Lombok Post
Sumbawa

Serangan Rabies Kian Meluas, Kasus Gigitan Baru Anjing Gila Terus Bertambah

KORBAN GIGITAN: Salah seorang anak korban gigitan anjing yang diduga telah terjangkit Virus Rabies, mendapat perawatan dari tim medis di Sumbawa, kemarin (18/2).

SUMBAWA-Kurang dari dua pekan setelah mengonfirmasi kasus pertama gigitan anjing Rabies, Pemerintah Kabupaten Sumbawa menetapkan status Kejadian Luar Biasa atas penyakit yang menular dari hewan ke manusia tersebut.

Hingga kemarin, sudah 21 orang digigit anjing Rabies di kabupaten dengan jumlah kecamatan terbanyak di Pulau Sumbawa tersebut. Sementara sampel dari empat anjing di Sumbawa, dipastikan telah terjangkit virus zoonosis yang mematikan ini.

            Status KLB Rabies untuk Kabupaten Sumbawa diumumkan Sekretaris Dinas Peternakan Kabupaten Sumbawa Abdul Murad di Sumbawa Besar, kemarin (18/2). Status tesebut ditetapkan, karena sebelumnya belum pernah ditemukan Virus Rabies di Bumi Sabalong Samalewa.

“Sejarah Sumbawa yang dari dulu belum pernah ada menjadi ada (Rabies). Jadi itu dasar untuk ditetapkan (KLB),” ujar Murad.

Dengan status tersebut, maka kini sudah ada dua kabupaten di Pulau Sumbawa yang menyatakan status KLB untuk serangan Virus Rabies. Sumbawa, menyusul Kabupaten Dompu yang telah menyatakan status KLB lebih dulu pada awal tahun ini. Dua kabupaten ini bertetangga.

Murad mengungkapkan, hingga Ahad (17/2), dilaporkan sebanyak 21 kasus gigitan anjing yang diduga Rabies di Sumbawa. Dari jumlah itu, empat di antaranya sudah dinyatakan positif Rabies. Sementara yang lainnya masih diduga rabies atau suspect.

Di Sumbawa Besar, menyikapi status KLB Rabies ini, kemarin, Sekretaris Daerah Sumbawa H Rasyidi langsung menggelar rapat koordinasi mendadak yang dihadiri seluruh pemangku kepentingan. Pemkab pun telah membentuk Tim Reaksi Cepat Penanggulangan KLB Rabies.

Dalam rakor tersebut, Sekda menyampaikan instruksi Bupati Sumbawa HM Husni Djibril yang memerintahkan pengerahan semua sumber daya yang tersedia di Sumbawa.

Dalam jangka pendek, langkah pertama kata Rasyidi adalah memastikan semua masyarakat yang tergigit Hewan Pembawa Rabies (HPR) untuk mendapatkan pelayanan medis yang semestinya.

Langkah kedua adalah melengkapi petugas lapangan yang bersentuhan langsung dengan HPR dengan pelindung keamanan yang memadai. “Pastikan mereka aman dalam bekerja,” tandasnya.

Secara khusus, Bupati juga menginstruksikan agar semua alat, bahan, dan dukungan operasional harus memadai. Bupati kata Rasyidi telah memerintahkan kepada Kepala BPKAD Sumbawa untuk mencukupi kebutuhan anggaran untuk penanggulangan KLB Rabies tersebut.

DI luar penanganan medis, eliminasi terhadap HPR juga akan mulai digalakkan di Sumbawa. Sama seperti di Dompu, anggota Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) dipastikan dilibatkan dalam langkah eliminasi anjing Rabies ini.

“Selain ditembak, kami juga siapkan racun,” kata Murad. Langkah ini untuk mengurangi populasi HPR di Sumbawa.

Target pemerintah adalah memastikan tak ada kasus gigitan hewan Rabies baru yang muncul.

Disinggung mengenai ketersediaan vaksin, Murad menjelaskan, pihaknya masih menunggu dari provinsi. Untuk saat ini, yang sudah tersedia sedikitnya 3.200 dosis vaksin untuk pencegahan Rabies.

Gigitan Baru

Sementara itu di Dompu, jumlah kasus gigitan dilaporkan terus bertambah. Dari data terakhir Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Dompu hingga kemarin, tercatat sudah 689 orang digigit anjing di sana.

Dipastikan, bertambahnya jumlah korban tersebut bukan hanya kasus gigitan lama yang baru dilaporkan. Melainkan juga kasus gigitan-gigitan baru. Kasus-kasus gigitan baru tersebut paling parah terjadi di Desa Cempi Jaya, Kecamatan Hu’u. Di sana, seorang warga diserang anjing saat sedang tidur di rumahnya.

“Ada pula di Manggelewa bapak dan anak jadi korban gigitan anjing,” ungkap Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Dompu Zainal Arifin pada koran ini, kemarin.

