Lombok Post
Catatan Redaksi

Masuk Tahun ke-20, Penghasilan Tertingginya Rp 1 Juta Sebulan

TAK KENAL LELAH: Hamidah, warga Kelurahan Selagalas, Kota Mataram ini tak kenal lelah memecah batu-batu Sungai Jangkuk yang telah menjadi pekerjaannya selama puluhan tahun, kemarin (10/1).

Ekonomi Kota Mataram memang sedang bagus. Tapi, itu hanya data Badan Pusat Statistik (BPS). Tertuang di atas kertas. Fakta di lapangan, ada kesenjangan yang begitu renggang. Hamidah contohnya.

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

Hamidah kini berusia 40 tahun. Separo dari hidupnya itu, ia habiskan untuk bekerja. Kerjaan yang tidak biasa. Berat. Bahkan sangat berat untuk ukran wanita. Memecah batu!

Setiap hari, Hamidah mengumpulkan batu di Sungai Jangkuk. Batu berukuran besar itu kemudian ia pecah menjadi ukuran krikil. Lalu, dikumpulkan dan dijual.

Dari sanalah Hamidah bisa bertahan hidup. Modalnya hanya tenaga dan palu. “Hanya ini yang bisa kami manfaatkan buat cari makan,” tegasnya sambil memecahkan batu-batu itu.

Hamidah bersyukur, kerja kerasnya membuahkan hasil. Anaknya bisa duduk di bangku sekolah. “Itu yang paling saya syukuri. Paling tidak, dua anak saya nanti tidak bodoh seperti saya. Mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak,” ungkapnya.

Dalam sehari, Hamidah bisa memecah ratusan batu. Kemudian menjadi krikil dan dimasukkan ke dalam karung. Satu karung krikil kemudian ia jual seharga Rp 35 ribu. “Saya juga jual pasir. Biasanya kalau orang beli pasir, kami tawarkan satu atau dua karung buat beli kerikil. Dan Alhamdulillah mereka mau,” jelas Hamidah.

Selama 20 tahun bekerja sebagai pemecah batu, penghasilan Hamidah tak menentu. Pendapatan terkecilnya dalam sebulan Rp 200 ribu. “Kalau paling besar, Alhamdulillah bisa Rp 1 juta,” tuturnya penuh syukur.

Aktivitas memecah batu ia lakukan setiap hari. Mulai dari jam enam pagi hingga jam satu siang. Jika ada pesanan banyak, biasanya sampai jam lima sore. Makan dan Salat pun di tempat memecah batu.

“Suami saya yang menambang pasir dan batu yang saya pecahkan ini,” terangnya.

Ia bercerita, jika memasuki musim hujan seperti ini. Waspada harus ditingkatkan. Sebab pernah aliran air Sungai Jangkuk meluap dan itu membuat semua batu kerikil dan pasir juga ikut terbawa arus.

“Makanya dari pengalaman itu, kalau batu sudah selesai dipecahkan, kami kumpulkan ke pinggir kali atau naikkan ke atas langsung,” kata Hamidah.

Sementara saat musim kemarau tiba, air Sungai Jangkuk biasanya berbau. Dan itu terkadang membuat penambang pasir dan batu terserang gatal-gatal. (*/r5)

Berita Lainnya

Aprilia Andriana, Petugas PPS yang Melahirkan karena Kelelahan Bekerja

Redaksi LombokPost

Suara Dua Caleg Dinyatakan TMS

Redaksi LombokPost

PKL Semrawut Rusak Estetika Kota

Redaksi LombokPost

Bantu Bersih-bersih Pantai

Redaksi LombokPost

Tim Muay Thai NTB Masuk Zona Neraka Pra-PON

Redaksi LombokPost

Kecamatan Pemenang Prioritaskan Program Berbasis Mitigasi Bencana

Redaksi LombokPost

Jayakarta, Hotel Tepat Untuk Momen Kasih Sayang

Redaksi LombokPost

NTB Harus Lebih Kreatif Kembangkan Produk Wisata Halal

Redaksi LombokPost

Awas, Garong Masuk Kampus!

Redaksi LombokPost