Lombok Post
Kriminal

Sindir Jokowi, Imran Ditangkap Polisi

DITANGKAP: Tim Resmob 701 Satreskrim Mataram menangkap pemilik akun facebook Imran Kumis karena dianggap mengunggah status ujaran kebencian, Sabtu (19/1).

MATARAM-Pemilik akun media daring Imran Kumis ditangkap tim Resmob Satreskrim Polres Mataram, Sabtu sore (19/1). Imran diduga melakukan tindak pidana yang berkaitan dengan ujaran kebencian berunsur SARA.

Penangkapan bermula dari status yang diposting Imran di akunnya. Pelaku menulis kalimat ”Bodohnya orang Islam yang milih Jokowi!! Dasar Munafik!!”. Unggahan ini membuat sebagian warganet yang membaca status menjadi tersinggung.

Unggahan tersebut direspons tim Satreskrim Polres Mataram, Sabtu malam (19/1). Sekitar pukul 18.30 Wita, setelah melakukan serangkaian penyelidikan, tim menangkap Imran di rumahnya, Lingkungan Presak Tempit, Kelurahan Ampenan Tengah, Kecamatan Ampenan.

Ketika didatangi petugas, Imran tak mampu mengelak. Tim mengantongi bukti kuat pelanggaran UU ITE yang dilakukan Imran. Salah satunya, tangkapan layar mengenai ujaran kebencian yang diunggah Imran pada 18 Januari.

Selain itu, polisi mengamankan satu unit handphone Oppo milik Imran, baju kaos berwarna merah, serta senjata tajam jenis golok. Dua barang bukti terakhir digunakan Imran saat mengunggah foto untuk membalas komentar di statusnya.

Kapolres Mataram AKBP Saiful Alam membenarkan penangkapan tersebut. Pelaku ditangkap tanpa perlawanan ketika berada di rumahnya. ”Sekarang masih kita lakukan pemeriksaan untuk mengetahui motifnya,” kata Alam.

Lebih lanjut, Alam meminta masyarakat untuk lebih bijak dalam bermedia sosial. Membagi dan mengunggah sesuatu yang bermanfaat. Bukan menyebarkan atau bahkan membuat status berisi ujaran kebencian yang bisa menimbulkan ketersinggungan bagi masyarakat lainnya.

”Ini sudah masuk tahun politik, terhadap masyarakat kita imbau agar lebih bijaksana di media sosial. Jangan membagikan sesuatu yang tidak bermanfaat,” imbau kapolres.

Atas perbuatannya, Imran dijerat dengan Pasal 28 ayat 2 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaiman telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ancaman hukumannya selama 6 tahun penjara.(dit/r2)

Berita Lainnya

Jual Sabu Untuk Modal Kawin, Dua Sejoli Kompak Masuk Bui

Redaksi LombokPost

Nyabu Biar Lebih Bergairah

Redaksi Lombok Post

Mantan Kepala Kemenag Bima Ditahan, Tersandung Korupsi Tunjangan Guru di Bima

Redaksi Lombok Post

Zaini Arony Diklarifikasi Soal LCC

Redaksi LombokPost

Tersangka Penyuap Imigrasi Segera Diadili

Redaksi LombokPost

Rekanan Proyek THR Diklarifikasi

Dae Ferra Berkelit Tak Terima Fee

Cari Selamat, Maling Amatir Hianati Kawan

Dorfin Dituntut 20 Tahun Penjara

Redaksi LombokPost