Lombok Post
Headline Kriminal

Dorfin Felix, Bule Penyelundup Narkoba Kabur dari Polda NTB

BAWA NARKOBA: Dorfin Felix asal Prancis kedapatan membawa narkoba dengan berat total 3.194,57 gram yang berhasil diungkap tim gabungan di Bandara Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok Tengah, beberapa waktu lalu.

MATARAM-Rumah tahanan (Rutan) Polda NTB kebobolan. Tahanan kasus narkoba berkebangsaan Prancis, Dorfin Felix, kabur dari gedung yang dibangun dengan anggaran Rp 4,6 miliar, kemarin (21/1). Polisi mengklaim Dorfin melarikan diri setelah memotong jeruji besi di lantai dua.

Kabidhumas Polda NTB Kombes Pol Komang Suartana membenarkan kaburnya Dorfin. ”Memang benar (kabur). Lewat terali besi di lantai dua,” kata Suartana, kemarin.

Polisi telah menindaklanjuti kaburnya pria yang ditangkap tim gabungan medio September 2018. Suartana menyebut, Polda NTB telah memasukkan Dorfin ke dalam daftar pencarian orang (DPO). Identitasnya telah disebar ke Polda seluruh Indonesia.

Pengejaran juga dilakukan tim di Polda NTB. Kata Suartana, polres di wilayah berbatasan juga diminta untuk mengatensi pergerakan tersangka menuju ke luar wilayah NTB. ”Dari hasil penelusuran kita, tersangka masih ada di wilayah Lombok,” ujarnya.

Mengenai kaburnya Dorfin ke luar negeri, juga sudah diantisipasi. Polisi telah menjalin koordinasi dengan pihak Imigrasi. Selain itu, kaburnya Dorfin juga dilaporkan ke Mabes Polri untuk membantu penangkapan.

”Pencegahan ke luar (negeri) sudah, dengan Imigrasi. Mabes (Polri) juga sudah dilaporkan,” terang dia.

Mengenai cara kabur Dorfin, Suartana mengklaim tersangka kabur melalui lantai dua gedung Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dittahti), yang difungsikan sebagai rutan. Tersangka kabur setelah memotong terali besi di sebelah barat gedung. Setelah itu, Dorfin turun menggunakan lilitan kain yang diikat ke terali.

”Lewat terali besi. Kita masih selidiki,” jelas Suartana.

Klaim polisi mengenai lokasi kaburnya Dorfin berkebalikan dengan kondisi di lapangan. Di terali besi lantai dua sebelah barat, tak nampak adanya kerusakan akibat perbuatan Dorfin. Terali besi masih terpasang kokoh di tempatnya.

Informasi yang Lombok Post terima, Dorfin diduga kuat keluar tidak melalui lantai dua. Tetapi, ada dugaan keterlibatan orang dalam untuk meloloskan Dorfin dini hari, kemarin.

Mengenai keterlibatan anggota yang membuat Dorfin kabur, Suartana hanya berkomentar singkat. Dia mengatakan hal tersebut masih dalam penyelidikan Bidang Propam Polda NTB.

”Keterlibatan anggota kita lihat lebih lanjut. Kalau ada terbukti orang dalam (berperan), kita tindak tegas,” kata Suartana.

Gedung Dittahti memiliki tiga lantai. Dibangun menggunakan dana hibah sebesar Rp 4,6 miliar. Untuk tempat tahanan, gedung ini dibagi menjadi tiga blok. Dua blok berada di lantai satu untuk kasus narkoba dan kejahatan umum. Blok lainnya berada di lantai dua, berdampingan dengan ruang staf. Di lantai tiga digunakan untuk aula dan gudang.

Usai kaburnya Dorfin, Kapolda NTB Irjen Pol Achmat Juri melakukan inspeksi ke gedung Dittahti. Awak media yang mengetahui Kapolda mendatangi rutan langsung menunggu di dengan gedung Dittahti.

Namun, Kapolda nampaknya enggan menemui sejumlah media untuk menanggapi kaburnya Dorfin. Jenderal bintang dua tersebut memilih keluar melalui pintu belakang gedung Dittahti.

Sebelumnya, Dorfin tertangkap di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Lombok Tengah (Loteng), akhir September 2018. Yang bersangkutan merupakan kurir narkotika internasional.

Bukti kuat sebagai kurir internasional mencuat saat tim gabungan dari Bea Cukai dan polisi menangkap Dorfin. Pelaku mengemas dengan rapi narkoba yang dibawanya menggunakan dua koper.

Narkoba yang dibawa Dorfin berjenis methylenedioxy methamphetamine (MDMA) atau biasa dikenal sebagai ekstasi, amphetamine, hingga narkoba sintetik yakni ketamine. Barang haram senilai Rp 3,2 miliar dibawa Dorfin dari negara asalnya, Prancis.

Ketika menggeledah koper pelaku, didapati narkoba dengan berat total 3.194,57 gram. Rinciannya, 9 bungkus besar kristal berwarna cokelat diduga narkotika jenis MDMA seberat 2.477,95 gram; satu bungkus besar berupa bubuk putih diduga narkotika jenis ketamine seberat 206,83 gram; dan satu bungkus serbuk berwarna kuning dari jenis amphetamine dengan berat 256,69 gram.

Selain dalam bentuk bubuk, pelaku juga membawa narkotika dengan bentuk pil atau tablet diduga ekstasi sebanyak 850 butir. Dari jumlah tersebut, 22 butir adalah pil berwarna cokelat dengan bentuk tengkorak.

Dirresnarkoba Polda NTB Yus Fadillah menyebut Dorfin sebagai kurir narkoba professional lintas negara. Dia mendapat upah 5 ribu Euro untuk satu kali pengantaran atau sekitar Rp 85 juta.

Pelaku membawa barang tersebut langsung dari Prancis dengan tujuan Lombok. ”Direct ke Lombok. Barang dibawa dari negara asalnya. Sempat transit di Jerman dan Singapura,” kata Yus saat pengungkapan penangkapan pelaku.

Dorfin bukan kali pertama datang ke Indonesia. Sebelum tertangkap, yang bersangkutan telah empat kali masuk Indonesia. Ini berdasarkan catatan di paspor pelaku.(dit/r2)

Berita Lainnya

Kelelahan, Enam PPS Tumbang

Redaksi LombokPost

PSU Rentan Money Politic

Redaksi LombokPost

Kinerja Dewan Mengecewakan, Pembahasan Raperda Sangat Minim

Redaksi LombokPost

Dae Ade Tandatangan Kontrak, Dae Ferra Urus Proyek

Redaksi LombokPost

Jelang Ramadan, Polisi Persempit “Permainan” Tengkulak

Redaksi LombokPost

Telkomsel Optimalkan Jaringan di Lebih dari 1.400 Titik Penting

Redaksi Lombok Post

Gubernur: Jangan Ada Dendam Politik!

Redaksi LombokPost

Kepala Disnakertrans Paling Diminati

Redaksi LombokPost

Ratusan ASN Terjaring Razia Disiplin

Redaksi LombokPost