Lombok Post
Headline Kriminal

BPOM Tangkap Bandar Trihex Palsu

OBAT ILEGAL: Kepala BBPOM Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih bersama Kasi Korwas PPNS Polda NTB Kompol Ridwan menunjukkan barang bukti obat trihexyphenidyl di Kantor BBPOM Mataram, kemarin (9/1).

MATARAM-Satu bandar dan dua terduga pengedar obat keras ditangkap penyidik PNS (PPNS) Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) dan kepolisian. Dari ketiganya diamankan 32.400 butir trihexyphenidyl.

Kepala BBPOM Mataram Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih mengatakan, puluhan ribu obat trihexyphenidyl merupakan obat palsu. Dikirim dari Jakarta menggunakan jasa ekspedisi untuk dijual secara ilegal.

”Isinya, kandungannya benar. Tapi, obatnya palsu, nomornya dipalsukan untuk dijual secara ilegal,” kata Suarningsih, kemarin (9/1).

Trihexyphenidyl merupakan obat penenang atau anti depresi. Serupa dengan tramadol yang marak disalahgunakan. Di kalangan penyalahguna, trihexyphenidyl dikenal dengan banyak nama. Antara lain, Tri X; Trihex; dan THP.

Suarningsih menjelaskan, karena obat palsu, sasaran penjualannya ditujukan kepada penyalahguna. ”Peredarannya ilegal, jadi sasarannya penyalahguna. Kalau di apotek ada, tapi itu yang asli dan berizin, pakai resep dokter,” ucap dia.

Di pasar gelap, Trihex dijual dengan harga Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu untuk satu stripnya. Harga ini jauh lebih tinggi ketimbang nilai yang dijual resmi di apotek. Suarningsih menyebut, trihexyphenidyl di apotek tak lebih dari Rp 20 ribu.

”Yang asli murah, tapi harus pakai resep dokter,” jelasnya.

32.400 butir obat yang diamankan berasal dari dua pengungkapan PPNS BBPOM dan kepolisian. Kasus pertama terjadi pada 31 Desember 2018. Sebanyak 13.400 butir diamankan petugas dari tangan pelaku berinisial SS.

Kasi Korwas PPNS Polda NTB Kompol Ridwan mengatakan, SS diduga sebagai pengedar. Dia merupakan orang kedua yang menerima 380 strip trihexyphenidyl dan obat dengan logo huruf Y sebanyak 12 kaleng.

”Satu kaleng itu berisi 800 tablet. Total dari tangan SS kita amankan 13.400 tablet,” kata Ridwan.

Untuk kasus kedua, petugas menangkap pelaku berinisial ABR dan SH. ABR diduga sebagai bandar, pemilik sekaligus penerima barang. Adapun SH diketahui berperan sebagai pengedar. Penangkapan keduanya dilakukan kemarin, sekitar pukul 11.00 Wita, dengan barang bukti 1900 strip atau setara 19.000 butir trihexyphenidyl.

”Untuk kasus kedua ini kita amankan juga uang Rp 25 juta,” ungkap Ridwan.

Kedua pengungkapan tersebut, kata Ridwan, masih dikembangkan jajarannya. Apalagi dari informasi di lapangan, ketiga pelaku sudah lama menjalankan bisnis ilegal berupa peredaran obat keras.

Modusnya, pelaku memesan barang dari Jakarta dan dikirim melalui jasa ekspedisi. Setelah barang tiba, sejumlah pengedar langsung datang menemui bandar atau pemilik barang untuk membeli trihexyphenidyl.

”Sudah bergerak (menjual) dari lima tahun ini. Wilayah edarnya cuma sekitar Kota Mataram saja,” beber Ridwan.

Atas perbuatan pelaku, mereka dijerat dengan Pasal 197 dan atau Pasal 196 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Jo Pasal 53 KUHP. Ancaman hukumannya paling lama 15 tahun penjara dengan denda Rp 1,5 miliar.(dit/r2)

Berita Lainnya

Penyidik Diminta Cari Pembanding Harga Terkait Kasus Korupsi Marching Band

Redaksi LombokPost

Pemilu, Polda Turunkan 9.600 Personel

Redaksi LombokPost

31 Kerapas Penyu Dimusnahkan

Redaksi LombokPost

Polisi Akhirnya Turun Tangan Tertibkan Galian C Ilegal

Redaksi LombokPost

Jaringan Irigasi Jangan Dikorupsi!

Redaksi LombokPost

Taufik Rusdi Terus Bernyanyi

Redaksi LombokPost

Jadi Kurir Sabu, Pasutri Terancam Tujuh Tahun Bui

Redaksi LombokPost

Jaksa Limpahkan Kasek dan Bendahara Terkait Dugaan Korupsi Dana BOS SMAN 1 Monta

Redaksi LombokPost

Pemalsuan Data Tes P3K Mencuat

Redaksi LombokPost