Lombok Post
Headline Metropolis

Racun Super Mahal Penghadang Rabies

TAK BERKUTIK: Seorang warga memperhatikan beberapa ekor anjing liar yang tewas setelah memakan racun yang dilepas Dinas Pertanian Kota Mataram, Sabtu (16/2) malam

Kabar rabies dari Pulau Sumbawa membuat ibu kota waspada tingkat tinggi. Anjing-anjing tak bertuan diburu, di beri makan, lalu tewas di tempat!

—————————————————–

MALAM merayap dengan sabar. Kabut dingin menebal di langit Cakranegara. Bisik-bisik suara di keheningan malam meluruh. Di antara gelapnya malam dan gemerisik dedaunan.

Di bawah remang-remang lampu tua. Berugak rapuh dengan alas bambu. Beberapa piring hidangan ala kadar. Menemani kehangatan canda pria-pria penikmat lady pink.

Lingkungan Panaraga Utara boleh terlelap. Namun bintang penuh debu itu malah kian terjaga. Dengan kepala tengadah mendongak dan lalu mengawasi siapa saja dengan waspada. Sekali waktu tak segan mengejar yang terlihat berani menatang!

Tak jauh dari sana. Kantor Lurah Sapta Marga ramai oleh pria-pria berbaju gelap. Adapula yang berseragam aparat. Berbicara ala kadar mengatur siasat.

“Berapa menit racun bekerja?” tanya Jose Da Costa, Babinsa di wilayah Sapta Marga.

Jose khawatir racun tak bekerja efektif. Bisa-bisa binatang penuh debu itu, lari terbirit-birit dan mati di tengah permukiman warga. Itu bisa jadi persoalan baru lebih pelik. Karenannya racun yang harus digunakan bisa bekerja dalam hitungan menit. Begitu umpan diberikan anjing liar itu mesti tewas di tempat. “Nanti bisa jadi masalah lain,” cetusnya.

Jose juga menekankan anjing yang diracun benar-benar liar. Mengingat tak sedikit warga di Lingkungan Paneraga Utara memelihara anjing. Tapi kerisauan itu terjawab. Sebelumnya pihak kelurahan telah menyebar selebaran.

Isinya mengimbau pada warga pemelihara anjing tidak membiarkan hewannya berkeliaran. Karena ada kegiatan eliminasi.

“Sudah ditempelkan selebaran dan warga sekitar juga telah diberikan penjelasan,” kata seorang staf kelurahan yang ikut dalam kegiatan malam itu.

Malam makin larut. Jam menunjukan pukul 11 malam. Tak biasanya, anjing yang biasa berkumpul tak jauh dari kantor lurah itu malas menyalak. Made Sukarini keluar dari rumahnya. Wanita yang rumahnya persis di samping kantor Lurah Sapta Marga itu, penasaran dengan suara ribut-ribut di luar rumahnya.

“Ada apa pak?” tanya Made, dengan wajah heran.

Ibu rumah tangga itu manggut-manggut. Usai tahu anjing-anjing yang biasa ramai di samping rumahnya itu bakal di racun. Ia tak menolak. Justru mendukung. Anjing itu sudah terlalu lama meneror warga yang lewat di sana. “E… kadang orang-orang di kejar, pak!” tutur Made.

Bahkan tidak sedikit yang akhirnya digigit. Warga sekitar sudah berusaha menghalau anjing-anjing liar itu. Mengejar. Ke sana-ke mari. Memburu dengan galah. Sampai melempari dengan batu. Tapi bukannya kapok anjing-anjing itu datang lagi. Lalu berkumpul lagi di sana dengan tenang.

“Memang markasnya di situ pak, kalau malam biih… lebih ramai,” kisahnya.

Beruntungnya yang digigit tak sampai kena penyakit. Warga pun lama kelamaan bosan juga setiap malam harus memburu anjing-anjing itu. Setelah dikejar kembali lagi. Begitu berulang-ulang. Sampai akhirnya dibiarkan saja apa maunya.

“Ada yang hitam itu, suka ngejar dan gigit,” sebutnya spesifik.

