Lombok Post
Giri Menang

Tagihan Membengkak, Pak Kades Protes

DINILAI TAK MASUK AKAL: Inilah tagihan rekening air pihak Desa Sekotong Tengah berjumlah 1,5 juta untuk pembayaran air PDAM selama enam bulan.

GIRI MENANG-Kepala Desa Sekotong Tengah Lalu Sarapudin melakukan protes terhadap PDAM Giri Menang. Lantaran, tagihan rekening air PDAM Kantor Desa Sekotong Tengah dinilai tidak masuk akal. Ditambah, kondisi distribusi air beberapa bulan terakhir juga sering mengalami gangguan.

“Air PDAM itu netesnya pukul 03.00 malam. Paling cepat pukul 01.00 malam. Sehingga masyarakat nggak mungkin nunggu, maka dibukalah kerannya,” beber Lalu Sarapudin.

Kondisi keran dalam keadaan terbuka inillah yang kemudian diangggap masuk dalam hitungan pembayaran. Padahal, kondisi keran yang terbuka diungkapkan Lalu Sarapudin hanya mengelurakan angin.

Selain itu, masyarakat juga diwajibkan membayar denda tiap bulan. Meski sejak Agustus lalu, air PDAM diungkapkan Sarapudin kerap mengalami gangguan.“Yang saya sayangkan juga kami bayar tagihan air PDAM sampai Rp 900 ribu per bulan. Ini kami pertanyakan kejelasan mekanisme pencatatan airnya. Karena biasanya kita bayar Rp 50 ribu-100 ribu,” sesalnya.

Sarapudin merasa selama air PDAM macet, justru pembayaran lebih mahal. Keluhan ini pun sudah beberapa kali disampaikan ke pegawainya. Namun responsnya terkesan mengabaikan aspirasi masyarakat Sekotong Tengah. Sehingga Sarapudin berharap Dirut PDAM Giri Menang bisa turun langsung mengecek kondisi air warga di wilayah Sekotong. “Karena airnya sedikit tapi bayarnya mahal,” bebernya.

Lalu Sarapudin berharap pihak PDAM bisa memberi penjelasan atas kondisi ini. Jika tidak, ia mengaku bersama warga akan menggelar aksi unjuk rasa protes atas layanan PDAM Giri Menang.

Terpisah, Direktur PDAM Giri Menang Lalu Ahmad Zaini menanggapi keluhan Kades Sekotong Tengah. Ia menjelaskan semua berawal dari adanya petugas PDAM yang mau memutuskan sambungan pipa PDAM di Kantor Desa Sekotong Tengah. Akibat pemerintah desa sudah menunggak tagihan PDAM selama enam bulan. Namun, agar sambungan tidak diputus, pemerintah desa membayar di tempat untuk tagihan enam bulan.

“Tagihan untuk Agustus itu memang Rp 932 ribu. Karena pemakaiannya tinggi. Tapi di bulan berikutnya justru ada yang Rp 35 ribu. Ini bisa jadi kadang-kadang pada bulan tertentu, pelanggan lupa menutup kerannya,” papar Zaini.

Terlebh jika melihat kondisi fluktuasi angka di meteran air yang ada. “Namun pada saat itu kami tidak bisa pungkiri angka meteran air penggunaannya sampai 153 meter kubik. Kesalahan pelanggan tidak menutup keran atau yang lainnya tidak bisa kemudian dibebankan pada kami,” lanjutnya.

Zaini memaparkan itu terbukti jika pelanggan disiplin, maka tagihan listrik akan turun. Tolak ukurnya misalnya di Bulan Desember lalu. Tagihan air di Kantor Desa Sekotong Tengah hanya Rp 30.500. Sehingga, PDAM Giri Menang dijelaskan Zaini hanya berpatok pada angka di meteran air yang terpasang.

 “Meterannya tidak akan berputar kalau yang keluar hanya angin. Meteran ini sudah didesain berputar kalau yang keluar itu air,” tegasnya.

Sehingga ia membantah anggapan, tagihan air justru meningkat di saat air mengalami gangguan. Terkait rencana aksi unjuk rasa sejumlah warga Desa Sekotong Tengah, Zaini mengaku siap memberikan penjelasan. “Nggak apa-apa (aksi unjuk rasa, Red). Kami akan jelaskan berdasarkan data,” jawabnya. (ton/r5)

Berita Lainnya

Dukung Jokowi, Kades Bagik Polak Dipanggil Bawaslu

Redaksi LombokPost

Nasdem Incar Kursi Pimpinan Dewan

Redaksi LombokPost

Pembeli Gerabah Masih Sepi

Redaksi LombokPost

Target Datangkan 600 Ribu Wisatawan

Redaksi LombokPost

Ingin Lepas Label Daerah Tertinggal

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Senggigi Terlupakan

Redaksi LombokPost

Panen Gabah Meningkat, Harganya Berlipat

Redaksi LombokPost

GMS Kumuh dan Tak Terurus

Redaksi LombokPost

Dana Bantuan Sulit Cair, Ini Penjelasan BPBD Lobar

Redaksi LombokPost