Lombok Post
Sumbawa

Dikes Usulkan Status KLB Rabies

AMANKAN: Petugas Karantina didampingi anggota kepolisian mengamankan seekor kucing yang dibawa salah seorang penumpang di Pelabuhan Poto Tano kemarin

SUMBAWA-Dinas Kesehatan (Dikes) Sumbawa mengusulkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies kepada Bupati Sumbawa. Hal ini menyusul terjadinya sejumlah serangan oleh HPR (hewan penular rabies) beberapa hari belakangan ini. Apalagi sudah satu orang warga dinyatakan positif rabies.

“Melihat definisi operasional KLB, maka kejadian rabies di Sumbawa sudah bisa disebut KLB. Saat ini, kepala Dikes bersama  Kepala Disnakeswan, sedang mengusulkan kepada pak bupati untuk penetapan Kabupaten Sumbawa KLB rabies,” ungkap Plh Kepala Dikes Sumbawa Surya Darmasyah di ruang kerjanya, kemarin (11/2).

Berdasarkan laporan yang diterima Dikes Sumbawa, sejauh ini sudah terjadi delapan kasus gigitan HPR. Enam kasus gigitan HPR terjadi di Sumbawa. Dua di antaranya terjadi di Kabupaten Dompu. Dari delapan kasus tersebut, satu kasus sudah dinyatakan positif rabies yang menimpa  salah seorang warga Dusun Unter, Desa Labuh Aji, Kecamatan Tarano pada Kamis 31 Januari lalu.

Untuk diketahui, manusia yang digigit HPR, tidak serta merta disebut terjangkit rabies. Namun masih disebut kasus gigitan HPR. Yang menentukan korban positif terjangkit rabies atau tidak adalah hasil pemeriksaan lab terhadap sampel otak HPR-nya.

“Penanganannya, setiap kasus gigitan HPR, tetap mendapatkan pelayanan utama. Berupa pemberian vaksin hari pertama, ketujuh sampai hari ke 21. Kemudian kalau luka di bagian atas (leher, kepala), hari pertama kita kasi SAR, VAR-nya tidak. Kalau ke bawah, cukup VAR saja,” pungkasnya.

Sementara itu, Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Kelas I Sumbawa Besar menyisir sejumlah pelabuhan rakyat. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah masuknya HPR ke Pulau Sumbawa.

Kepala SKP Kelas I Sumbawa Besar drh Ida Bagus Putu Raka Ariana mengatakan, pihaknya tetap meningkatkan pengawasan. Sebab setelah Dompu, kini rabies sudah masuk ke Sumbawa. Bentuk pengawasan yang dilakukan adalah dengan melakukan penyisiran di sejumlah pelabuhan rakyat di perairan Utara Sumbawa.

“Penyisiran ini kami lakukan bersama dengan Dinas Peternakan Sumbawa,” ujar Raka, kemarin.

Pihaknya melakukan penyisiran sesuai dengan tupoksi SKP. Guna memantau lalu lintas HPR. Pihaknya juga memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar terkait rabies.

“Dari hasil penyisiran, tidak ditemukan adanya HPR,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan pemasangan spanduk larangan membawa HPR masuk ke Pulau Sumbawa. Pihaknya juga melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan yang keluar dan masuk Sumbawa. Pemeriksaan ini dilakukan bekerja sama dengan aparat kepolisian. Tujuannya untuk mencegah masuknya HPR.

“Hasilnya, ditemukan seorang penumpang yang membawa kucing. Akhirnya, dilakukan penolakan  karena kucing merupakan HPR,” jelasnya.

Menurut Raka, pihaknya melarang masuk dan keluarnya HPR ke Pulau Sumbawa. Apalagi belum lama ini terjadi kasus rabies di Kecamatan Tarano, yang langsung berbatasan dengan Dompu. Dalam hal ini, SKP bertugas untuk melakukan pemantauan di pelabuhan-pelabuhan. Sementara di daerah merupakan tupoksi dinas terkait. Pihaknya kini memperketat pengawasan, agar Pulau Lombok tidak terkontaminasi rabies. (en/run/r3)

Berita Lainnya

Mantan Kades Kemuning Diserahkan ke Lapas Mataram

Redaksi Lombok Post

HUT RI, Enam Napi Langsung Bebas

Redaksi Lombok Post

Sejumlah Taman Dibiarkan Terbengkalai

Redaksi Lombok Post

Petani Keluhkan Anjloknya Harga Garam

Redaksi Lombok Post

Jembatan Kananta Masuk Prioritas Provinsi

Redaksi Lombok Post

BUMDes Didorong Lahirkan Produk Unggulan

Redaksi Lombok Post

Anggota Dewan Terpilih Ditetapkan

Redaksi Lombok Post

Lakalantas di Jalur Baru, Tiga Orang Meninggal

Redaksi Lombok Post

Sejumlah Perda Bakal Direvisi

Redaksi Lombok Post