Lombok Post
Metropolis

Karsini: Pak Jangan Gusur Kami!

MEMATUNG DI PINTU: Baiq Karsini berdiri di pintu rumahnya, sambil menunggu nasib tak jelas ia dan keluarganya tinggal di bawah jembatan Sindu, Senin (18/2).

MATARAM-Senin (18/2) kemarin, seharusnya jadi hari terakhir Baiq Karsini dan keluarganya tinggal di bawah Jembatan Sindu. Jika mengikuti ultimatum dari Pemerintah Kota Mataram, mereka dan empat KK lainnya, harus segera pindah ke Rusunawa Selagalas.

Tapi hingga siang kemarin, tidak ada tanda-tanda petugas penertiban datang. Karsini pun mengaku sempat cemas.

“Kami tidak mau pindah pak,” kata Karsini dengan wajah sedih pada Lombok Post.

Pindah ke Rusunawa Selagalas bukan pilihan terbaik. Anak-anaknya dan beberapa saudaranya yang lain menolak dipindahkan. Bahkan tidak hanya itu, Karsini mengaku tetangganya ikut membela. Agar ia tidak pergi dari bawah jembatan Sindu.

“Sudah 65 tahun dari Ibu saya tinggal di sini. Saya pun lahir dan besar di sini. Kalau boleh kami tetap tetap tinggal di sini,” imbuhnya.

Sebagai Kompensasi boleh tinggal di sana, ia dan tetangganya bersedia merawat dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar sungai. Tidak akan menutupi jalan inspeksi dengan bangunan-bangunan yang dapat menganggu.

“Kami juga tidak akan ribut-ribut lagi,” imbuhnya.

Tempat itu sudah seperti kampung halaman. Ia ingin tumbuh membesarkan anak-anaknya dan mati di sana. Sebagaimana mendiang Ibunya pun meninggal di sana. Jika dipaksa pindah ke Rusunawa, Karsini tidak tahu bagaimana nasib ia dan anak-anaknya nanti.

“Saya belum ada pekerjaan tetap, hanya jualan kecil-kecilan di atas (jembatan),” ujarnya.

Itupun pendapatan tak seberapa. Karsini dan keluarga besarnya yang tinggal di sana membuka jasa potong ayam. Dari situ mereka dapat upah untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kalau tinggal di Rusunawa kami mau kerja apa? Adik-adik saya makan apa? Sekolah mereka juga bagaimana?” ungkapnya sedih.

Tak hanya Karsini yang menolak di pindah. Rapiah ibu rumah tangga yang tinggal di sana memohon tidak digusur. Ia tidak bisa mebayangkan harus tinggal di Rusunawa lantai paling atas. Sementara gempa tahun lalu sampai saat ini masih membuatnya trauma.

“Daripada saya disuruh tinggal di sana. Lebih baik saya tidur di bawah kolong jembatan, biar sudah tidak ada rumah,” ujar Rapiah sedih.

Jembatan Sindu itu sudah sangat dekat dengan hidupnya. Sejak masih kecil Rapiah tinggal di tempat itu dan merintis usaha kecil-kecilan di sana. Dulu, lanjutnya, kawasan tempatnya bangun rumah itu masih berupa semak-belukar.

“Mohon jangan kami dipindah,” harapanya.

Sudirman warga lain yang ikut diminta pindah mengaku sudah dipanggil pihak kelurahan. Dari petemuan itu ia diminta menjaga kebersihan lingkungan di sana.

“Tadi (kemarin, Red) sudah dipanggil. Disuruh jaga kebersihan. Kami janji akan jaga tempat ini sebaik-baiknya,” janji Sudir.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Kota Mataram Baiq Hasnayati mengatakan jika keluarga di bawah jembatan itu telah dilindungi oleh program-program sosial. Sehingga dalam hematnya seharunya tidak ada kekhwatiran bagi keluarga itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Mereka sudah tercover dalam Program Keluarga Harapan,” kata Hasna.

Hanya saja, dari program keterampilan kerja, Hasna menjawab ratgu. Lima KK yang tinggal di bawah jembatan Sindu itu sudah diberikan program keterampilan. Sehingga siap direlokasi di tempat tinggal yang baru.

“Ya harusnya kalau memang masuk dalam keluarga tidak mampu, bisa kita berikan program pendampingan untuk keterampilan,” cetusnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Dapil Satu-Dua Milik Kepala Garuda

320 Jamaah Belum Lunasi BPIH

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

Caleg Gagal Malas Hadiri Rapat Paripurna

Pansus DPRD Terima LKPJ Wali Kota Tahun Anggaran 2018

Perjuangan Para Pahlawan Demokrasi Mewujudkan Pemilu Jujur dan Adil

Restoran Siap Saji Dapat Toleransi