Lombok Post
Metropolis

Asal Mula Rifai Tinggal di Kolong Jembatan Sampai Akhirnya ‘Diusir’

BERSANTAI: Rifai beristirahat di atas kursi kayu miliknya di bawah Jembatan Sungai Jangkuk, Ampenan, kemarin (1/2).

Nama Rifai sudah terlanjur melekat sebagai kakek yang tinggal di bawah kolong jembatan Sungai Jangkuk Ampenan. Tapi tidak banyak yang tahu apa latar belakang ia menantang maut belasan tahun di sana.

 LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

===================================

RIFAI tengah melepas lelah. Lewat nafasnya yang menderu-deru. Matanya sayu memandangi sepetak tanah di bawah kolong Jembatan Sungai Jangkuk, Ampenan. Tanah itu kini tidak boleh ia tempati lagi sebagai lokasi tempat ia tinggal. Tapi sekali waktu Rifai seperti siang kemarin mampir di sana.

“Ini harus dijaga kalau tidak habis diambil orang-orang,” kata Fai dengan wajah sedih, sembari memandangi kardus-karus dan sisa botol plastik untuk dijual.

Tak jauh dari tempat ia duduk tergeletak papan-papan bekas rumahnya. Baru beberapa waktu lalu, Pemerintah Kota Mataram membongkar hunian ‘istimewanya’. Rifai dilarang lagi tinggal di sana demi kemanusiaan dan nama baik pemerintah. Sekalipun ia sebenarnya tidak pernah merasa terpaksa tinggal di sana.

“Justru saya senang di sini sejuk. Tidak ada yang mengganggu,” ungkapnya dalam bahasa Sasak.

Fai sebenarnya bukan warga pendatang. Ia warga asli Sukaraja, Ampenan. Kisahnya dimulai ketika ia masih muda. Kakek yang lupa tahun lahirnya itu, ketika muda memang senang berpetualang dan merantau.

“Mungkin karena saya 13 bersaudara dan saya anak ketujuh atau paling tengah,” terangnya.

Berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain yang lebih senang bekerja di rumah. Fai justru memilih melalang buana mencari pengalaman hidup. Puncaknya ia menemui dirinya tiba di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. “Di sana saya bekerja bertahun-tahun,” kisahnya.

Pria yang hanya sampai kelas 1 Sekolah Rakyat (SR) dan mengaku lebih sering bolos itu akhirnya pulang kampung. Pengalaman ia berkeliling ke berbagai tempat, seperti Bali, beberapa tempat di Jawa, dirasa cukup.

“Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri. Tetap lebih nikmat hidup di kampung halamannya,” jelasnya.

Sebelum pulang ia menyusun rencana. Ia ingat mendiang ayahnya mewarisi mereka sekitar 2 are tanah. Jika 2 are itu dibagi-bagi dengan saudaranya, paling tidak ia dapat jatah tanah yang bisa dibangun rumah yang kamar tidur dan ruang tamunya menyatu.

“Kalau di jual, saya pikir bisa dapat bagian juga,” kisahnya.

Tapi apa lacur. Sesampai di kampung halaman Fai mengaku tak dapat jatah sepeser pun. Ia pun bingung mau tinggal di mana. Sementara ia tidak mungkin menganggu keluarga kakak-kakaknya atau adik-adiknya. Keadaan mereka tak jauh beda dengan dirinya.

“Saat bingung dan gundah saya sering ke bawah jembatan Jangkuk lalu menenangkan diri di sana,” kisahnya.

Keadaan di bawah jembatan saat itu tidak selapang saat ini. Sisi bawah jembatan tempat Fai membangun rumah, masih dijejali tanah liat yang padat. Belum lagi kondisi sekitar jembatan yang dipenuhi kotoran manusia.

“Banyak yang buang air besar ke sini, terus tempatnya juga sempit. Bau busuk menyeruak kalau ke bawah,” kenangnya.

Tiba-tiba keinginan tinggal di sana timbul. Ia lupa saat itu tahun berapa. Ia hanya ingat saat itu masih Gubernur NTB Lalu Srinata. Dengan gigih Fai menguruk tanah-tanah liat yang menebal keras di bawah jembatan.

“Ada yang saya bawa ke samping yang sekarang buat cafe-cafe itu, ada juga untuk tanggul kalau-kalau nanti airnya membesar,” kisahnya.

Ia melakukannya seorang diri. Tanpa peduli apa kata saudara dan orang lain. Tak terkecuali kotoran-kotoran manusia yang penuh di tempat itu. Bagi Fai yang penting ia bisa punya tempat tinggal yang aman untuk berteduh dari panas dan hujan.

Sejak ia memilih tinggal di bawah jembatan, lokasi itu tidak pernah kumuh lagi. Orang-orang yang biasanya buang air besar di tempat itu tidak ada lagi yang datang. “Mereka malu, karena saya tinggali di sana,” ujarnya.

Tidak hanya itu Fai juga rajin merawat kebersihan sungai. Tidak hanya sekadar kompensasi ia boleh tinggal di sana pada pemerintah. Tetapi sampah plastik yang hanyut di kali itu bagai pundi-pundi rezekinya dari Tuhan untuknya. “Saya kumpulkan kemudian saya jual,” kisahnya.

Belasan tahun ia tinggal di sana. Susah-senang, sakit-sehat ia lalui di kolong jembatan. Ia tidak peduli apa kata orang. Yang jelas ia bahagia dan nyenyak tidur di bawah gemuruh kendaraan yang melintas di atasnya.

“Tapi sekarang sudah tidak boleh lagi setelah puluhan tahun saya tinggal di sini. Padahal gubernur-gubernur sebelumnya tidak ada masalah, sampai diganti yang baru,” sesalnya.

Sebenarnya lanjut Fai tidak ada yang mengancam jiwanya di bawah jembatan itu. Air sungai Jangkuk pun paling besar hanya sampai fondasi tanggul yang ia buat. Tidak pernah lebih dari itu. Sebesar apapun hujan di hilir sungai.

“Ya paling besar sampai semen (fondasi) itu, ndak pernah sampai naik lebih dari itu dan membahayakan saya,” sebutnya.

Tapi Fai memang tidak diberi pilihan. Ia harus membongkar rumahnya atau Satpol PP yang akan membongkar paksa. “Saya pilih bongkar sendiri, dan sekarang tinggal sama anak saya,” ujarnya dengan raut wajah sedih. (*/r7)

Berita Lainnya

Pemprov NTB Akhirnya Buka Pendaftaran PPPK , Honorer Diberi Waktu Dua Hari

Redaksi LombokPost

Empat Hewan Pembawa Rabies Ditemukan Balai Karantina

Redaksi LombokPost

RSUD Kota Mataram Siapkan Aplikasi SIMRS

Redaksi LombokPost

Kaderlan Pencari Damai di Rumah Panggung dari Kayu Bekas

Redaksi LombokPost

Pemkot Mataram Angkat Tangan Tak Ikut Pendaftaran PPPK Serentak

Redaksi LombokPost

Permintaan Eliminasi Anjing Cukup Tinggi

Redaksi LombokPost

Baru Tiga Kecamatan Punya RDRT

Redaksi LombokPost

Fatwir Jabat Kadis Pendidikan

Redaksi LombokPost

Miftah: Penertiban Pelanggaran Tata Ruang Akan Dilanjutkan!

Redaksi LombokPost