Lombok Post
Headline Politika

Zakiy Mubarok, Bangun Kesadaran Kolektif Pentingnya Politik

Pemilu 2019 segera tiba. Momen ini menjadi medan pertarungan tak hanya  bagi para incumbent, para calon anggota legislatif (Caleg) pendatang baru juga menawarkan gagasan berbeda. M Zakiy Mubarok misalnya. Politisi muda Parta Demokrat ini maju menuju Udayana melalui Dapil Kota Mataram. Seperti apa yang ditawarkan, berikut wawancara singkat Lombok Post Online dengannya.

 

Apa yang melatarbelakangi Anda menjadi caleg?

Tanggungjawab. Sebagai kader partai politik, saya terpanggil untuk menyediakan diri  menjalankan sedikitnya tiga peran dan fungsi politik. Yaitu, mendengarkan, menyuarakan, dan mewujudkan (3M) kepentingan bersama.  Ketiga peran dan fungsi itu akan optimal dilakukan jika kita dapat mengintervensi kebijakan yang telah dan akan dilaksanakan.

Intervensi ini dalam kerangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Begitulah sejatinya  demokrasi itu bekerja. Karena itu, dalam beberapa literatur disebutkan, demokrasi mensyaratkan hadirnya partai politik kuat, dan partai politik yang kuat dapat menghadirkan kesejahteraan masyarakat. Ini saya kira yang  harus diikhtiarkan.

 

Menjadi anggota legislatif itu prosesnya ketat, apakah Anda punya strategi khusus untuk itu?

Sejauh ini saya hanya hadir untuk menstimulasi dan mengaktifkan kesadaran kolektif, pada masyarakat yang bisa terjangkau. Kesadaran kolektif tentang betapa pentingnya politik dalam kehidupan kita. Sebab dalam pandangan saya, politik adalah dapurnya kebijakan publik.

Dengan demikian, politik yang menentukan arah dari dinamika kehidupan masyarakat. Aktifnya kesadaran kolektif ini akan mengantarkan masyarakat untuk secara suka rela mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) 17 April 2019 nanti saat dimana masyarakat akan memutuskan pilihan politiknya terhadap siapa yang dianggap mampu mewakili harapan-harapan publik.

Ya, tentu saja saya berharap yang diputuskan untuk dipilih masyarakat adalah saya di daerah pemilihan tempat saya berkompetisi. Karena memang untuk itu saya  menawarkan diri hadir di Pileg 2019 ini … he .. he .. he ..

 

Tapi apakah rakyat saat ini sudah memiliki kemampuan cukup untuk memilih caleg berdasarkan kualitas?

Subsidi ilmu pengetahuan saat ini sudah sangat banyak instrumennya. Terlebih di era revolusi industri 4.0. Akses masyarakat ke sumber-sumber pengetahuan sudah sangat mudah. Hal ini berkonsekuensi pada makin meningkatnya kecerdasan masyarakat. Hari ini, saya menduga, masyarakat sudah bisa memilih mana informasi yang dapat menjaga akal sehatnya dan mana yang tidak. Masyarakat kita sekarang sudah pintar. Dan jangan pernah remehkan kecerdasan masyarakat, jika tak ingin tsunami politik terjadi.

 

Bagi Anda, mana yang lebih baik. Memilih caleg karena melihat partai atau integritas dan kompetensi caleg?

Partai politik, integritas, dan kompetensi Caleg, adalah tiga unsur yang sama-sama penting dalam proses politik. Sebab dalam batas tertentu,  partai politik adalah sumber ideologi Caleg. Integritas Caleg yang merawatnya, dan kompetensi Caleg yang menerapkan.

Sebut saja Partai Demokrat. Partai yang didirikan Susilo Bambang Yudhoyono ini memiliki Ideologi Nasionalis Religius. Turunannya, Caleg harus mampu memastikan agar ideologi Partai Demokrat tidak saja sejalan dengan harapan masyarakat, tetapi juga menjadi pendorong perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Caranya, Caleg harus menjaga integritas dan terus meningkatkan kapasitasnya. Prinsipnya, jangan menjadi Caleg sepertiga, alias hanya memiliki salah satu dari ketiganya.

