Lombok Post
Metropolis

Satu Janda Sepekan Dinilai Masih Sedikit

SINAR KEGIGIHAN: Inaq Hajar salah seorang janda tua di Kampung Bugis sedang duduk di depan rumahnya, belum lama ini.

MATARAM-Angka perceraian di Kota Mataram selama 2018 dilaporkan sebanyak 76 kasus. Latar belakang perceraian beragam. Jika dirata-ratakan berarti ada satu kasus perceraian dalam seminggu. Atau jika fokus pada wanita sebagai penerima beban psikologis lebih besar dalam perceraian maka ada satu janda lahir tiap minggu.

Sejak melakukan pendataan dari tahun 2017 silam kasus perceraian yang dilaporkan sebanyak 243 kasus. Jika diasumsikan para wanita yang becerai tidak ada yang meninggal dunia, berarti ada 243 janda ibu kota. Jumlah ini berpeluang bertambah, karena diyakini banyak kasus perceraian pula yang belum dilaporkan.

Namun, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram Dewi Mariana Ariany menilai jumlah perceraian atau janda di ibu kota masih relatif kecil. Jika dibanding daerah dengan populasi penduduk yang lebih padat. “Jumlah wanita di atas 15 tahun di ibu kota itu sekitar 176 ribu jiwa,” kata Dewi.

Sementara, dalam setahun rata-rata ‘mencetak’ puluhan hingga mendekati seratusan janda. Hanya saja, Dewi mengatakan bukan berarti jumlah yang dianggap kecil ini perhatian pemerintah lalu mengecil. Justru lanjut dia, beberapa perhatian istimewa diberikan pada janda-janda dan wanita yang memilih hidup sendiri hingga tua. “Mereka diistilahkan Perempuan Kepala Keluarga, termasuk di dalamnya janda,” terangnya.

Ada beberapa pelatihan dan program keterampilan. Salah satunya yang disinergikan dengan dinas sosial yang dinimai Program Perempuan Kepala Keluarga (PEKA). “Itu agar mereka berdaya secara ekonomi,” ulasnya.

Namun program ini hanya untuk perempuan yang masih ada di rentang usia produktif. Sedangkan yang sudah tua, diberikan biaya hidup dari program-program sosial pemerintah. Dewi menambahkan pemberdayaan dan pemberian keterampilan itu dilakukan secara bertahap. Karena jumlah mereka tidak bisa dientaskan dalam satu kali program. “Ada saya buat bertahap (programnya),” ungkapnya.

Pencegahan bertambahnya Perempuan Kepala Keluarga dari terus ‘diproduksinya’ janda, bukan tugas DP3A. Melainkan jadi bahan pertimbangan atau mediasi yang dilakukan di meja pengadilan. Sebelum akhirnya pasangan suami istri bulat memilih cerai. “Kalau dia PNS mediasinya oleh tim pengawas kepegawaian,” terangnya.

Namun DP3A mengambil peran untuk pencegahan. Melalui program parenting dan ketahanan keluarga. Sosialiasi ini dilakukan di tingkat-tingkat kecamatan. Menguatkan keluarga agar menghindari perceraian. “Sebab yang menerima dampak tidak hanya pasangan suami istri yang bercerai, tapi ada anak-anaknya itu yang kita berikan gambaran,” ulasnya.

Selebihnya jika ada persoalan dalam keluarga, DP3A mengambil peran untuk perlindungan perempuan. Yang rentan jadi objek Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Bagaimana agar para perempuan tidak dapat kekerasan fisik. Ataupun jika terjadi, maka pelaku dalam hal ini suami dapat diberikan tindakan hukum yang sesuai.

“Tidak boleh ada kekerasan, kalau soal cerai itu silakan pilihan masing-masing, tapi kalau ada kekerasan disitu kita beri perlindungan melalui undang-undang KDRT dan Pidana,” tegasnya.

Lalu seperti apa faktanya di lapangan? Inaq Hajar salah satu janda tua asal Kampung Bugis Mataram mengaku kurang dapat perhatian dari pemerintah. Semisal dalam hal perlindungan kesehatan saja, Hajar menurut penuturan anaknya Muksin menggunakan BPJS berbayar. “Yang bayar tiap bulan itu,” kata Muksin.

Begitu juga dalam hal program bantuan berupa logistik. Muksin menuturkan, ibunya itu sering diabaikan. Berbeda dengan tetangga-tetangganya yang selalu masuk dalam catatan penerima bantuan. “Malah orang-orang yang lebih muda yang dapat,” sesalnya.

Sekalipun untuk keperluan hidup, masih mampu ditanggung ia dan saudaranya. Namun bantuan pemerintah akan sangat berarti. Meringankan beban ia dan keluarga besarnya yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan. “Kalau ada program bantuan, mohonlah ibu saya juga disertakan,” harapnya. (zad/r7)

Berita Lainnya

Bukit Nipah dan Padanan Terbakar

Redaksi LombokPost

NTB Gak Mau PNS Kerja di Rumah

Redaksi Lombok Post

Uang Korban Gempa Dicuri Mandor

Redaksi LombokPost

Kejuaraan Paralayang Nasional Diikuti 153 Peserta

Redaksi LombokPost

Melihat Persiapan Pemkot Menyambut HUT Kota Mataram Ke-26

Redaksi LombokPost

Korban TPPO Banyak Dijual ke Suriah

Redaksi LombokPost

Wajib Pakai Besi Kolom Sepuluh Mili

Redaksi LombokPost

Tok, Tok, Tok, Bank Rontok

Kafilah Kecamatan Mataram Juara MTQ XVIII