Lombok Post
Kriminal

Anak Dalam Lingkaran Kejahatan Jalanan

HASIL OPERASI: Polres Mataram mengekspose puluhan kendaraan bermotor dan barang berharga lainnya yang disita dari 81 pelaku kejahatan, di mana 12 pelaku merupakan anak-anak, selama dua pekan operasi jaran, beberapa waktu lalu.

Polres Mataram berhasil meringkus 81 terduga pelaku kejahatan konvensional selama dua pekan operasi jaran. Mereka merupakan penjahat kawakan yang kerap beraksi di wilayah hukum Polres Mataram. Sayangnya, dari seluruh pelaku, masih ada anak yang terseret dalam lingkaran aksi kejahatan.

== == ==

Billy (bukan nama sebenarnya), tertunduk saat digelandang tim Resmob 701 Satreskrim Polres Mataram, akhir Januari lalu. Remaja berusia 17 tahun tersebut, baru saja ditangkap karena diduga mencuri motor di Desa Selat, Kecamatan Narmada, Lombok Barat (Lobar).

Aksinya dilakukan bersama MA (inisial). Keduanya mengambil motor dengan menggunakan kunci kontak asli, yang sebelumnya telah diambil pelaku. Perbuatan mereka dilakukan pada Desember 2018.

Tertangkapnya Billy menambah daftar panjang pelaku kriminal yang masuk kategori anak. Hingga berakhirnya operasi Jaran pada 3 Februari, total ada 12 anak yang terjaring.

Jumlah tersebut meningkat tiga kali lipat dibandingkan hasil dalam operasi serupa tahun lalu. Di 2018, hanya ada empat pelaku anak yang terlibat kejahatan.

”Tahun ini ada 12 pelaku yang merupakan anak-anak turut diamankan,” kata Kapolres Mataram AKBP Saiful Alam.

Meski masih berusia anak, kata Alam, polisi tetap melakukan tindakan tegas dengan menangkap mereka. Yang membedakan hanya proses hukum kepada pelaku anak. Mereka juga tidak ditahan di sel Polres Mataram, tetapi dititipkan di lapas anak dan Panti Paramita.

Keterlibatan anak dalam aksi kejahatan, tak terlepas dari pengawasan orang tua. Kapolres mengatakan, akan lebih bijak apabila orang tua tak melepas pengawasan pada anak, terutama pada pergaulan mereka.

”Untuk orang tua, saya imbau agar lebih intens mengawasi anak-anaknya. Karena, kalau terkait dengan kejahatan, kepolisian tetap melakukan tindakan tegas terhadap siapapun yang melakukan itu,” tegas dia.

Keterlibatan anak lingkaran kejahatan, bukan semata kesadaran mereka. Ada peran dari penjahat kawakan, yang mengajarkan hingga merekrut anak untuk melakukan tindak kejahatan. Kepolosan dan ketidaktahuan permasalahan hukum membuat anak dimanfaatkan pelaku-pelaku lain yang merupakan residivis.

Meski masih anak, tetap ada proses hukum terhadap mereka. Biasanya proses hukum terhadap ABH lebih mengedepankan pembinaan. Jika memungkinkan, mereka akan dikembalikan ke orang tua masing-masing. Jika masih ada yang berstatus pelajar, kepolisian akan melakukan koordinasi dengan sekolah, di mana tempat mereka menimba ilmu.

Mengenai peningkatan anak yang terlibat kejahatan, tak ditampik Kepala Divisi Advokasi LPA NTB Joko Jumadi. Kata Joko, tahun per tahun memang terlihat tren peningkatan anak yang berurusan dengan hukum (ABH).

Untuk tahun lalu saja, ada sekitar 200 ABH di Pulau Lombok. ”Itu tinggi. Untuk NTB saja, rata-rata hampir 500 anak (berurusan dengan hukum),” kata dia.

Joko menyebut dua faktor dominan yang mempengaruhi peningkatan anak dengan tindak kejahatan. Pertama, pola pengasuhan keluarga yang tidak maksimal. Kedua, lingkungan yang juga mempengaruhi.

Selain itu, ada juga pengaruh pergaulan terkait gaya hidup. Pusat perbelanjaan yang semakin menjamur di Kota Mataram, tentunya mengiming-imingi adanya peningkatan gaya hidup.

Bagi sebagian orang, membeli makan atau sekadar sebungkus rokok tentu tidak memberatkan. Tetapi tidak bagi anak dengan kondisi perekonomian orang tuanya yang tidak mampu.

”Mereka mau mengimbangi, tapi orang tua tidak mampu. Akhirnya ambil jalan pintas,” sebut Joko belum lama ini.

Dari sejumlah advokasi LPA, rata-rata hasil kejahatan anak dipakai untuk membeli makan, rokok, hingga minum-minuman beralkohol. Beberapa diantaranya ada juga yang digunakan untuk membeli narkoba.

”Ada yang beli narkoba, tapi jumlahnya tidak besar,” bebernya.

Apakah hukuman yang diberikan tidak memberi efek jera, sehingga anak kadangkala kembali berbuat tindak pidana? Joko mengatakan, proses hukum yang dilakukan sudah maksimal. Namun perlu ada peningkatan dalam hal rehabilitasi.

Selama ini, lanjut dia, proses rehabilitasi hanya menyasar anak sebagai pelaku kriminal. Tetapi intervensi terhadap orang tua dan lingkungan justru lalai dilakukan pemerintah.

”Kita tidak merehabilitasi orang tua dan lingkungannya,” jelas dia.

Akibat tidak ada intervensi terhadap orang tua dan lingkungan, anak yang kembali dari proses hukuman, bisa kembali mengulangi perbuatannya. ”Harus ada keterlibatan instansi pemerintah. Karena orang tua dan lingkungan sangat mempengaruhi anak setelah menjalani hukuman,” tandas Joko.(wahidi akbar sirinawa/r2)

Berita Lainnya

Kadis Hingga Kades Terjerat Tipilu

Redaksi LombokPost

Curi Motor Guru “Bonus” Sebutir Peluru

Redaksi LombokPost

Dae Ade Tandatangan Kontrak, Dae Ferra Urus Proyek

Redaksi LombokPost

Jelang Ramadan, Polisi Persempit “Permainan” Tengkulak

Redaksi LombokPost

Saksi Akui Laporan Proyek Fiktif

Redaksi LombokPost

Status Siaga Satu Dicabut

Redaksi LombokPost

Prabowo-Sandi Menang di Lapas Mataram

Redaksi Lombok Post

Tunggu Hasil Hitung KPU

Redaksi Lombok Post

Pulau Surga, Pulau Narkoba, Cengkraman Narkoba di Tiga Gili

Redaksi LombokPost