Seorang warga lain yang ikut menonton juga berkisah. Fondasi rumahnya sampai berlobang karena anjing itu menggaruk-garuk tak jelas. Ia kerap dibuat dongkol. Tapi ia juga tidak tahu dari mana datangnya anjing-anjing itu.

“Ndak tahu datang dari mana. Tiba-tiba sudah banyak saja di sini,” kata pria itu.

Di sudut kantor lurah yang lain. Beberapa orang menyiapkan umpan. Satu plastik besar berisi tulang ayam dan itik disiapkan. Lengkap dengan bumbunya yang khas.

“Kita beli di rumah makan Ayam Taliwang,” kata seorang petugas.

Tahap pertama disiapkan 30 umpan. Sejumput tulang ayam dan itik ditaruh di atas kertas minyak. Lalu setengah sendok teh racun dibubuhkan. Menurut Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli, racun itu bukan racun biasa.

Tapi termasuk racun yang lebih berbahaya dari Sianida. Nama racun itu Stretchnil. Ada beberapa kelas racun ini. Dan yang digunakan malam itu, kelas paling tinggi. Harganya pun tak main-main. Sekilo, Rp 80 juta!

Harga ini mengingatkan kita akan tarif seorang artis VA (inisial, Red). Dalam kasus prostitusi online yang heboh di tanah air belakangan ini. Dan racun ini berhasil menyamai harga itu.

“se-provinsi hanya dapat 1 kg dari kementerian, itu yang dibagi-bagi ke semua daerah,” jelasnya.

Harga yang mahal ini membuat racun super ini tidak dijual bebas. Kementerian Pertanian harus memesan ke pabrik secara khusus. Daerah pun tak bisa meminta sembarangan. Melainkan harus bersurat secara resmi. Di mana peruntukannya harus dapat dipertanggung jawabkan.

“Satu kilogram itu dibagi-bagi ke daerah dan kita dapat sekitar 100 gram,” ujarnya.

Racun Stretchnil yang asli punya ciri-ciri yang khas. Ia berbentuk serbuk kristal. Mirip serbuk michin atau penyedap rasa. Dan begitu kena sinar langsung berkilauan memantulkan cahaya seperti prisma.

“Lihat ini berkilauan,” kata Mutawalli, saat meneranginya dengan lampu smartphone.

Saat meracik racun dengan umpan. Petugas bekerja dengan eksra hati-hati. Lengkap dengan sarung tangan dan masker. Racun tak boleh tercecer barang secuil. Sarung tangan usai di pakai, kemudian di simpan rapi dalam tas kresek. Begitu juga ranting dan sendok yang digunakan untuk mengaduk.

Bahaya jika racun itu sampai memapar manusia. Karenannya sebisa mungkin bekas meracik disingkirkan jauh-jauh.

“Malam ini tim dibagi jadi tiga tempat, ada yang di sini (Paneraga Utara), ada yang ke Kekalik, dan ke lingkungan yang meminta tadi (Karang Blumbung),” terangnya.

Aksi eliminasi malam itu adalah yang ke 6 kali. Sejak kota, mulai waspada tingkat tinggi terhadap kasus rabies. Mutawali mengakui. Intensitas eliminasi memang ditingkatkan dalam satu bulan terakhir. Khawatir kasus di Sumbawa merembet ke ibu kota.

Permintaan eliminasi pun diakuinya meningkat dari warga. Diwakili oleh Kepala Lingkungan. Baik melalui surat atau pesan singkat. Lebih dari seratus anjing, telah tewas karena terkena racun Stretchnil dalam satu bulan terakhir. Semuanya kategori anjing liar dan kerap mengancam keselamatan warga.

“Yang jelas, kita menggunakan cara yang relatif tidak terlalu menyakiti anjing,” kata Mutawalli.

Racun ini menurutnya bekerja cukup cepat. Jika dibandingkan dengan memukulnya menggunakan benda tumpul hingga mati. Racun itu dinilai lebih ‘ramah’ mencabut nyawa anjing-anjing liar itu.

“Bius juga tidak efektif, sebab anjingnya tidak mati,” bandingnya.

Beberapa ekor anjing mulai menyalak garang. Begitu beberapa petugas keluar dari kantor Lurah Sapta Marga. Seorang petugas mendekati dengan membuka perlahan kertas minyak berisi umpan yang telah diracun.