 

Faktor apa yang paling dominan dimiliki para caleg untuk terpilih?

Menurut saya antara lain beberapa hal yang sudah kita singgung tadi. Seperti, keseriusan Caleg dalam menjalani proses politik Pemilu, partai politik Caleg, integritas, kompetensi dan kualitas Caleg. Sedangkan faktor strategi dan taktik hanyalah konten politik. Caleglah yang memberi konteks dari konten tersebut sesuai kreatifitas politiknya masing-masing.

Sekali lagi, tujuan dari kreatifitas itu untuk menghadirkan kesadaran kolektif tentang pentingnya politik bagi kehidupan masyarakat. Intinya, masyarakat akan memilih, jika kesadaran kolektif itu tumbuh dan hadir. Jika masyarakat masa bodoh dengan politik, maka mereka pasti enggan hadir ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menyalurkan aspirasi politiknya dalam rangka memilih siapa Caleg yang dibutuhkan oleh sejarah.

 

Apa pendapat Anda secara umum, tentang kompetisi antar para caleg pada Pileg 2019, sehat atau tidak?

Caleg memiliki kewajiban untuk menghadirkan kompetisi yang harus sehat di tengah-tengah masyarakat. Mengapa, karena Caleg adalah salah satu etalase partai politik khususnya, dan politik secara umum. Pandangan pertama  masyarakat pemilih sudah terbentuk ketika mereka melihat etalase.

Di etalase inilah masyarakat pemilih pertama kali melihat konten politik. Disinilah letak apakah pandangan pertama itu menggoda atau tidak. Sebab setelah itu,  masyarakat lah yang menentukan sepenuhnya. Artinya, jika yang tersaji di etalase politik justeru memunculkan sikap alergi pada nasyarakat terhadap politik, yang salah satunya disebabkan karena perilaku politik Caleg yang tidak memberikan pendidikan politik, bagaimana kita bisa berharap masyarakat pemilih memiliki niat untuk ingin mengetahui lebih dalam lagi? Dan bagaimana pula Caleg bisa menghadirkan energi pemantik yang dapat melahirkan kesadaran kolektif masyarakat. Yang pada gilirannya, bukan hanya Caleg, Politik pun tak lagi menjadi barang mewah yang diperebutkan.

 

Setiap orang yang ingin sukses sebagai pemenang dalam kompetisi, pasti memiliki “modal” . Modal apa yang Anda miliki?

Yang pasti modal spiritual dan modal sosial. Tuhan memberi cara kepada hambanya untuk meminta melalui doa. Saya senang dengan ungkapan mengetuk langit agar pintu bumi terbuka. Dan tentu saja yang paling penting itu doa orang tua, plus dukungan keluarga, sahabat, kerabat dan tetangga terdekat. Terlebih basis tumbuh kembang saya selama ini adalah di Kota Mataram. Persemaian saya dengan banyak pihak di kota yang maju, religius, dan berbudaya ini sudah cukup untuk mengantarkan saya ke kursi DPRD NTB 2019 nanti, insyaaALLOH.

 

Jika Anda terpilih sebagai anggota legislatif, apa agenda prioritas saudara?

Isu mainstream kita hari ini adalah generasi milenial dan ancang-ancang bonus demografi. Memberikan perhatian lebih kepada akselerasi keterampilan dan kemandirian kaum muda adalah kebutuhan sekaligus kewajiban.

Keterampilan dan kemandirian yang ditunjang pendidikan, menjadi prasyarat penting agar generasi muda dapat beradaptasi dengan perubahan sekaligus mengarahkan perubahan itu sendiri. Melalui keterampilan dan kemandirian yang dimiliki, generasi muda kita akan dapat terserap sekaligus menciptakan lapangan kerja di berbagai sektor.

