Lombok Post
Metropolis

Pengusaha Hotel Menjerit!

LIBURAN DULU: Beberapa wisatawan mancanegara sedang mencari angkutan umum di Terminal Mandalika, beberapa waktu lalu.

MATARAM-Okupansi hotel ambruk. Rata-rata dalam dua bulan terakhir di bawah 30 persen. Bahkan hotel-hotel kategori medium hingga kecil okupansinya melorot hingga di bawah 15 persen.

“Selama Februari ini, baru 7 orang yang masuk ke hotel saya,” keluh Adi Yasa, pengelola Nutana Hotel Mataram.

Sementara pada bulan Januari lalu pun, kondisinya tak lebih baik. Hal ini lantas membuat para pengelola hotel termasuk dirinya melakukan rasionalisasi.

“Dari pengurangan pegawai hingga tarik modal,” terangnya.

Adi mengatakan, ia tak punya pilihan lain. Terutama untuk menutupi biaya operasional hotel. Bahkan low season diperkirakan akan terus terjadi.

“Hingga bulan April,” duganya.

Ia sendiri belum mengetahui alasan pasti. Apa penyebab kunjungan wisatawan ke kota ambruk. Ia membandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebih ramai. Dan mencukupi kunjungannya untuk menutupi biaya operasional.

“Bukan karena gempa. Saya juga tidak melihat ini ada kaitannya dengan ongkos pesawat yang mahal,” jelasnya.

Tapi dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun lalu. Atau tahun-tahun sebelumnya. Maka tahun inilah yang paling buruk.

“Padahal saya sudah diskon harga hingga 60 persen, cukup buat tutupi operasional saja. Tetap saja sepi,” keluhnya.

Adi membandingkan dengan kondisi di Banyuwangi, Jawa Timur. Di mana wisatawan ternyata tetap ramai. Oleh karena harga tiket miring di sana.

“Coba bayangkan harga tiket Banyuwangi-Kuala Lumpur itu Rp 250 ribu, masuk akal nggak?” bandingnya.

Adi menduga, Pemerintah Daerah di sana berani mengambil keputusan besar. Mendorong wisatawan tetap ramai di awal tahun.

“Kalau tidak disubsidi pemerintah, mana mungkin harga bisa semurah itu,” cetusnya.

Andai saja pemerintah provinsi hingga pemerintah kota bisa melakukan hal yang sama. Seperti yang diupayakan pemerintah Banyuwangi. Adi yakin, para pelaku perhotelan tidak akan sesakit ini melewati masa low season.

“Tapi sepertinya pemerintah kita lebih senang pada kegiatan-kegiatan seremoni,” sindirnya.

Kegiatan itu menurutnya jelas-jelas tidak ada faedahnya bagi para pelaku jasa wisata. Karena yang menikmati sajiannya lebih banyak masyarakat lokal. Sementara target wisatawan tidak pernah tercapai.

“Dulu dalam event great sale, kita pernah diminta turunkan harga hingga 70 persen. Tapi pertanyaannya wisatawannya mana? Gak ada!” sesalnya.

Adi berharap. Mewakili banyak pelaku perhotelan. Pemerintah mau mengevaluasi programnya.

“Kasih subsidi aja tiket ke sini, pasti ramai!” yakinnya.

Jika ramai, gelombang PHK pun tidak perlu dilakukan. Logika para wisatawan lanjut Adi sebenarnya mudah. Asal ada harga yang murah mereka pasti mau melakukan perjalanan ke mana saja.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram I Made Swastika Negara mengakui. Pihaknya belum merancang program apa saja yang akan digelar. Mendorong jumlah wisatawan meningkat ke ibu kota.

“Tapi secara umum, kami tidak mungkin keluar dari kalender event,” kata Swastika.

Bahkan jika sebelumnya dalam kalender event. Ada program great sale di awal tahun. Swastika memilih untuk mengikuti perubahan kalender event.

“Rencananya Agustus. Yang di awal ini Provinsi,” terangnya.

Swastika lebih tertarik. Menghidupkan beberapa situs pariwisata dengan konten lokal. Daripada memancing agar wisatawan mau datang ke kota dan menginap.

“Seperti pasar seni Sayang-Sayang nanti kita hidupkan dengan pagelaran seni dan budaya,” ujarnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Dapil Satu-Dua Milik Kepala Garuda

320 Jamaah Belum Lunasi BPIH

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

Caleg Gagal Malas Hadiri Rapat Paripurna

Pansus DPRD Terima LKPJ Wali Kota Tahun Anggaran 2018

Perjuangan Para Pahlawan Demokrasi Mewujudkan Pemilu Jujur dan Adil

Restoran Siap Saji Dapat Toleransi