Lombok Post
Metropolis

Muhammad Nabhani, Juru Foto dan Pengelola Media Sosial Ahyar Abduh

CERIA: Bani (kiri) saat berfoto dengan wali Kota Mataram H Ahyar Abduh (kanan), beberapa waktu lalu.

Menjadi juru foto tak mudah. Ia harus begerak lebih lincah dari objek foto demi mengejar momen istimewa. Dan ini kisah Bani, harus bergerak lebih lincah dari bosnya, Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh!

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

=================================

HARI baru saja beranjak siang. Saat Muhammad Nabhani keluar dari ruang Pendopo Wali Kota Mataram. Ia asyik mengunyah camilan kemudian menghempaskan tubuhnya di selasar timur.

Candaan khas Bani begitu beberapa awak media bertanya tentang wali kota. Maka dengan nada nyaring pria bertubuh subur ini biasanya memekik. “Kepoo!” ujar Bani sembari tertawa lebar.

Entah bagaimana Bani masih suka melontarkan kalimat yang kerap diucapkan remaja-remaja alay. Bisa jadi karena, ia enggan meninggalkan kehidupan dunia remaja yang penuh canda tawa. Makanya ketika ditanya usia, Bani lebih suka menyebut angka yang mengesankan kebeliaanya.

“17 (tahun),” jawabnya sembari ngakak.

Tapi satu hal yang menarik. Di mana ada Bani, di situ pasti ada Wali Kota.

Keberadaan pria bertubuh subur ini begitu identik. Terutama bagi para awak media yang biasanya butuh kepastian informasi datang tidaknya wali kota. Ia seperti sinyal yang kuat dan tak bisa disembunyikan!

Seramai apapun orang-orang berkumpul dalam sebuah lokasi. Bani akan mudah terlihat. Dan itu bisa dipastikan Wali Kota yang ada di kerumunan, pasti ada juga di sana.

“Saya dipungut di jalan,” kelakar Bani, memulai cerita.

Tentu saja itu bukan jawaban serius. Tapi cukup jadi jawaban, ia dan Ahyar tak ada pertalian darah sama sekali. Bani benar-benar ‘anak baru’ di lingkaran Ahyar. Melengkapi tiga serangkai yang selalu melekat, selain Ajudan dan Sopir.

Bani beruntung bisa mengenal Badruttamam Ahda. Putra tertua Ahyar. Berkat kedekatannya dengan Ahda, Bani bisa berkarib pula dengan anak-anak Ahyar yang lain: Zulfan dan Agis. Persahabatan yang indah diantara mereka, mengantarkan Bani suatu ketika bisa bertemu dengan orang nomor satu di ibu kota itu.

“Mereka berdua yang ajak saya ketemu Mamiq (Ahyar) dan Ummi (Suryani),” tuturnya mulai serius.

Tak dinyana, pria yang mengaku punya berat badan 110 kilogram itu, diminta jadi juru foto. Hal ihwal itu bermula, ketika Ahyar menyadari komunikasi generasi milenial telah berubah. Jika dulu, megaphone dan duduk di forum resmi jadi sarana komunikasi dengan rakyat.

Kini semua telah berubah. Hadirnya platform media sosial semacam facebook fungsinya bahkan lebih dari sekedar tren. Tetapi kebutuhan untuk berinteraksi sosial.

“Di sana saya paparkan konsep dan beliau setuju,” ungkapnya.

Maka, mulailah Bani bekerja. Mengikuti ke mana Ahyar pergi. Tak ada perubahan dalam rutinitas kepala daerah dua priode itu. Mulai dari kerja di balik meja, menerima tamu, hingga turun ke tengah warga. Saban hari.

Sampai suatu ketika, Ahyar ikut dalam kontestasi Pilgub NTB 2018 silam. Di sini Bani sempat merasa kelimpungan.

Suatu ketika, ia mengawal foto Ahyar yang padat dengan aktivitas silaturahmi. Seharian penuh. Lalu keesokan harinya, bersambung dengan event rakyat Bau Nyale yang mengharuskan ia ikut begadang.

“Lalu keesokan harinya terima tamu lagi, dan menghadiri undangan resepsi pernikahan,” kisahnya.