Para korban gigitan baru tersebut kata dia, sudah diberikan penanganan oleh petugas di tiap kecamatan. Bentuknya adalah pemberian vaksin. Mencegah virus berbahaya ini berkembang di dalam tubuh, mencapai otak dan menyebabkan kematian.

“Kita tidak bosan mengingatkan, masyarakat juga harus cepat melapor bila ada warga yang digigit anjing,” tandasnya.

Menurut Zainal, dari jenis gigitannya, sasaran serangan kebanyakan di bagian atas atau kepala korban. Tidak heran, luka para korban lebih banyak d bagian tangan karena gerak refleks berusaha menahan serangan anjing.

“Ciri-ciri anjing Rabies seperti itu. Sasaran serangannya di bagian kepala. Jadi, besar kemungkinan anjing-aning itu sudah terinfeksi Virus Rabies,” katanya.

Anjing-anjing yang menggigit tersebut kebanyakan anjing liar dan belum divaksinasi. Oleh sebab itu, penanganan KLB rabies tidak cukup dilakukan vaksinasi bila tanpa dibarengi eliminasi.

“Eliminasi itu salah satu langkah cepat agar Dompu terbebas dari Rabies,” tandasnya sembari menegaskan, langkah eliminasi tersebut bukan mengabaikan perlakuan semestinya pada binatang.

“Tapi nyawa manusia itu lebih berharga ketimbang binatang,” tegasnya.

Tunggu Status Wabah

Sementara itu, di Mataram, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB Hj Budi Septiani menegaskan, hingga kemarin, pihaknya masih menunggu persetujuan penetapan status Wabah Rabies di NTB oleh Menteri Pertanian.

Usulan penetapan status Wabah Rabies tersebut telah dilayangkan oleh Gubernur NTB H Zulkieflimansyah melalui surat pekan lalu. Saat ini kata Budi, usulan penetapan status tersebut tengah dikaji oleh Kementerian Pertanian.

“Mungkin minggu depan. Kita tunggu saja,” kata Budi.

Status wabah Rabies itu nanti kata dia akan disematkan di Pulau Sumbawa. Dan untuk status ini, penetapannya sepenuhnya memang ada di pemerintah pusat. Dengan penetapan status ini, maka nantinya pemerintah pusat juga akan menyiapkan dukungan anggaran.

Dia membenarkan, selain memberi vaksin anti rabies pada warga yang telah digigit, fokus utama masih pada upaya eliminasi HPR liar dan pemberian vaksin pada HPR yang punya pemilik.

Di Dompu saja, Budi menjelaskan, vaksinasi HPR yang punya pemilik telah dilakukan pada 3.306 ekor. Terdiri dari anjing 2.952 ekor, kucing 333 ekor dan kera 21 ekor.

Jumlah yang divaksin tersebut kata Budi memang masih belum memadai. Mengingat populasi HPR di Dompu diperkirakan mencapai 10.334 ekor.

Sementara di Sumbawa, populasi anjing lebih banyak lagi. Jumlahnya mencapai 26.100 ekor. Sementara saat ini, ketersediaan vaksin anti rabies di Sumbawa hanya 3.200 dosis yang semuanya berasal dari Kementerian Pertanian.

Sudah Sampai Bima

Budi juga menjelaskan, kasus gigitan anjing tidak hanya terjadi di Dompu dan Sumbawa. Namun, sudah meluas pula ke Kabupaten Bima, yang juga bertetangga dengan Dompu.

Hingga kemarin, total sudah ada 14 laporan gigitan anjing dari sejumlah kecamatan di Bima. Namun begitu, tidak seperti di Sumbawa dan Dompu, belum ditemukan HPR yang positif terjangkit Virus Rabies di Bima. Hal tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium.

Seluruh gigitan di Bima tersebut dipastikan dari anjing liar, yang berarti tidak memiliki pemilik dan belum pernah divaksin anti rabies. Karena itu, kata Budi, proses eliminasi anjing liar kini tidak hanya dilakukan di kabupaten/kota di Pulau Sumbawa saja. Melainkan dilakukan pula di seluruh kabupaten/kota di NTB. (yun/LPG/r8)

Berita Lainnya

Bawaslu Sumbawa Limpahkan Dua Kasus ke Kepolisian

Redaksi LombokPost

Polisi Musnahkan Sabu dan Miras

Redaksi LombokPost

Ciptakan Pemilu Damai, Polres Sumbawa Gelar Tabligh Akbar

Redaksi LombokPost

Mandi di Embung, Pelajar Tenggelam

Redaksi LombokPost

Puluhan Miliar DD “Parkir” di Kas Daerah

Redaksi LombokPost

Bawaslu Sumbawa Temukan Dugaan Money Politic

Redaksi LombokPost

Ayo Hijaukan Kembali Wilayah DAS

Redaksi LombokPost

Tim Sergap Mabes TNI Kunjungi KSB

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penanganan Banjir Utan

Redaksi LombokPost