Lombok Post
Metropolis

Pendapatan Meningkat, Ekonomi Menggeliat

BERBURU KEBUTUHAN: Seorang wanita mendorong kereta bayi di Lombok Epicentrum Mall, pusat perbelanjaan terbesar di Kota Mataram, Rabu (9/1). Pertumbuhan ekonomi di daerah ini membuat LEM selalu ramai didatangi konsumen.

MATARAM-Pertumbuhan ekonomi Kota Mataram mencatatkan tren membanggakan. Di atas rata-rata nasional melesat dari 8,07 persen menjadi 8,17 persen. Angka ini melesat naik di atas rata-rata nasional. Bahkan masuk dalam terbaik ke tiga se Indonesia.

Data ini sesuai dengan hasil dari peritungan Badan Pusat Statistik (BPS). “Ya itu sesuai dengan data kita sampai bulan Maret 2018,” kata Kepala BPS Kota Mataram Isa Ansori.

Sekalipun belakangan ada beberapa suara sumbang dari beberapa pelaku usaha. Terutama yang mengeluhkan penurunan drastis kunjungan masyarakat ke pusat-pusat perbelanjaan. Tetapi data statistik ini seperti membalik persepsi. Nyatanya ekonomi kota bahkan bisa merangkak naik 10 persen dari tahun lalu.

“Ini membuktikan kota tumbuh dengan baik,” kata Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh.

Di tengah hiruk-pikuk tentang daya beli masyarakat yang dinilai lemah. Ia yakin para pengusaha sudah punya strategi jitu. Mendorong lagi minat masyarakat memadati pusat-pusat perbelanjaan di ibu kota. Salah satunya seperti dengan memberikan diskon yang menarik.

Selain itu, ada faktor investasi yang tumbuh subur juga di ibu kota. Lalu membawa efek domino bagi pergerakan ekonomi dan perputaran uang di ibu kota.

“Investasi tumbuh dengan subur lalu mendorong terbukanya lapangan pekerjaan yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Ahyar.

Adanya pekerjaan yang layak mempengaruhi pula kemapuan daya beli masyarakat. Roda ekonomi pun bisa berputar lebih baik lagi dan mengurangi kesenjangan ekonomi di tengah masyarakat kota.

“Makanya kita kemarin terus mengupayakan agar revisi RTRW bisa segera tuntas ya tujuannya adalah membuka ruang investasi di kota,” ulasnya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Mataram Iwan Harsono melihat, tidak hanya pasar konvensional dan modern yang menggeliat. Tetapi industri kreatif ala milenial juga telah menjadi ruang kerja baru yang tak kalah menjanjikan.

Menyerap tenaga-tenaga kreatif yang selama ini belum bisa terserap maksimal melalui lowongan kerja di perusahaan-perusahaan. “Industri kreatif melalui platform kecanggihan teknologi sangat luar biasa menyerap tenaga kerja,” kata Iwan.

Seorang pembuat aplikasi google play bisa mengantongi jutaan rupiah dalam sehari. Ia mencontohkan seperti anaknya yang membuat aplikasi edit foto Cupace. Dalam sehari rata-rata pendapatannya Rp 1 juta. Bahkan dalam sebulan bisa tembus Rp 39 juta.

“Dan peluang pendapatan berpotensi naik sekitar 25 persen per bulan,” contohnya.

Bisa dibayangkan jika seorang pelaku industri kreatif milenial mempekerjakan dua sampai tiga orang. Sementara Iwan yakin tidak hanya anaknya yang telah memanfaatkan pesat dan majunya teknologi masa kini. Tetapi ada puluhan bahkan ratusan pemuda daerah lainnya yang telah diam-diam atau secara terbuka merambah peluang ini.

“Belum lagi mereka yang memanfaatkan jual beli secara online atau daring,” ulasnya.

Perkembangan teknologi digital sejatinya tidak mematikan sektor ekonomi konvensional. Yang telah banyak dikenal selama ini. Tetapi justru menjadi ladang baru di tengah populasi penduduk yang terus meningkat dan terbatasnya lowongan kerja di perusahaan-perusahaan yang ada.

“Masa depan harus dilihat dengan penuh optimisme dan keyakinan. Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan,” tandasnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Maret, PNS Baru Mulai Bekerja

Redaksi LombokPost

Pengangkatan P3K Menunggu Juknis

Redaksi LombokPost

Kadishub Baru Diminta Selesaikan Masalah Parkir

Redaksi LombokPost

Mataram Butuh Rp 60 M Lagi

Redaksi LombokPost

Sistem Pendidikan Sudah Kuno?

Redaksi LombokPost

Dewan Goyang PDAM Lagi

Redaksi LombokPost

Irwan Digeser, Mahmmudin Jabat Asisten II

Redaksi LombokPost

Bayar Upeti, PKL Dilindungi

Redaksi LombokPost

Rumah Rusak Sedang dan Ringan Menunggu Bantuan

Redaksi LombokPost