Kegiatan demi kegiatan begitu beruntun. Nyaris tanpa jeda. Bani mengaku sangat kelelahan mengimbangi mobilitas Ahyar yang tinggi. Untungnya, ia tak sampai pingsan. Sehingga, sekalipun sekujur tubuhnya kesemutan karena lelah, tugas bisa diselesaikan dengan baik.

Ada satu hal yang menarik tentang Ahyar di mata Bani. Rupanya Ahyar paling tidak suka, foto by design. Ia lebih senang difoto secara natural. On the spot. Begitu apa adanya.

“Saya pernah sarankan mamiq berfoto ala-ala pencitraan itu, biar bagus, tapi saya malah dimarahi, katanya ‘jangan pernah jadikan rakyat objek pencitraan dengan disetting,” terangnya.

Sejak itu, Bani mengaku kapok. Menyarankan Ahyar berpose mengesankan seolah-olah ia merakyat. Karenanya sebisa mungkin ia memburu angel terbaik dari aktivitas Ahyar saban hari hingga petang.

“Dan itu tidak susah, emang dasarnya beliau bagus kok untuk difoto,” pujinya.

Bekerja di dekat Ahyar bukan berarti bisa membuat Bani semau-maunya. Ia acap kali kena semprot Ahyar karena telat bangun atau terlambat datang ke lokasi.

“Pernah (dimarahi). Beliau marah besar!” ingatnya.

Tapi yang menarik Ahyar tidak pernah marah lama. Apalagi sampai mendendam. Biasanya setelah semua begitu kaku dan tegang usai Ahyar marah-marah. Ahyar pula yang mencairkan suasana dengan mengajak mereka bercanda.

“Itulah uniknya beliau,” ungkapnya.

Sikap Ahyar yang lembut dan pemaaf tidak hanya ditunjukan pada ia dan teman-temannya. Tapi pada semua orang. Karenannya sepanjang ia mendampingi wali kota, tak sekalipun ia mendengar ada orang yang dianggap musuh oleh Ahyar.

“Semua dirangkul dan dianggap sebagai sahabat,” ujarnya bangga.

Kekagumannya pada Ahyar juga telah membuat Bani melihat Ahyar lebih dari sekedar guru. Tapi juga orang tua sendiri yang setiap hari mendidik ia arti pentingnya disiplin dan kebersahajaan dalam hidup.

“Lelah memang mengimbangi aktivitas beliau yang padat, tapi sisi baiknya saya bisa menurunkan berat badan hingga 20 ons,” kelakarnya.

Susah payah Bani bisa meraih prestasi menurunkan berat badan 20 ons. Ia harus gerak selincah Ahyar dan makan sedikit-sedikit.

“Karena beliau makannya memang sedikit, padahal enak-enak makanannya,” cetusnya.

Bani begitu mensyukuri kesempatannya mendampingi Ahyar. Ia senang, bisa bekerja sekaligus belajar makna kehidupan. Dari orang yang saban hari ia rekam aktivitasnya. Semua pelajaran itu lebih dari cukup bagi Bani, sehingga ia merasa tak perlu meminta apa-apa lagi bila jodohnya kelak tiba.

“Tidak berharap apa-apa. Cukup, beliau berkenan jadi saksi nikah saya, saya sudah sangat bahagia,” tutupnya. (*/r5)

Berita Lainnya

Rekonstruksi Sudah Progresif, Presiden Instruksikan Jajaran Terus Lakukan Percepatan

Redaksi LombokPost

Kabar Gembira untuk Infrastruktur

Redaksi LombokPost

Revitalisasi KBC Dilanjutkan, Ini Sumber Dananya

Redaksi LombokPost

Durian Runtuh buat PNS, Rapelan Gaji Masih Tunggu Hitungan Taspen

Redaksi LombokPost

Cara Menghilangkan Bau Tak Sedap di Sepatu ala BROOK.LIN

Redaksi LombokPost

Relokasi Dua Pasar Belum Jelas

Redaksi LombokPost

Warga Harus Tetap Waspada DBD

Redaksi LombokPost

Dua Jempol untuk Dinas PUPR

Redaksi LombokPost

Ahyar Bisiki Presiden Jokowi, Rehab Rekon Terkendala Semen dan Tukang

Redaksi LombokPost