Seperti sektor pariwisata, pertanian, peternakan, pertambangan, industri dan perdagangan, serta sektor sektor lainnya yang mampu meningkatkan kesejahteraan mereka. Disamping itu, turut mendorong tumbuh dan berkembangnya sektor-sektor usaha kecil, menengah dan koperasi. Turut membangkitkan gerakan civil society melalui penguatan komunitas-komunitas potensial yang makin cerdas dan terdidik secara  manajerial. Serta memfasilitasi ruang-ruang yang mampu mamfasilitasi kreatifitas kaum perempuan dan remaja.

 

Menurut Anda, apakah hubungan legislatif dan ekskutif saat ini berjalan baik?

Baik atau tidaknya sebuah hubungan, biasanya diukur pada tingkat harmonisasi. Jika melihat harmonisnya hubungan eksekutif dan legislatif selama ini, nampaknya terlihat berjalan baik. Ini patut kita syukuri, semoga hubungan yang baik secara institusional ini dapat terus dijaga demi kepentingan masyarakat yang lebih luas. Sebab pemerintahan daerah ini dapat bekerja dengan maksimal, jika harmonisasi terjadi di  tiga titik sentral (legislatif, eksekutif dan masyarakat) ini.

 

Secara pribadi, apakah Anda memiliki konsep tentang penguatan kelembagaan DPRD, seperti apa?

Kedepan legislatif harus lebih banyak melibatkan publik dalam menjalankan ketiga fungsinya yang melekat yaitu, kontrol/pengawasan eksekutif, penganggaran, dan penyusunan peraturan daerah. Pelibatan ini penting agar secara kelembagaan DPRD memiliki bahan dan data yang kuat berdasarkan aspirasi masyarakat dalam menjalankan kinerjanya. Seperti yang saya katakan diawal tadi, lebih banyak mendengar, menyuarakan, dan mewujudkan aspirasi rakyat. InsyaaALLOH.

 

Pendapat Anda, apa kekurangan dan kelemahan legislatif selama ini?

Tunggu saya jadi Anggota DPRD NTB 2019 – 2024. Saat ini saya belum bisa memberikan jawaban yang pas atas pertanyaan ini. Karena saya memiliki pengalaman yang cukup dalam kegiatan penelitian. Kebetulan saya belum pernah secara khusus meneliti soal kinerja DPRD, khususnya DPRD NTB. Tak elok saya menilai dari luar sementara secara kasat mata kawan kawan yang saat ini sedang berada di dalam (Anggota DPRD NTB) tengah bekerja siang dan malam. Apalagi penilaian saya ini nantinya terlalu spekulatif karena semata-mata didasarkan pada asumsi.

 

*BIODATA*

Nama :  Mohamad Zakiy Mubarok 

Pengalaman Organisasi

– Sekretaris Umum Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Provinsi Nusa Tenggara Barat 

– Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Nusa Tenggara Barat

– Anggota Majelis Pemuda Indonesia (MPI) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Nusa Tenggara Barat 

– Ketua Umum Gabungan Pemuda Pembangunan Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat

Jabatan Politik

– Direktur Eksekutif DPD Partai Demokrat Provinsi Nusa Tenggara Barat 2011-2016

– Ketua Divisi DPD Partai Demokrat Provinsi Nusa Tenggara Barat 2017 – skr 

– Peserta Pembekalan Tim Komunikator Politik DPP Partai Demokrat 2017 dan 2018

Berita Lainnya

PAD Lobar Turun Drastis

Redaksi LombokPost

Ojie: Pak Fahri minta Saya Aktif

Redaksi LombokPost

Siapa Berani Lawan Najmul?

Redaksi LombokPost

Golkar Belum Bisa Berpaling dari Dinda

Redaksi LombokPost

Ancang-ancang Winengan, Klaim Didukung Maju di Pikada Mataram

Redaksi LombokPost

Penyeberangan Kayangan-Poto Tano Kembali Normal

Redaksi LombokPost

Pilbup Sumbawa, Amin Tunggu Survei

Redaksi LombokPost

PKB Galang Dukungan Untuk Djohan

Redaksi LombokPost

Sidang Besok, KPU Pede dengan Alat Bukti

Redaksi LombokPost