Lombok Post
Headline Metropolis

PAD Kena Imbas Mahalnya Tiket Pesawat

TAMPAK LENGANG: Mahalnya tiket pesawat berdampak pada sepinya hunian hotel. Tampak area parkir Hotel Santika yang sepi, kemarin (13/2).

MATARAM-Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Mataram memprediksi, mahalnya tiket pesawat akan berpengaruh pada tingkat kunjungan wisatawan ke Lombok. Jika berlangsung lama. maka dikhawatirkan berkurangnya tingkat hunian hotel.

Jika ini terjadi, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Mataram dipastikan terkena imbasnya. “Melihat kondisi sekarang, tingkat hunian hotel sudah berkurang, selain hotel ada restoran juga karena ada UMKM di dalamnya,” kata Kepala BKD Kota Mataram H M Syakirin Hukmi, kemarin (13/2).

Dijelaskan, potensi PAD Kota Mataram selain dari restoran, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak Penerangan Jalan, ada pajak perhotelan yang cukup menjanjikan. Tahun ini saja, BKD Kota Mataram menargetkan penarikan pajak hotel sebesar Rp 26 miliar. Begitu juga dengan restoran.

Berkaca dari 2018, penarikan pajak perhotelan ini perlu genjot lagi. Seperti mengoptimalkan petugas pemungut pajak dengan mengecek, melihat, dan memantau kondisi wajib pajak di lapangan. Biasanya dilakukan hanya sebulan sekali, namun tahun ini mulai diterapkan pemantauan sebanyak tiga sampai empat kali dalam sebulan.

“Tentunya langkah ini yang bisa kami lakukan, agar pajak bisa mendekati potensi riil,” terang Syakirin.

Ia berharap, harga tiket pesawat mahal dan bagasi berbayar, jangan sampai diterapkan terlalu lama. Pemerintah pusat harus tegas dan jeli melihat fenomena ini. Karena akan berdampak pada sektor lain. Tentu, yang paling terasa di sektor pariwisata. Apalagi pascagempa, Syakirin mengakui, sektor pariwisata Kota Mataram saat ini masih dalam kondisi stagnan.

Berbicara soal pariwisata Kota Mataram, memang  berbeda dengan daerah-daerah lain di NTB, tidak ada keindahan wisata alam yang bisa disajikan. Yang bisa diandalkan hanyalah wisata kuliner dan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) atau hunian hotel.

“Kalau harga tiket bisa bersaing, tentu saja pariwisata lebih bergeliat lagi, begitu juga di Kota Mataram. Sehingga ada peningkatan PAD dari tahun-tahun sebelumnya,” jelas  Syakirin.

Sementara dari sektor perizinan, dirinya belum terlalu optimis. Meski revisi Perda RTRW telah disahkan, yang artinya pintu sudah terbuka lebar bagi para penanam modal. Memang sudah ada beberapa hotel yang mengajukan izin, atau hotel yang mulai melanjutkan pembangunannya, karena beberapa waktu lalu sempat tersendat.

Namun dampak terhadap PAD belum bisa dirasakan dalam waktu dekat. Pihaknya belum menghitung itu sebagai potensi. Karena hotel harus beroperasi terlebih dulu, baru bisa dihitung potensinya untuk PAD.

“Ini kan belum kelihatan pembangunannya, memang akan berdampak ke PAD, tetapi nanti di 2020,” pungkasnya. (yun/r5)

Berita Lainnya

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Zohri Spektakuler! Genggam Tiket ke Tokyo 2020

BNI Tebar 100 Ribu Bingkisan Ramadan

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum

Progres RTG Belum Sesuai Harapan

Alhamdulillah, Bantuan Jadup Cair Besok