Lombok Post
Metropolis

Empat Hewan Pembawa Rabies Ditemukan Balai Karantina

PERKETAT PENGAWASAN: Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram saat memeriksa muatan sejumlah kendaraan yang baru keluar dari Pelabuhan Lembar tadi malam sekitar pukul 22.00 Wita.

GIRI MENANG-Ancaman Virus Rabies yang semakin meresahkan mendapat perhatian serius Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram. Semenjak pengawasan diperketat mulai Januari, ada empat Hewan Pembawa Rabies (HPR) yang hendak dimasukkan ke Pulau Lombok oleh para pemiliknya. Tiga di antaranya anjing dari Pulau Sumbawa. Masuknya HPR tersebut digagalkan.

                Tadi malam (15/2), menggandeng sejumlah pihak, Balai Karantina Kelas I Mataram menggelar operasi patuh karantina di jalan raya depan kantor mereka di kawasan Pelabuhan Lembar. Seluruh kendaraan yang baru datang dari Bali diperiksa. Baik kendaraan pribadi maupun kendaraan barang, dan angkutan umum.

“Kami ingin memastikan tidak ada satupun Hewan Penular Rabies (HPR) yang masuk dari daerah tertular yakni Bali ke Lombok,” kata Kepala Balai Karantina Kelas I Mataram Arinaung Siregar yang memimpin langsung operasi tersebut.

Operasi berlangsung selama beberapa jam. Dan tidak ditemukan ada kendaraan yang membawa HPR. Pantauan Lombok Post, ada sejumlah kendaraan yang membawa hewan dan produk olahan hewan. Namun, jenisnya unggas. Seperti bibit ayam kampung, hingga produk hasil olahan hewan. Semisal telur, mentega, hingga susu.

Para sopir kendaraan diminta memasukkan kendaraannya ke dalam area kantor Balai Karantina. Kemudian petugas bersama dokter hewan memeriksa muatan kendaraan satu per satu.

“Saya hanya bawa bibit ayam. Kalau ini memang harus dikarantina. Di semua pelabuhan pasti saya laporkan ke pihak karantina,” aku Hartono, salah seorang sopir kendaraan asal Kediri Jawa Timur kepada Lombok Post.

Untuk mendapatkan sertifikat jalan dari balai karantina, Hartono harus membayar Rp 10 ribu. Jika kondisi hewan yang dibawanya tidak ada masalah setelah diperiksa.

“Kalau untuk bawa anjing atau kucing saya nggak pernah. Cuma bawa ini saja (unggas, Red),” akunya ketika ditanya apakah dirinya pernah mengangkut hewan peliharaan jenis anjing atau kucing keluar masuk Lombok.

Namun demikian, Arinaung mengakui, peluang masuknya HPR ke Pulau Lombok sangat tinggi. Karena Lombok saat ini diapit Pulau Bali dan Sumbawa yang merupakan daerah tertular Rabies. Maka, pihak Balai Karantina mengaku menguatkan koordinasi dengan Pemda Lobar, Pemprov NTB, BKSDA, KSOP, ASDP, Pelindo dan kepolisian sektor kawasan pelabuhan.

Hasilnya, selama pemeriksaan sejak awal Januari, empat HPR berhasil ditemukan dan digagalkan masuk atau keluar ke Pulau Lombok. Rinciannya, ada tiga ekor anjing dan seekor kucing.

“Dari empat yang kami temukan, tiga di antaranya di Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur dan satu di Pelabuhan Pemenang Lombok Utara,” ungkap Arinaung.

Untuk di Pelabuhan Kayangan, pihaknya menemukan dua ekor anjing dan satu kucing. Hewan ini adalah hewan peliharaan warga yang berasal dari Pulau Sumbawa. Pemiliknya hendak membawanya masuk ke Pulau Lombok.

“Itu kami tolak. Karena sesuai peraturan kementerian, itu tidak boleh masuk. Jadi kami kembalikan ke Pulau Sumbawa,” tegasnya.

Begitu juga dengan kasus yang ditemukan di Pelabuhan Pemenang. Seekor anjing peliharaan hendak di bawa keluar pemiliknya menuju Pulau Bali menggunakan kapal cepat. Oleh pihak Balai Karantina bersama instansi terkait, menggagalkan aksi tersebut.

“Hewan itu harus diam di Pulau Lombok. Karena HPR pada prinsipnya tidak boleh keluar masuk dari daerah tertular Rabies,” lanjut mantan Kepala Balai Karantina Palembang tersebut.

Pihak Balai Karantina mengaku berkomitmen melakukan pengawasan untuk menjaga Lombok tetap menjadi daerah bebas Rabies. Karena Lombok merupakan daerah pariwisata. Jika Lombok tertular Virus Rabies, ini tidak hanya membahayakan bagi nyawa penduduknya tetapi juga akan berdampak pada sektor pariwisata maupun sektor ekonomi.

“Makanya, sambil melakukan pengawasan ini kami juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar bisa memahami aturan yang ada,” ungkapnya.

Sesuai Peraturan Kementerian Pertanian Nomor 096 tahun 1999 masyarakat dilarang membawa keluar masuk HPR anjing, kucing, dan kera dari dan ke daerah tertular rabies. Masyarakat yang melanggar peraturan tersebut bisa dikenakan sanksi pidana.

“Terkait pidana penularan Rabies, ada pihak PPNS dari Balai Karantina yang berhak menanganinya. Kami dari sektor Pelabuhan hanya bertugas mengawasi,” timpal Kapolsek KP3 Lembar Ipda Ivan Roland.

Apabila ditemukan, karantina yang melakukan proses hukum. Jika ada kendala dalam proses penyelidikan dan penyidikan, baru pihaknya bisa memback up pihak balai karantina.

Selain melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan yang masuk, pihak Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram juga menyiapkan program untuk mengeleminasi anjing liar yang ada di kawasan Pelabuhan Lembar. (ton/r8)

Berita Lainnya

Rekonstruksi Sudah Progresif, Presiden Instruksikan Jajaran Terus Lakukan Percepatan

Redaksi LombokPost

Kabar Gembira untuk Infrastruktur

Redaksi LombokPost

Revitalisasi KBC Dilanjutkan, Ini Sumber Dananya

Redaksi LombokPost

Durian Runtuh buat PNS, Rapelan Gaji Masih Tunggu Hitungan Taspen

Redaksi LombokPost

Cara Menghilangkan Bau Tak Sedap di Sepatu ala BROOK.LIN

Redaksi LombokPost

Relokasi Dua Pasar Belum Jelas

Redaksi LombokPost

Warga Harus Tetap Waspada DBD

Redaksi LombokPost

Dua Jempol untuk Dinas PUPR

Redaksi LombokPost

Ahyar Bisiki Presiden Jokowi, Rehab Rekon Terkendala Semen dan Tukang

Redaksi LombokPost