Lombok Post
Headline Metropolis

Kemal: Warga Jangan Manja!

ILEGAL: Seorang warga tengah mencari keong di sungai. Tak jauh dari tempatnya ada rumah kumuh berderet di bantaran kali di kawasan Majeluk, kemarin (17/2).

MATARAM-Rumah kumuh di bantaran sungai masih banyak. Tidak hanya di bawah jembatan Sindu, Cakanegara Barat. Deretan rumah kumuh juga terlihat di bawah jembatan Majeluk, Mataram.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Mataram HM Kemal Islam mengatakan, pihaknya siap saja menampung mereka. “Dengan catatan mereka warga tidak mampu, layak dibantu dari sisi sosial, gelandangan, fakir miskin,” kata Kemal.

Rusunawa yang ia punya masih banyak lowong. Siap menampung warga miskin ibu kota. Ia mencontohkan, di rusunawa Selagalas masih ada sisa sekitar 20 kamar. Kemal mempersilakan warga yang tertarik tinggal di sana mengajukan diri. Pihaknya juga siap mensubsidi biaya tinggal selama satu tahun. “Pascagempa banyak yang keluar dari sana,” terangnya.

Pada dasarnya lanjut dia, Rusunawa yang ada memang diperuntukan bagi warga yang tidak mampu. Setelah berdaya secara ekonomi mereka harus keluar dan memberi kesempatan bagi warga miskin lain tinggal di sana.

Menurutnya keberadaan rusunawa itu sebenarnya merepresentasikan amanat Undang-Undang. Di mana fakir miskin dan orang-orang telantar dilindungi oleh negara. “Sesuai amanat pasal 34,” retorisnya.

Tapi masyarakat juga tidak boleh ngeyel. Memaksakan diri tinggal di bantaran kali. Padahal secara aturan jelas-jelas dilarang. Sebab pemerintah sewaktu-waktu dapat turun menertibkan mereka. Supaya tidak tinggal di sana lagi. Demi keperluan inspeksi saluran sungai.

Alasan pekerjaan tidak dibenarkan untuk melanggengkan pelanggaran. Seperti membangun rumah di bantaran sungai. Semisal jika pekerjaannya yakni menguruk pasir di sungai.

“Saya rasa itu bukan pekerjaan utama, tapi sampingan saja. Dan mana ada pasir di sungai kita saat ini, semua habis dikeruk,” cetusnya.

Jika pun ngoyo ingin mengangkut pasir, Kemal menilai tak jadi soal. Tinggal warga pulang pergi dari rusunawa ke sungai-sungai tempat biasa bekerja. Dengan begitu, pekerjaan mereka tidak terganggu.

“Saya kasih contoh ya, orang Rumbuk semua jualan ikan, tapi apa ada pantai di sana? Nggak kan. Jadi jangan manja!” bandingnya.

Sebenarnya yang penting menurutnya mau bekerja. Soal akomodasi, ia yakin bisa disiasati. Yang penting saat ini bisa tinggal di tempat yang layak dan aman bagi keluarganya.

“Makanya (yang di bawah jembatan Sindu) tetap akan kita tertibkan, besok senin (hari ini) kita minta mereka, segera tempati Rusunawa di selagalas. Itu solusi yang kami berikan,” tandasnya. (zad/r7)

Berita Lainnya

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Zohri Spektakuler! Genggam Tiket ke Tokyo 2020

BNI Tebar 100 Ribu Bingkisan Ramadan

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum

Progres RTG Belum Sesuai Harapan

Alhamdulillah, Bantuan Jadup Cair Besok