Lombok Post
Sportivo

Panggung El Fideo dan Le Collectif

Manchester United's French midfielder Paul Pogba (L) reacts as Paris Saint-Germain's French striker Kylian Mbappe is mobbed by teammates after scoring his team;s second goal during the first leg of the UEFA Champions League round of 16 football match between Manchester United and Paris Saint-Germain (PSG) at Old Trafford in Manchester, north-west England on February 12, 2019. (Photo by Paul ELLIS / AFP)

MANCHESTER-Old Trafford bukan menjadi milik Manchester United kemarin WIB (13/2). Winger Paris Saint-Germain (PSG) Angel Di Maria dan Le Collectif-sebutan pendukung ultras PSG-yang menjadikan Theatre of Dreams sebagai panggungnya. Di kandang sendiri, United di era Ole Gunnar Solskjaer pun kehilangan streak 11 laga unbeaten-nya.

PSG mempermalukan United dengan dua gol tanpa balas saat leg pertama 16 Besar Liga Champions. El Fideo yang mampu menuntaskan balas dendamnya ke The Red Devils dengan 2 assists-nya. Gol-gol dari Presnel Kimpembe (menit ke-53) dan Kylian Mbappe (60′) terjadi dari kreasi pemain yang terdepak dari Carrington pada musim panas 2015 itu.

Ya, ini comeback pertama Di Maria ke Manchester setelah musim terburuknya di United. Direkrut dari Real Madrid sebagai pemain termahal di Inggris ketika musim panas 2014 dengan fee GBP 59,7 juta (Rp 1,08 triliun), pemain berkebangsaan Argentina itu cuma 33 kali dipasang Louis van Gaal -tactician United kala itu. Penampilan terminimnya selama berkarir di Eropa.

Dengan hanya 63,6 persen peluang starter plus jebloknya prestasi United musim itu, saat akhir musim dia dilego ke PSG dengan fee lebih murah jadi GBP 44 juta (Rp 899,3 miliar). Dia pergi dengan diiringi label sebagai rekrutan terburuk United musim itu dari pundit dan jurnalis-jurnalis Inggris.
”Persetan kalian!” begitu teriakan Di Maria dengan disertai sumpah serapahnya memakai Bahasa Spanyol kepada fans United di East Stand Old Trafford. Itu dia lakukan setelah assist di balik gol Kimpembe. Teriakan dan sumpah serapah itu dia lakukan setelah menjadi sasaran boo fans United selama lebih dari 50 menit.

Selain dari East Stand, telinga winger 30 tahun itu sudah dibuat panas dengan cacian dan hinaan fans dari Sir Alex Ferguson Stand. Bukan hanya boo. Di Maria juga mendapat lemparan botol bir ketika hendak mengambil tendangan bebas. Bahkan sebelum dia menyuplai umpan ke Mbappe. ”Disertai kata-kata cacian,” ucap seorang jurnalis surat kabar Paris, Le Parisien, Julien Laurens dalam program BBC Radio 5 Live.

The Independent mengklaim, lemparan botol ke Di Maria itu bakal masuk dalam agenda investigasi Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA). Begitu pula dengan ucapan kotor Di Maria. Laurens menyebut itu sebagai efek dari pelampiasan rasa frustrasinya Di Maria. ”Sebab, dia tak merasa melakukan kesalahan di masa lalu yang membuatnya layak dicemooh. Kupikir dia tidak mengharapkan sambutan seperti itu,” lanjutnya.

Teror di lapangan pun sama kerasnya. Terutama dari bek kiri United Ashley Young. Pada menit ke-39 Di Maria sampai terlempar menghantam a-board setelah dilabrak Young. Tactician PSG Thomas Tuchel sampai sewot dan menilai wasit Daniele Orsato layak menghadiahi Young dengan kartu kuning karena ulahnya itu.

Young termasuk sisi lemah United yang mampu dieksplorasi Les Parisiens. Itu yang bisa dilakukan Di Maria. Young yang gagal meredam Di Maria sebelum mengirimkan crossing pada Presnel Kimpembe. Di Maria pun seolah paham antisipasi bola-bola crossing jadi kelemahan di lini pertahanan United. Empat crossing yang dia lakukan sepanjang laga

Besarnya tekanan yang didapatkan Di Maria itu salah satu alasan kenapa Tuchel menarik si pemain pada menit ke-81, dan memasukkan bek 20 tahun, Colin Dagba. Seperti yang dilansir Foot Mercato, Tuchel memuji kekuatan mental Di Maria. ”Dia tetap memberikan segalanya dan tetap konfiden meski dihantam tekanan sebesar itu,” sebut Tuchel.

Untung, tekanan yang didapat Di Maria itu diimbangi dengan “serangan” dari kelompok ultras PSG, Le Collectife. Atau yang biasa disebut CUP (le Collectife Ultras Paris). Dilaporkan, ada 3.500 fans PSG yang melawat ke Manchester. Dari jumlah itu, 800 orang di antaranya ultras Le Collectif.

Sebelum laga mereka menguasai jalanan Manchester. Di dalam Old Trafford mereka pun lebih dominan ketimbang fans tuan rumah. Selain dengan chant-chant-nya, ultras PSG semakin memanaskan di dalam dan di luar stadion dengan flare. BBC Sport mengklaim ada seorang fans PSG yang dirawat paramedis karena cedera tangan akibat flare.

Nah, itu yang menjadi energi untuk Thiago Silva dkk. Mereka bak main di rumah sendiri seperti yang diungkapkan gelandang PSG, Julian Draxler. ”Sejak pemanasan, saya cuma dengar suara mereka (fans PSG). Menakjubkan, sukses membantu kami menciptakan atmosfer bagus,” ungkap Jule, sapaan akrab Draxler, seperti dilansir dari situs Paris Team. (ren/jpg/r10)

Berita Lainnya

Bonus Rumah Untuk Atlet Makin Ruwet

Redaksi LombokPost

Merayu Lewat Zizou

Redaksi LombokPost

Menanti Debut Owi/Winny Terjun di Barcelona Spain Masters Pekan Depan

Redaksi LombokPost

Demi Happy Ending Hazard

Redaksi LombokPost

Jangan Menyerah Iswandi

Redaksi LombokPost

Sejarah Baru, Atun Dipanggil Perkuat Timnas Sepak Bola Wanita

Redaksi LombokPost

Jelang PON, Bima Eka Semakin Pertajam Poin

Redaksi LombokPost

Sapwa Bidik Peringkat 15 Dunia

Redaksi LombokPost

KONI NTB Raih Penghargaan SIWO PWI

Redaksi LombokPost