Lombok Post
Headline Kriminal

Awal Pengungkapan Sekandal Rutan Polda

AKHIRNYA DITANGKAP: Tersangka penyelundup narkoba Dorfin Felix berhasil ditangkap tim Reskrim Polres Lombok Utara di Pusuk Pass, perbatasan antara Lombok Barat dan Lombok Utara, Jumat malam (1/2).

Tim Reskrim Polres Lombok Utara (Lotara) berhasil meringkus Dorfin Felix, tahanan yang kabur dari Rutan Polda NTB. Penangkapan terhadap Dorfin, menjadi akhir pelarian pria yang merupakan kurir narkoba internasional tersebut. Di sisi lain, ini menjadi awal untuk mengungkap  permainan di Rutan Polda NTB.

== == == ===

Jumat (1/2) malam, udara dingin menyelimuti Pusuk Pass, rest area yang berada di perbatasan antara Kabupaten Lombok Barat (Lobar) dan Lombok Utara (Lotara). Suasana Pusuk Pass sepi. Hanya terlihat beberapa pengendara yang melindas.

Meski dingin, dua tiga warung kopi masih bertahan. Melayani beberapa warga yang mampir untuk sekadar menghilangkan kantuk dan lelah selama perjalanan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 Wita, saat Inaq Sai berbisik pelan dengan bahasa Sasak. ”No iye Pak,” kata Sai pelan dan sedikit rasa takut. Sepersekian detik setelah itu, perempuan tersebut menunjuk sesosok pria yang baru saja keluar dari gelapnya hutan Pusuk.

Yang ditunjuk pemilik warung kopi ternyata Dorfin Felix. Pria yang jadi buruan seluruh anggota Reskrim dan Intelijen kepolisian nyaris selama dua pekan, usai kabur dari Rutan Polda NTB.

Bripka Mirsandi, anggota Reskrim Polres Lotara yang ditugaskan untuk memantau di wilayah tersebut, langsung bersiaga. Tak butuh waktu lama bagi Mirsandi untuk memastikan bahwa pria tersebut merupakan Dorfin Felix.

Mirsandi berlari ke arah Dorfin dan langsung meringkusnya. Setelah mengamankan Dorfin, Mirsandi menghubungi dua tim, yang diketahui berjaga di Hutan Bentek dan beberapa titik lain di sekitar Pusuk Pass.

Polisi dengan mudah menangkap Dorfin. Kondisinya saat tertangkap benar-benar payah. Tak bertenaga. Ketika terlihat keluar dari wilayah Hutan Pusuk, Dorfin bahkan berjalan dengan sempoyongan selayaknya orang yang kelaparan.

Di tengah kondisi seperti itu, Dorfin masih berusaha menyuap petugas kepolisian. Uang  Rp 6 juta ditawarkan kepada anggota polisi yang meringkusnya. Tindakan Dorfin ditolak mentah-mentah. Dorfin frustasi dan meminta anggota untuk menembaknya saja.

Kapolres Lombok Utara AKBP Herman Suriyono mengatakan, di sekitar wilayah Gunung Pusuk, telah bersiaga tiga tim dari Satreskrim Polres Lotara. Mereka memantau pergerakan Dorfin yang dicurigai bersembunyi di Hutan Pusuk.

”Reskrim turun semua. Kita bagi tim menjadi tiga dan bersiaga di sejumlah titik,” kata dia.

Setelah menangkap Dorfin, tim Reskrim Polres Lotara membawa tersangka ke Polda NTB. Dorfin menjalani pemeriksaan pertama di Ruang Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda NTB hingga sekitar 02.00 Wita Sabtu (2/2).

Usai pemeriksaan, dengan kawalan ketat petugas, Dorfin dibawa menuju Rutan Polda NTB. Kali ini, tak ada keistimewaan bagi pria asal Prancis tersebut. Dorfin dimasukkan ke sel tahanan di lantai satu. Bersama dengan tahanan lainnya.

”Di lantai satu (ditahan),” kata Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Komang Suartana.

Suartana mengatakan, usai ditangkap, Dorfin masih harus menjalani pemeriksaan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) dan Bidang Propam. Pemeriksaan ini terkait dengan sejumlah masalah yang ditinggalkan Dorfin setelah kabur dari Rutan Polda NTB.

”Di krimsus (pemeriksaan). Untuk di narkoba (Ditresnarkoba) sudah selesai, tinggal tahap dua saja itu,” terang Suartana.

Keterangan Dorfin diharapkan bisa mengungkap bagaimana dirinya bisa keluar dari Rutan. Termasuk, iming-iming apa yang dijanjikan kepada oknum polisi sehingga bisa mendapat keistimewaan selama berada di Rutan Polda NTB.

Mengenai dugaan gratifikasi kepada TU, sejauh ini penyidik baru menemukan adanya kiriman uang kepada rekening pribadi TU melalui western union. Pengirimnya adalah keluarga Dorfin Felix. Dikirim sebanyak dua kali, masing-masing Rp 7 juta dan Rp 7,5 juta.

Irwasda Polda NTB Kombes Pol Agus Salim menyebut, uang tersebut bukan terkait dugaan gratifikasi yang diterima TU. Tetapi, untuk kebutuhan Dorfin selama berada di Rutan Polda NTB.

Uang tersebut dipergunakan TU guna memenuhi kebutuhan Dorfin selama berada di Rutan Polda NTB. TU diketahui membeli handphone dan televisi yang diberikan kepada pria asal Prancis tersebut.

Sementara itu, cara Dorfin untuk lolos dari penjagaan di Rutan Polda NTB masih menjadi teka-teki. Belum diketahui apakah penyelundup narkoba senilai lebih dari Rp 3 miliar tersebut keluar melalui pintu utama atau memotong terali di kamarnya.

Jika Dorfin kabur melalui pintu utama, hasil rekaman CCTV tak menunjukkan hal tersebut. Irwasda Polda NTB Kombes Pol Agus Salim mengatakan, tim pemeriksa telah melihat rekaman CCTV, memastikan apakah ada lompatan waktu untuk mengelabui petugas.

”Tapi tidak ada (lompatan waktu). Di CCTV, tidak terlihat Dorfin keluar dari selnya,” kata Salim.

Cara yang kedua, dengan memotong terali, juga terasa ganjil. Terali tidak terpotong seluruhnya. Menurut pengakuan polisi, terali hanya terpotong kecil. Dengan kata lain, ukuran tersebut tak memungkinkan Dorfin untuk keluar. Kain yang tergantung di balik terali, juga cukup pendek.

Selain itu, hasil rekonstruksi juga tidak menemukan sisa potongan terali. Termasuk alat yang digunakan untuk memotong.

”Alat itu yang tidak kita temukan,” ungkap dia.(wahidi akbar sirinawa/r2)

Berita Lainnya

Kelelahan, Enam PPS Tumbang

Redaksi LombokPost

PSU Rentan Money Politic

Redaksi LombokPost

Kinerja Dewan Mengecewakan, Pembahasan Raperda Sangat Minim

Redaksi LombokPost

Dae Ade Tandatangan Kontrak, Dae Ferra Urus Proyek

Redaksi LombokPost

Jelang Ramadan, Polisi Persempit “Permainan” Tengkulak

Redaksi LombokPost

Telkomsel Optimalkan Jaringan di Lebih dari 1.400 Titik Penting

Redaksi Lombok Post

Gubernur: Jangan Ada Dendam Politik!

Redaksi LombokPost

Kepala Disnakertrans Paling Diminati

Redaksi LombokPost

Ratusan ASN Terjaring Razia Disiplin

Redaksi LombokPost