Lombok Post
Metropolis

Nasib Jembatan Penyeberangan Orang setelah Tidak Difungsikan

TIDAK TERURUS: Beginilah kondisi JPO yang tidak terurus, nampak sampah berserakan dan lubang di lantai jembatan yang belum diperbaiki, di depan komplek pertokoan jalan Sandubaya Bertais, kemarin (30/1).

Tidak semua fasilitas umum dipelihara dengan baik. Banyak yang dibiarkan terbengkalai begitu saja. Malah penggunaannya beralih fungsi. Seperti Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

==========================

Seperti biasa, lalu lintas di perempatan Jalan Sandubaya pada siang hari sangat ramai. Ratusan kendaraan lewat dari segala arah. Semua jenis kendaraan tumpah ruah dijalan itu. Seperti tidak berhenti dan tidak berujung. Menandakan aktifitas masyarakat masih menggeliat. Tanpa mengenal lelah dan waktu.

Meski banyak kendaraan yang lalu lalang. Tidak sedikit pula para warga memilih menyebrang secara manual. Padahal, di kawasan itu ada JPO. Tidak dimanfaatkan sama sekali. Seperti rangkaian besi tua yang membelah jalan itu.

“Memang gak ada yang mau nyeberang pakai itu,” kata Mahsur.

Dia seorang tukang ojek yang biasa mangkal di kawasan itu. Usianya sekarang injak 50 tahun. Jadi tukang ojek sejak 30 tahun yang lalu. Warga asli Babakan. Dirinya mengatakan, masyarakat pengguna JPO itu di setiap harinya hanya satu atau dua orang saja. Bahkan tidak ada.

“Saya setiap hari di sini, dalam seminggu aja bisa dihitung pakai jari, paling ada satu atau dua orang yang pakai,” katanya.

Alasan masyarakat cukup klasik. Tidak mau repot-repot nyebrang pakai JPO. Karena akan memakan waktu lama, terutama saat mereka naik puluhan anak tangga. Makanya tidak heran, selain ngojek, Mahsur juga sering dimintai tolong untuk menyebrangkan orang.

“Bantu-bantu berhentiin kendaraan, biar mereka bisa lewat,” tegasnya.

Koran ini penasaran, ingin membuktikan perkataan Pak Mahsur. Apa sih yang menjadi penyebab masyarakat enggan memanfaatkan JPO ini. Ditengah panasnya terik matahari menerpa Kota Mataram, Koran ini bersama Pak Mahsur mulai menapaki anak tangga yang ada. Tampak tidak ada yang aneh, anak tangga masih kokoh untuk pejalan kaki.

Namun rasa penasaran Koran ini langsung terjawab. Setelah berada diposisi atas JPO. Penampakkan aneh dan menyedihkan mulai terlihat. Ada sampah, bungkus dan putung rokok, baju bergelantungan. Bahkan yang paling menganggu adalah aroma pesing bekas kencing manusia begitu menguar, saat angin meniup JPO itu dengan kencangnya.

“Itu baju yang gangguan jiwa yang suka tidur di sini,” jelas memecah keheningan.

Koran ini sama sekali tidak bergeming mendengar penjelasan Pak Mahsur. JPO yang nampak kokoh dari bawah memang tidak menampakkan apa-apa, setelah sampai di atas. Semua itu berubah karena jembatan sendiri sudah dalam keadaan rapuh. Ada lubang menganga dan kondisi besi yang jadi alas perlahan mulai rapuh. Menandakan usia JPO yang tidak lagi muda dan benar benar butuh perawatan.

Ia menyayangkan kondisi ini. JPO yang ada merupakan fasilitas yang harus di jaga pemerintah. Memang angka kecelakaan di jalan Sandubaya ini masih tergolong kecil. Namun menurutnya, itu bukan jadi alasan jika JPO ini dibiarkan begitu saja.

“Bagaimana orang mau pakai JPO-nya kalau kondisinya kayak begini, gak bersih dan bau pesing, orang mau lewat jadi mikir,” terangnya.

Selain itu, pemanfaatan JPO juga tidak tepat guna. JPO yang ada hanya dijadikan pajangan untuk pemasangan baliho-baliho caleg. Ya memang ada keuntungan buat Pemkot Mataram, tetapi alangkah baiknya kata Pak Mahsur, bagaimana JPO memang diperuntukkan bagi pengguna jalan untuk menyebrang.

Selain itu, penerangan juga tidak ada di area penyeberangan. Lampu hanya menyoroti bagian yang menghadap ke arah baliho saja. Maka tidak heran, kondisi gelap menyebabkan JPO semakin tidak dimanfaatan. Setelah sepuluh menit kami berbincang. Kami langsung turun dan melanjutkan pembicaraan di warung sebrang JPO.

Pak Mahsur hanya seorang tukang ojek, tetapi ia memiliki harapan besar pada Pemkot Mataram agar fasilitas yang ada bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat. “Saya ingin lihat JPO ini kayak di kota-kota besar, yang sering saya lihat di TV,” terangnya.

Ia memimpikan JPO bisa jadi tempat berswafoto bagi anak-anak muda. Setidaknya ada JPO yang instagramable. Fotonya bisa di upload di media sosial.

Jika tidak bisa seperti itu, Pemkot Mataram bisa lakukan pemeliharaan rutin soal ini. Agar bisa berfungsi dengan baik. (*/r5)

Berita Lainnya

Pemprov NTB Akhirnya Buka Pendaftaran PPPK , Honorer Diberi Waktu Dua Hari

Redaksi LombokPost

Empat Hewan Pembawa Rabies Ditemukan Balai Karantina

Redaksi LombokPost

RSUD Kota Mataram Siapkan Aplikasi SIMRS

Redaksi LombokPost

Kaderlan Pencari Damai di Rumah Panggung dari Kayu Bekas

Redaksi LombokPost

Pemkot Mataram Angkat Tangan Tak Ikut Pendaftaran PPPK Serentak

Redaksi LombokPost

Permintaan Eliminasi Anjing Cukup Tinggi

Redaksi LombokPost

Baru Tiga Kecamatan Punya RDRT

Redaksi LombokPost

Fatwir Jabat Kadis Pendidikan

Redaksi LombokPost

Miftah: Penertiban Pelanggaran Tata Ruang Akan Dilanjutkan!

Redaksi LombokPost