Lombok Post
NTB

Penggunaan Merkuri dan Sianida di NTB Sangat Mengkhawatirkan

SIDAK: Kadis Perdagangan NTB Hj Putu Selly Andayani meninjau penggunaan mercuri di lokasi tambang emas rakyat di Sekotong, Lombok Barat, Desember lalu.

MATARAM-Penggunaan merkuri dan sianida kian mencemaskan. Pemakaian bahan berbahaya itu semakin tidak terkendali, khususnya di lokasi Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Lombok dan Sumbawa.

Berdasarkan hasil sidak tim terpadu Pemprov NTB, Desember lalu, warga dengan bebas menggunakan merkuri untuk mengolah emas gelondongan. Tim yang dipimpin Kepala Dinas Perdagangan Hj Putu Selly Andayani itu menemukan, para penambang menggunakan merkuri dan sianida sembarangan. Kondisi itu sangat membahayakan penambang dan warga sekitar. Sebab air bekas merkuri dibuang sembarangan.

Seperti di lokasi gelondong dan tong milik H Lalu Suherman, di Dusun Lendang Re, Desa Sekotong Tengah Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Lokasi itu merupakan tempat penyewaan pengolahan batu atau lumpur emas sampai menjadi emas. Proses dari gelondong, tong, pembakaran dan pengecoran merupakan tahap terakhir penentuan ada tidaknya emas yang didapat.

Harga sewa di lokasi itu antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per tong, tergantung isi dan hasil yang didapat. Bila tidak ada hasil maka tidak dibayar. Tim menemukan, bahan yang digunakan adalah potasium sianida dan karbon yang dibawa para penyewa. Kapasitas tong 150 karung lumpur, dengan penggunaan potasium sianida antara 5-7 kg per tong.

Haerudin, salah seorang penyewa tong mengatakan, proses pengolahan lumpur sampai mendapatkan emas butuh waktu dua hari dua malam. Sebagian lumpur emas dibawa dari Gunung Prabu, Lombok Tengah.

Ia mengaku, obat berupa potasium sianida dibeli di wilayah Sekotong dengan harga Rp 80 ribu per kg. Ada juga yang membeli di distributor PT Inti Alam Kimia di Gerung, Lombok Barat. Dalam sidak itu, tim menemukan, pembuangan limbah dalam kubangan yang merembes menuju ke rawa-rawa yang ada di pinggir laut.

Pengawasan juga dilakukan di lokasi gelondong milik Munakip.di Dusun Pelangan Timur, Desa Pelangan Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Staf Desa Pelangan I Wayan Suku Sarana menerangkan, batu emas diperoleh dari Gunung Simba.

Proses gelondong memerlukan waktu 10 hingga 11 jam. Penggunaan merkuri sekitar 0,5 kg per 1 gelondong. Harga merkuri Rp 1,5 juta per kg. Merkuri dibeli dari pedagang keliling yang membawa sekitar 6 kg merkuri.

Penggunaan merkuri hanya untuk gelondong yang terindikasi mengandung emas. Biasanya sekitar 3-4 gelondong. Sedangkan yang lain hanya digelondong untuk menghasilkan lumpur untuk dibawa dan diolah di penyewaan tong.

Di wilayah Desa Pelangan banyak terdapat gelondong, sedangkan tong hanya ada di 10  lokasi. Harga sewa tong tergantung banyak sedikitnya emas yang didapat.

Dalam sidak itu, Kadis Perdagangan NTB Hj Putu Selly Andayani mengingatkan, bahaya penggunaan merkuri dan sianida (B2). Bahaya dari segi kesehatan manusia dan bisa merusak lingkungan. Warga yang pertama merasakan dampaknya adalah kepada pemilik gelondong atau tong dan masyarakat sekitarnya.

Warga Diserang Gatal-gatal

Sekretaris Camat Sekotong Lalu Pardita Utama menjelaskan, penambang sudah mulai berkurang di Sekotong, kecuali di daerah Pelangan yang masih marak. Itu karena para penambang sudah kekurangan modal. Di samping itu, dampak negatif tambang ilegal sudah kelihatan. Seperti banyak pohon-pohon yang mati dan masyarakat sudah mulai terkena penyakit seperti gatal-gatal.

Selly menjelaskan, Tim Terpadu Satgas Pengawasan Peredaran Mercury dan Sianida NTB telah melakukan pengawasan peredaran merkuri dan sianida di Sumbawa Barat dan Sumbawa. Terakhir mereka melakukan pegawasan ke distributor B2.

                Ia mengingatkan, Presiden Joko Widodo melarang penggunaan merkuri dalam pertambangan. Tapi masyarakat tidak tahu merkuri sudah mencemari lingkungan di sekitar operasional tambang tersebut. ”Kami hanya  melakukan pengawasan peredaran bahan-bahan berbahaya seperti merkuri dan sianida, bukan untuk penertiban tambang tanpa izin,” ujar Selly.

Tim juga memeriksa distributor merkuri dan sianida di Mataram. Seperti PT Sumber Hidup Chemindo di Jalan Brawijaya. Selly mengingatkan kepada para distributor tidak menjual merkuri dan sianida tanpa izin. “Sebelum ada rekomendasi perusahaan dilarang mengedarkan ke masyarakat,” tegasnya. (ili/r7)

Berita Lainnya

Sumbawa Akhirnya Nikmati Elpiji Subsidi

Redaksi LombokPost

Dirut PT GNE Dicopot

Redaksi LombokPost

Mentan Tetapkan Wabah Rabies di Pulau Sumbawa

Redaksi LombokPost

Gubernur Kantongi Dua Nama Calon Kepala Biro

Redaksi LombokPost

Penutupan Pendakian Rinjani Bisa Lebih Lama

Redaksi LombokPost

Perdagangan Ilegal Ancam Satwa NTB

Redaksi LombokPost

Jangan Endapkan Dana Desa!

Redaksi LombokPost

Pemprov Ikat Bupati dan Wali Kota Wajib Jalankan Program Zero Waste

Redaksi LombokPost

Ayo Liburan ke Pulau Moyo!

Redaksi LombokPost