Anjing-anjing itu semakin ganas. Menyalak siap-siap menerkam. Tapi urung beringas. Begitu mencium aroma menggoda dari kertas minyak yang dibuka.

Tak butuh waktu lama, seekor anjing langsung menyantap tulang-belulang. Mulutnya yang kelaparan, terdengar gemeratuk beradu dengan tulang.

Tiga menit berlalu…

Anjing itu masih berdiri kokoh. Beberapa anjing lain, tak mau ketinggalan dan ikut menyerbu kertas minyak. Malam itu anjing-anjing itu pesta-pora. Menyantap makanan ‘gratis’ tanpa, harus lelah-lelah terjun ke kali seperti malam-malam sebelumnya.

Bau racun Stretchnil tak mereka sadari. Mulut-mulut kelaparan itu tetap lahap menyantap dengan mata penuh kewaspadaan. Tapi kemudian, seekor anjing mulai bertingkah aneh.

Anjing itu menyalak tak karuan. Kaki dan badannya menegang, lalu akhirnya roboh. Mulutnya berliur tanda keracunan.

Kawanan anjing lain memandangi dengan heran. Menyalak-nyalak, seolah bertanya ada apa. Tapi tak membuat mereka sadar ada bahaya. Anjing-anjing itu, malah sibuk mengerubuti temannya yang telah roboh berkalang tanah. Mengejang. Lalu tewas setelah sekarat!

“Yang diserang saraf dan pernapasannya,” terang dokter hewan (drh) Muhammad Irfan Sabri yang ikut malam itu.

Anjing-anjing yang lain pun menyusul. Kejang-kejang, lalu tewas. Setelah sebelumnya mengeluarkan liur yang banyak. Tak hanya dari mulut, anjing-anjing itu pun menitikan air mata.

“Wah saya ndak bisa jawab (sakit atau tidak),” timpal Sabri.

Malam semakin dingin. Jumlah anjing-anjing yang tewas makin banyak. Tak semua mati di bawah 5 menit. Adapula yang sampai bertahan hingga 10 menit. Menurut Sabri, memang ini ada kaitannya dengan daya tahan tubuh anjing yang berbeda-beda.

“Tapi rata-rata di bawah 10 menit, racun ini sangat mematikan,” terangnya.

Sebenarnya menurut sabri ada cara yang lebih efektif. Membunuh anjing-anjing itu dengan lebih cepat. Yakni dengan cara Intravena (IV). Cara ini bisa membuat anjing bisa mati di bawah satu detik. Karena racun langsung diinjekasi melalui pembuluh vena anjing.

Tapi keterbatasan alat dan tenaga untuk memagang anjing terbatas. Akhirnya, cara meracun lewat makanan tetap dilakukan.

“Ada beberapa laporan yang kita terima, di Karang Kemong seorang bocah 6 tahun, didigit anjing peliharaan,” tutur Sabri.

Lalu ada kasus juga di Karang Taliwang dan Gomong. Tapi untungnya semua negatif rabies. Sejauh ini memang kasus rabies di kota belum ada laporan. Tapi pemerintah berupaya mengantisipasi dengan menghadangnya. Dengan cara mengeliminasi anjing liar, dengan racun mahal.

Malam semakin larut. Tujuh ekor anjing telah tewas, setelah diracun. Seekor anjing mendekati teman-temannya yang tak bernyawa. Lalu dengan bingung mengonggong, seolah mengajak pergi. Tapi tak satupun yang menyahut.

Waktu telah lewat tengah malam. Pilihan memang harus diambil. Antara iba pada binatang-binatang itu dan membiarkan lebih banyak yang tergigit. Atau mengeliminasi walau caranya dipandang keji.

“Daripada lebih banyak yan tergigit, ya kita kurangi,” timpal Mutawalli, di malam semakin renta. (zad/r7)

Berita Lainnya

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Zohri Spektakuler! Genggam Tiket ke Tokyo 2020

BNI Tebar 100 Ribu Bingkisan Ramadan

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum

Progres RTG Belum Sesuai Harapan

Alhamdulillah, Bantuan Jadup Cair Besok