakat. Ke mana arah melakukan evakuasi terhadap bencana tsunami apabila ada ancaman dari arah laut. Beberapa plang arah evakuasi pun telah dipasang di pinggir-pinggir jalan, terutama di kawasan pantai.

“Yang warna orange itu kan? Itu dipasang oleh BPBD Provinsi NTB,” ujarnya.

Tapi ia mengaku tidak tahu-menahu. Jika ada salah satu plang yang terpasang terbalik. Dan justru mengarahkan warga lari ke arah pantai. Seperti yang terlihat di Gang Kakap, Ampenan, Mataram. Di sana ada sebuah plang arah evakuasi yang arahnya tidak sesuai.

“Wah tidak tahu itu, tapi nanti kami coba cek,” janji ia.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana menilai ada pelajaran penting dari berbagai isu kebencanaan. Bagi pemerintah ini jadi momen di mana anggaran dan program harus lebih ditingkatkan lagi porsinya bagi antisipasi kebencanaan.

“Selama ini kan kita seperti menyerahkan semuanya pada pemerintah pusat,” kata Mohan.

Ia menontohkan misalnya untuk pembuatan pemecah gelombang anggarannya pun fokus dari bantuan pusat. Begitu juga untuk Tsunami Early Warning System. Semua seperti terlepas dari penanganan pemerintah daerah.

“Tentu ke depan kita harus terbiasa dan memperbanyak program dan rencana antisipasi kebencanaan di sektor dinas terkait,” terangnya.

Ini juga akan jadi titik balik politik anggaran pemerintah daerah. Mulai diarahkan ke antisipasi kebencanaan dan program mitigasi.

“Ya setidak-tidaknya kita mulai siapkan anggaran ke depan untuk maintanance alat-alat kebencanaan yang rusak,” ujarnya.

Tidak ada pilihan, hal ini harus dilakukan. Mengingat pantai di Ampenan berhadapan langsung dengan laut lepas. Di mana potensi gelombang juga tinggi. Belum lagi pemerintah juga ingin memberi perhatian pada beberapa petunjuk evakuasi yang selama ini terbengkalai.

“Itu arahnya ndak karu-karuan bahkan ada yang mengarah ke laut,” akunya.

Ini akan jadi perhatian serius. Dan pembenahan secara berkelanjutan. Agar warga kota bisa lebih tenang beraktivitas. Sekalipun ada potensi datangnya bahaya dari laut mereka bisa cepat mengetahui dengan sistem mitigasi kebencanaan yang baik dan sosialiasi cara menghinadari yang benar.

“Harus mulai perhatian dan akrab salah satunya dengan isu tsunami, jangan sampai karena kurang pengetahuan warga panik seperti di Pondok Perasi pada malam tahun baru kemarin,” tandasnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Rekonstruksi Sudah Progresif, Presiden Instruksikan Jajaran Terus Lakukan Percepatan

Redaksi LombokPost

Kabar Gembira untuk Infrastruktur

Redaksi LombokPost

Revitalisasi KBC Dilanjutkan, Ini Sumber Dananya

Redaksi LombokPost

Durian Runtuh buat PNS, Rapelan Gaji Masih Tunggu Hitungan Taspen

Redaksi LombokPost

Cara Menghilangkan Bau Tak Sedap di Sepatu ala BROOK.LIN

Redaksi LombokPost

Relokasi Dua Pasar Belum Jelas

Redaksi LombokPost

Warga Harus Tetap Waspada DBD

Redaksi LombokPost

Dua Jempol untuk Dinas PUPR

Redaksi LombokPost

Ahyar Bisiki Presiden Jokowi, Rehab Rekon Terkendala Semen dan Tukang

Redaksi LombokPost