Lombok Post
Headline Metropolis

Dua Bulan, Pemprov Target Bangun 36 Ribu Rumah

TERKENDALA CUACA: Tukang bangunan yang membangun Riko warga korban gempa di Lingkungan Tegal, Kecamatan Sandubaya tidak bisa bekerja maksimal karena hujan deras yang terus melanda Kota Mataram.

MATARAM-Pemprov NTB memasang target tinggi. Dalam dua bulan ke depan akan terbangun 36 ribu unit rumah tahan gempa.

Berdasarkan data, ada 216.519 unit rumah rusak akibat gempat Juli-Agustus 2018 lalu. Saat ini, rumah tahan gempa yang sudah terbangun baru 5.129 unit.

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman NTB I Gusti Bagus Sugiharta menegaskan, cuaca ekstrem saat ini, tidak berpengaruh signifikan terhadap rehabilitasi dan rekonstruksi. Meski hujan disertai angin kencang, proses pembangunan rumah tetap berjalan. Upaya percepatan tetap dilakukan bersama tim. ”Tidak masalah, proses jalan terus,” katanya pada Lombok Post, kemarin (27/1).

Dia mengemukakan, dalam pertemuan terakhir, pemprov mengundang pengusaha jasa konstruksi. Pemerintah meminta para pengusaha berperan aktif dalam proses pembangunan rumah korban gempa. ”Kami targetkan 36 ribu rumah dua bulan ke depan,” tegas Sugihartha.

Hanya saja pembangunan 36 ribu unit rumah itu, tidak sampai rampung dan langsung bisa ditempati. Itu hanya target unit rumah yang akan dibangun sampai awal April. Sebab untuk bisa layak huni masih butuh proses penyelesaian. Tapi dengan mulai dibangun, progres pembangunan akan lebih menggeliat.

Sugihartha berani memasang target sebanyak itu karena beberapa langkah percepatan sudah disiapkan. Sejumlah kebijakan pun kini berada di tangan provinsi. Sehingga kendala yang sebelumnya menghambat sudah bisa diatasi. Salah satunya kewenangan menilai jenis rumah tahan gempa.

Saat ini sudah ada tujuh jenis rumah yang bisa dibangun dari sebelumnya hanya tiga jenis. Bahkan dalam seminggu ke depan, jenis rumah yang bisa dibangun bisa sampai 10 jenis.

Tambahan jenis rumah merupakan usulan dari masyarakat yang teruji tahan gempa. Baik yang berbahan dasar kayu, baja dan pengembangan baja ringan, hingga rumah yang memiliki pondasi dari per. ”Semakin banyak pilihan jenis rumah, pembangunan akan semakin cepat,” katanya.

          Selain jenis rumah, jumlah fasilitator juga sudah ditambah. Sehingga proses pembangunan akan lebih cepat. Uang di rekening masyarakat juga sudah cukup banyak. Tinggal dipakai.

          Dengan perbaikan-perbaikan itu, ia optimis pembangunan rumah bisa lebih cepat. Selain itu, pemprov akan setengah memaksa pengusaha terlibat. Bila para pengusaha lokal terlibat, dia yakin pembangunan akan dua kali lebih cepat.

Saat ini pemerintah tengah menyiapkan perubahan atas Inpres Nomor 5 Tahun 2018 tentang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascagempa Lombok. Salah satu usulan perubahan adalah merekomendasikan pengerjaan rumah kepada pengusaha.

Rumah korban gempa dikerjakan dengan sistem kontrak. Kelompok masyarakat (Pokmas) bisa teken kontrak dengan pengusaha untuk memperbaiki rumah warga. ”Warga tinggal terima kunci, rumah sudah jadi,” jelasnya.

Dengan sistem kontrak, pembangunan rumah diyakini lebih cepat lagi. Hanya saja itu baru usulan, belum ditetapkan dalam perubahan Inpres.

Berbeda dengan Sugihartha, Kepala BPBD NTB H Muhammad Rum sebelumnya menyebutkan, cuaca ekstrem pasti akan menghambat proses pembangunan rumah tahan gempa. Sebab hujan dan angin kencang paling tidak pasti akan memperlambat kecepatan proses pembangunan.

Hingga Sabtu (26/1), jumlah dana yang ditransfer ke rekening warga sebanyak Rp 3,4 triliun. Masih ada sisa Rp 90,3 miliar yang belum disalurkan BPBD kabupaten/kota ke rekening warga. Rp 75,2 miliar ada di rekening BPBD Sumbawa, Rp 6,5 miliar di rekening BPBD Kota Mataram, Rp 5,5 miliar di BPBD Lombok Barat, dan Rp 3 miliar lebih di BPBD Sumbawa Barat.

Rum menjelaskan, dana itu belum ditransfer karena menunggu proses validasi data. Seperti BPBD Sumbawa, sampai saat ini mereka masih melakukan validasi data penerima. Target waktu validasi terakhir tanggal 12 April. ”Daripada buru-buru nanti malah kena bencana administrasi,” katanya.

Jumlah pokmas yang terbentuk sudah 1.950 kelompok dengan anggota 23.786 KK. Namun jumlah rekening pokmas yang terisi baru 540 kelompok dengan 7.815 KK. Sementara rumah yang terbangun mencapai 5.129 unit, terdiri dari rumah instan sederhana sehat (Risha) 2.026 unit, rumah instan sederhana kayu (Rika) 1.153 unit, rumah instan konvensional (Riko) 1.484 unit, rumah cetak raswari Indonesia (RCI) dan rumah instan baja (Risba) 104 unit, serta dibangun mandiri 362 unit. (ili/r1)

Berita Lainnya

Baru Mau Bangkit, Terpuruk Lagi Akibat Tiket Pesawat dan Bagasi Mahal

Redaksi LombokPost

Tim Labfor Turun Tangan Selidiki Penyebab Kebakaran Rumah Direktur Walhi NTB

Redaksi LombokPost

Pemprov NTB Akhirnya Buka Pendaftaran PPPK , Honorer Diberi Waktu Dua Hari

Redaksi LombokPost

Empat Hewan Pembawa Rabies Ditemukan Balai Karantina

Redaksi LombokPost

RSUD Kota Mataram Siapkan Aplikasi SIMRS

Redaksi LombokPost

Kaderlan Pencari Damai di Rumah Panggung dari Kayu Bekas

Redaksi LombokPost

Pemkot Mataram Angkat Tangan Tak Ikut Pendaftaran PPPK Serentak

Redaksi LombokPost

Permintaan Eliminasi Anjing Cukup Tinggi

Redaksi LombokPost

Baru Tiga Kecamatan Punya RDRT

Redaksi LombokPost