Lombok Post
Metropolis

Kaderlan Pencari Damai di Rumah Panggung dari Kayu Bekas

NIKMATI HIDUP: Kaderlan sedang duduk di teras rumah kayunya, sembari menikmati suasana siang yang gerimis di pinggir Jalan Ahmad Yani, Sayang-Sayang, kemarin (15/2).

Ragam cara orang mencari kedamaian dan ketenangan dalam hidup. Pria ini memilih dengan membangun rumah panggung dari kayu-kayu bekas. Berikut laporannya.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

=================================

SIANG itu langit menebal gelap. Pria berambut panjang dengan kulit coklat datang dengan mengendarai sepeda motor bebek. Senyumnya simpul sembari menenteng karung. Di dalamnya ada beras, kacang, dan beberapa bumbu dapur.  “Mau syukuran,” ujarnya.

Nama pria itu Kaderlan. Ia biasa di sapa Kader. Kedatangannya untuk menyambangi sekaligus mempersiapkan segala sesuatunya. Sebelum ia menempati rumah panggung dari kayu bekas. “Ini semua bekas-bekas,” tunjuk Kader bangga.

Kayu gelondongan dibelah-belah. Tak ada pahatan khusus. Semua dibuat alami. Lalu disusun menjadi beberapa kamar. Di rumah itu Kader, istri, dan anaknya akan tinggal.

Sebagaimana tradisi. Sebelum ditempati rumah harus doa-doa dulu. Memohon pada Sang Pencipta kebaikan selalu hadir dalam rumah.

“Saya ingin seperti orang-orang Sasak dulu, yang menghormati kearifan lokal,” ungkapnya.

Kader sebenarnya lahir dari keluarga cukup mampu. Tapi pilihannya menempati rumah dari kayu bekas, menegaskan ia tak hanya mencari kemewahan belaka. Kader bahkan mengatakan, ia sudah jenuh dengan kemewahan dan glamornya dunia. “Saya kerja di pariwisata di gili-gili,” terangnya.

Ia menolak menyebutkan apa pekerjaan itu. Tapi yang jelas, pekerjaan itu membuat ia sangat mudah mendapatkan kesenangan dan uang. “Uang cepat didapat, tapi cepat juga habisnya. Nyaris tidak ada rasanya. Semu,” kata Kader.

Namun lambat laun ia bosan. Dan kini berpikir ingin berhenti. Bulatnya tekad Kader berhenti dari dunia pariwisata pun ditandai dengan rumah dari kayu bekas yang ia bangun. “Di sini saya ingin menjalani kehidupan layaknya orang-orang Sasak dulu,” ungkapnya.

Istrinya pun sempat menyebut karyanya serupa rumah tengah hutan. Tapi Kader justru bangga. Dan menganggap rumah dengan arsitektur sangat klasik itu mewakili keinginannya untuk kembali ke alam. “Bahasa kerennya back to nature,” ungkapnya.

Keinginannya untuk hidup sederhana. Dengan rumah dari kayu bekas sebenarnya bermula dari pengalaman beli nasi di Kuta, Lombok Tengah. Saat itu Kader tiba-tiba sangat ingin makan di warung.

“Tidak seperti kebanyakan warung lain, di tempat itu kita dilayani seperti keluarga,” kisahnya.

Porsi nasi yang banyak. Ditambah lauk-pauk yang lengkap. Plus diberi minuman hangat. Tapi harga ternyata sama persis dengan warung yang menyiapkan nasi dan lauk sedikit.

“Ibu yang menjual juga sangat ramah. Seperti ibu kandung cara dia menjamu dan menghormati pelanggannya,” terangnya.

Sejak saat itu. Entah bagaimana Kader jadi sangat rindu dengan kehidupan masyarakat Sasak yang ramah dan lugu. “Polos dan tak suka berbohong,” ujarnya.

Sikap dan perilaku yang tak ia temui. Di masyarakat modern perkotaan. Kader mengaku sangat rindu dengan suasana itu.

“Kalau makan begibung, tolong-menolong, saling tukar lauk hingga bumbu dapur, benar-benar suasana kekeluargaan yang indah,” ujarnya.

Kader sempat menikmati suasana kekeluargaan pedesaan yang indah itu. Saat ia masih kecil. Sampai akhirnya kini semua berubah. Di mana orang-orang lebih sibuk dengan urusan pribadi. Dan melupakan keadaan tetangganya.

“Bahkan bertamu dan saling tegur sapa saja, orang-orang sudah tidak ada waktu,” sesalnya.

Kader mengaku tidak bisa mengubah keadaan ini. Ia menganggap ini bagian dari akibat keinginan memodernisasi peradaban. Tapi ia menolak untuk mengikutinya. Dan menginginkan kembali ke masa itu.

“Saya tidak bisa mengubah keadaan. Tapi saya bisa membuat hidup saya kembali ke masa itu,” kenangnya.

Karena itu ia memilih tinggal di kawasan yang masih ada persawahannya. Tak jauh dari situ ada sungai yang selalu memainkan orkestra alam yang tenang.

Putra dari Rusni dan Hamimah ini pun tidak ingin kembali ke gili. Ia ingin hidup seperti rakyat biasa, khas pedesaan.

“Nanti kalau sudah tinggal di sini, saya ingin jualan ubi, singkong, beras, dan sayur-sayuran,” terangnya.

Selain alasan ingin kembali ke alam. Kader mengaku rumah kayunya lebih aman dari bahaya gempa. Rumahnya pun dibuat seperti rumah panggung. Dengan fondasi dari batu bata. “Biar ular gak masuk,” ujarnya sembari mengulum senyum.

Rumah itu dibangun dengan biaya kurang dari Rp 15 juta. Atas bantuan saudara-saudaranya rumah itu bisa cepat selesai. “Ada sekitar satu bulan, hampir selesai. Tinggal pasang jendela saja,” ujarnya.

Sementara, kilometer listrik sudah ia pasang. Kader berharap kelak jika ia tinggal di sana akan banyak menemukan sahabat yang memiliki mimpisama dengannya.

“Membangun persaudaraan. Tidak hanya sekedar jadi batur (teman), tapi juga jadi semeton (sahabat),” tutupnya. (*/r7)

Berita Lainnya

Rekonstruksi Sudah Progresif, Presiden Instruksikan Jajaran Terus Lakukan Percepatan

Redaksi LombokPost

Kabar Gembira untuk Infrastruktur

Redaksi LombokPost

Revitalisasi KBC Dilanjutkan, Ini Sumber Dananya

Redaksi LombokPost

Durian Runtuh buat PNS, Rapelan Gaji Masih Tunggu Hitungan Taspen

Redaksi LombokPost

Cara Menghilangkan Bau Tak Sedap di Sepatu ala BROOK.LIN

Redaksi LombokPost

Relokasi Dua Pasar Belum Jelas

Redaksi LombokPost

Warga Harus Tetap Waspada DBD

Redaksi LombokPost

Dua Jempol untuk Dinas PUPR

Redaksi LombokPost

Ahyar Bisiki Presiden Jokowi, Rehab Rekon Terkendala Semen dan Tukang

Redaksi LombokPost