Lombok Post
Politika

HBK : Sembalun Sangat Potensial Untuk Ashitaba

H Bambang Kristiono (kiri) bercengkrama dengan seorang petani di Sembalun, Kamis (7/2).

SELONG-Kawasan Sembalun di Lombok Timur kerap dikatakan surganya hortikultura Lombok. Aneka jenis sayur dan buah tumbuh subur di sana.

Belakangan, Ashitaba (Angelica Keiskei Koidzumi) tanaman khas Jepang yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, juga mulai dikembangkan. Sayangnya, meski bisa tumbuh lebih subur dibanding di negara asalnya, Ashitaba Sembalun masih terbentur sistem pengolahan dan pemasaran yang belum maksimal.

Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Gerindra, H Bambang Kristiono yang akrab disapa HBK menilai persoalan yang ada perlu dibenahi. ”Pohon Ashitaba di kawasan Sembalun ini, dari sisi pertumbuhan lebih cepat dari negara asalnya. Jika di Jepang Ashitaba yang dikembangkan melalui Teknologi Green House baru bisa dipanen tujuh bulan semenjak pembibitan, di Sembalun bisa dipanen pada usia 3-4 bulan,” ucapnya takjub, saat berkunjung ke lokasi penanaman pohon Ashitaba milik Haji Aidir, di Dusun Pesanggrahan, Kamis (7/2).

Ashitaba dikenal sebagai tanaman obat yang memiliki beragam fungsi. Baik daun, getah, dan akarnya yang bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. ”Perlindungan terhadap hasil produksi dan pemasarannya masih lemah, harus diperbaiki,” tegasnya.

Produksi Ashitaba Sembalun telah jatuh kepada segelintir tengkulak. Petani Sembalun tidak memiliki akses jaringan pasar yang langsung kepada pengguna.

Sebagai langkah nyata, HBK berjanji mendatangkan rekan bisnisnya dari Taiwan yang bergerak di bidang produk Ginseng. ”Sembalun itu ibarat taman sari hortikultura di Pulau Lombok, yang bisa ditanami apa saja karena tanahnya yang begitu subur juga pemandangan alamnya yang sangat indah,” ujarnya.

Dia percaya Ashitaba Sembalun akan memberi dampak ekonomi luar biasa jika bisa berhasil menembus pasar ekspor.

Terpisah, Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Sembalun, H Egi memaparkan, sejarah  awal mula tanaman Ashitaba bermula 1996/1997 lalu, kala dibawa wisatawan Jepang. Karena pertumbuhannya yang cepat, warga Sembalun berbondong-bondong menanam di pekarangan rumah ataupun kebunnya. ”Saat itu booming,” katanya.

Hanya saja, karena over produksi dan sistem pemasaran yang tidak maksimal, petani banyak yang mengalami kerugian.

Kini Ashitaba masih ditanam oleh para petani Sembalun, sebab usia Ashitaba yang bisa mencapai 15 tahunan.

Harga getah Ashitaba bisa tembus Rp 700 ribu perkilogramnya. Produksi setiap hektare bisa menghasilkan 10 ton daun Ashitaba basah. Nantinya itu menjadi satu ton Ashitaba kering. ”Harga daun kering perkwintalnya Rp 500 ribu,” sambungnya.

Namun, karena pasar yang sangat terbatas, sehingga tidak semua terserap. H Aidir, petani setempat menambahkan, saat ini hampir seluruh warga Sembalun menanam Ashitaba. Kendala yang ada membuat potensi tanaman itu sia-sia. ”Kebanyakan warga Sembalun hanya untuk konsumsi sendiri,” katanya.

Sejumlah manfaat Ashitaba yang diyakini khasiatnya antara lain untuk menyehatkan rambut, mencegah kanker, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu juga bagus sebagai antioksidan alami yang kuat, menyehatkan mata, memperbaiki fungsi hati dan ginjal, menurunkan

kolesterol, dan baik untuk program diet. (yuk/r4/*)

Berita Lainnya

13 Warga Ampenan Nyoblos Ulang

Redaksi LombokPost

H. Muzhir Klaim Kuasai Suara Mataram

Redaksi LombokPost

Korban Pemilu Terus Berjatuhan

Redaksi LombokPost

Ayo Kawal Rekapitulasi Suara!

Redaksi Lombok Post

Lembaga Survei Unggulkan Jokowi, Prabowo Klaim Kemenangan

Redaksi Lombok Post

Jalan Raya Mulai Seteril dari APK

Redaksi LombokPost

2.813 Pemilih Masuk DPTb

Redaksi LombokPost

KPU dan Bawaslu Diminta Usut Tuntas Kasus di Malaysia

Redaksi LombokPost

HFZ Perjuangkan Aspirasi Generasi Milenial

Redaksi LombokPost