Lombok Post
Metropolis

Sistem Pendidikan Sudah Kuno?

Pujiarohman

MATARAM-Heboh video mesum sepasang pelajar SMA di Kota Mataram diketahui telah beredar lama. Dikirim secara berantai dan tersimpan dalam telepon pintar siswa.

Aktivis Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB Joko Jumadi bahkan menyebut video itu sudah beredar sejak tiga bulan lalu. “Ini kasus sudah tiga bulan lalu,” kata Joko pada Lombok Post.

Selama itu pula, video ini ‘dikonsumsi’ dan mempengaruhi pelajar ibu kota. Video ini tidak hanya mencoreng nama baik pendidikan Kota Mataram. Tetapi juga meresahkan banyak pihak. Terutama para orang tua yang khawatir prilaku anaknya terpengaruh oleh video itu.

Joko sendiri melihat tidak ada cara lain membentengi anak didik. Kecuali menengok kembali seperti apa dunia penididikan selama ini. “Dunia pendidikan harus diperbaiki,” harap Joko.

Sekolah menurutnya harus membangun sistem pendidikan yang melibatkan keluarga dan lingkungan. Tiga wilayah ini menurutnya saling keterkaitan. Dalam membangun benteng pertahanan kokoh bagi anak didik.

Joko sendiri tidak mengetahui secara persis nasib kedua anak dalam video itu. Namun ia sempat mendengar jika salah satu diantaranya di bawa ke luar daerah.

Sementara peredaran video sendiri tidak banyak hal yang bisa dilakukan untuk membatasinya. Sejauh ini pihak LPA memilih untuk tidak membahas persoalan ini agar tidak semakin menyebar luas. Tapi Joko juga menyadari sekalipun tidak dibahas, rekamannya telah beredar di telepon pintar siswa secara berantai.

“Betul (terus beredar). Sulit kita menghentikan (peredaran) kalau itu,” ungkapnya.

 

Sistem Pendidikan Sudah Tidak Relevan

Psikolog Anak Pujiarohman melihat hal ini terjadi kerena sistem pendidikan yang ada saat ini tidak relevan lagi dengan keadaan generasi saat ini. Zaman sudah sangat maju. Terutama dari sisi teknologi informasi.

Tapi materi yang ada dalam dunia pendidikan belum juga mampu mengakomodir perkembangan zaman. Masih berkutat pada hal-hal normatif yang tidak berimplikasi langsung pada daya tahan anak-anak terhadap perkembangan zaman.

“Ini seperti pertarungan era milenial dengan sistem pendidikan yang ada,” kata Puji.

Nilai pendidikan yang ada terkesan gagap. Sehingga pelajaran yang didapat dari bangku sekolah gagal jadi benteng anak-anak agar tidak terjebak dalam prilaku sosial dan moral yang menyimpang. Dunia pendidikan dengan sistem yang dibangun saat ini tidak berhasil mengubah tabiat dan prilaku anak-anak untuk menjadi lebih baik.

Ia mencontohkan prilaku narsistik yang belakangan mulai terlihat di era milenial. Tidak dibahas secara koperehensif di dalam kurikulum pendidikan. Sehingga anak-anak pun sulit dapat gambaran tentang bahaya buruk dari prilaku jiwa yang narsis.

“(Buat video mesum) juga ciri orang nasristik,” imbuh Psikolog Nusa Tenggara Nusantara.

Begitu juga tentang fakta dunia sosial media. Dalam materi dunia pendidikan yang ada, praktek sosial yang dicontohkan masih lebih banyak membahas tentang prilaku sosial di kehidupan nyata. Padahal diakui atau tidak, interaksi sosial di dunia maya saat ini pun sudah sangat masif.

Riset bisa dilakukan dengan mebandingkan antara seberapa banyak seorang anak di depan telepon pintar dengan berinterkasi langsung dengan temannya.

“Sosmed juga punya efek langsung pada kepribadian seseorang, (tidak lagi hanya interaksi sosial di kehidupan nyata),” ulasnya.

Frekuensi nilai sosial dan agama di media sosial pun sangat sedikit. Padahal media sosial telah mengambil porsi interaksi sosial kehidupan nyata seorang anak. Alhasil, anak-anak pun lebih banyak menyerap hal-hal negatif di media sosial. Ini kemudian berdampak pula pada prilaku mereka dikehidupan nyata.

“Iya betul (ajaran sosial dan agama dikesampingkan),” terangnya.

Bisa karena Broken Home

Terpisah Psikolog sekaligus Praktisi Kesehatan Holistik Ika Shinta Sari mengatakan, apa yang dilakukan siswa tidak lepas dari pergeseran nilai-nilai budaya secara global. Perilaku ini bisa datang dari ketahanan keluarga yang tidak bagus. Entah itu broken atau keluarganya tidak lengkap.

Selain itu, faktor komunikasi antara orang tua dan anak satu arah. Tidak pernah mendengarkan apa yang menjadi keluhan anak. “Biasanya hal seperti ini terjadi karena orang tua sibuk. Sehingga anak-anak memilih jalannya sendiri,” sebut perempuan berjilbab ini.

Kini, kata Shinta, anak usia delapan tahun sudah bisa haid karena dipengaruhi tontonan. Perkembangan teknologi membuat anak-anak dengan mudah mengakses berbagai tontonan. Entah itu adegan ciuman atau pun berpelukan. Adegan-adegan seperti ini akan membuat anak bergairah, sehingga mereka akan cepat haid. “Kalau dulu anak haid di umur 14 tahun,” sebut perempuan berjilbab ini.

Di satu sisi, pendidikan zaman sekarang tidak seperti dulu. Kini, dalam proses pembelajaran guru hanya sebatas mengajar, tidak mendidik. Guru lebih disibukkan mengurus akreditasi, sertifikasi, pelatihan, dan berbagai kegiatan lainnya. “Kalau dulu guru tidak hanya mengajar, namun juga membentuk akhlak anak,” sebutnya.

Mesum dilakukan di kalangan pelajar ini  bisa jadi untuk mencari jati diri. Di usia yang masih labil, anak akan mencoba segala sesuatu meski itu salah. Lebih lebih jika ada dorongan biologis.

Tidak hanya mesum, namun LGBT juga banyak ditemui. Saat ini sesama lelaki sudah mulai berani ciuman di depan umum. Begitu juga dengan sesama perempuan saling meremas payudara. Dulu kata dia,  hal seperti ini dianggap tabu, namun kini menjadi hal yang biasa.

Bukan Berarti Program Imtak Gagal

Sementara Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana ikut prihatin dengan persoalan ini. Ia mengakui ini kembali jadi tamparan keras bagi dunia pendidikan saat ini. “Ini tamparan keras bagi pendidikan kita,” sebut Mohan.

Namun ia memandang kasus video mesum pelajar SMA ini bukan sebagai pertanda program Iman dan Takwa (Imtak) yang digelar sekolah gagal. Tapi ini merupakan efek dari pesatnya perkembangan teknologi informasi. Tidak hanya hadir dengan sisi positif dan kemudahan dalam berinteraksi.

“Tapi ini juga bukti dampak negatif dari teknologi,” sesalnya.

Apalagi frekwensi imtak di dalam sekolah juga tidak begitu banyak. Sehingga daya tahan siswa pun belum sebanding dengan gempuran informasi. Harus diakui lanjut Mohan imtak sebenarnya sudah cukup berhasil. Membangun mental dan akhlak anak didik.

“Jangan sampai hanya karena satu dua kasus itu lalu kita menganggap imtak gagal, saya rasa tidak begitu,” tegasnya.

Mohan lebih setuju program imtak yang ada disekolah semakin diperkuat. Entah dengan menambah frekewensinya atau dengan pola lain. Sehingga memungkinkan itu bisa jadi daya tahan siswa. Melawan berbagai macam informasi yang bebas masuk dan mempengaruhi mereka.

“Misalnya dengan mensinergikan kegiatan sekolah dengan keluarga dan lingkungan,” ujarnya.

Lepas dari itu, Mohan mengingatkan dunia anak-anak dan remaja adalah masa pencarian jati diri. Mereka masih sulit mengerti pentingnya nilai sosial, budaya, dan agama. Tetapi condong senang untuk mencari perhatian dan pengakuan diri atas keberadaan dirinya.

“Sayangnya pengakuan itu ada yang didapat dengan cara yang salah misalnya dengan membuat sensasi yang justru merugikan masa depannya,” tandansnya.

Sudah Selesai Secara Kekeluargaan

Kabid Pembinaan SMA Dikbud NTB Surya Bahari menegaskan, kasus video mesum siswa yang beredar ini sudah diselesaikan pihak keluarga. Pihaknya sudah memanggil kepala sekolah untuk dimintai keterangan. Ia meminta sekolah agar segera menyelesaikan permasalahan ini. “Ini sudah diselesaikan pihak sekolah,” sebut Surya.

Diutarakan, video ini terjadi beberapa bulan lalu. Hanya tersebar baru-baru ini. Kendati demikian sudah diselesaikan pihak sekolah bersama oramg tua dengan cara kekeluargaan. Guna menyelamatkan pendidikan siswa yang duduk dikelas XII, pihak sekolah mencarikan sekolah untuk melanjutkan. “Kalau RN sudah pindah ke Lobar. Sementara NN di Mataram,” sebutnya.

Sementara itu pihak sekolah enggan komentar terkait kasus ini. Hanya saja pihaknya mengaku masalah ini sudah selesai. Video ini terjadi pada November lalu dan sudah diselesaikan secara kekeluargaan. (zad/jay/r5)

Berita Lainnya

Hadapi Kekeringan dengan Sumur Dangkal

Redaksi LombokPost

Jangan Jadi Generasi Pil Koplo!

Redaksi LombokPost

Kalau Begini kan Enak! Trotoar Jembatan Jangkuk Steril dari Motor

Redaksi LombokPost

Mataram Butuh Pemimpin Tegas

Redaksi LombokPost

Cerita Agus Fahrul, Membawa Ratusan Anak Yatim Piatu Belanja Baju Lebaran

Redaksi LombokPost

Daging Impor Serbu Mataram

Redaksi LombokPost

CJH Meninggal Diganti Ahli Waris

Redaksi LombokPost

Pemkot Usulkan 300 Formasi CPNS

Redaksi LombokPost

Bisa Membangun, Tak Bisa Merawat!

Redaksi LombokPost