Lombok Post
Metropolis

Penderita DBD Tembus 237 Orang

TERUS MENINGKAT: Dua orang anak bermain di sekitar tumpukan sampah di Lingkungan Sweta, Kota Mataram, kemarin (13/3). Anak anak yang tinggal di sekitar tempat ini terancam terserang DBD. Terutama saat musim pancaroba seperti saat ini.

MATARAM-Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Mataram terus meningkat. Puncaknya pada Maret ini kasus DBD mengalami peningkatan. Terhitung pada 9 Maret, sebanyak 237 warga  diduga terkena DBD. Namun yang dinyatakan positif 177 orang.

“Yang lainnya masih diduga,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi, kemarin (13/3).

Menurutnya, sesuai dengan teori, Maret ini akan menjadi puncak orang terserang DBD. Dimana, pergantian musim dari hujan ke kemarau ini akan membuat nyamuk aedes aegepty mudah berkembang biak. Oleh sebab itu, ia menyarankan warga melakukan pemberatasan sarang nyamuk (PSN). Caranya, membersihkan halaman rumah, bak mandi, genangan, dan sebagainya.

Dalam kesempatan itu, Usman mengapresiasi Kelurahan Rembiga dan Puskesmas Selaparang yang tidak mau melakukan fogging. Kelurahan Rembiga memilih melakukan PSN dari pada fogging. Di mana, fogging ini asapnya cukup membahayakan bagi kesehatan. Disamping itu juga akan membuat pencemaran lingkungan.

“Namanya bahan kimia, pasti ada dampak kesehatannya,” sebutnya.

Menurutnya, fogging ini tidak akan menyelesaikan masalah. Fogging ini hanya akan membunuh nyamuk dewasa saja. Sementara jentik nyamuk tetap berkembang biak. Jadi, ia lebih memilih PSN dari pada fogging.

Sebelumnya, guna menekan kasus DBD di Kota Mataram, pihaknya melakukan upaya pencegahan melalui penyuluhan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Selain itu, pemberian bubuk abate kepada warga untuk ditaruh pada wadah penampungan air guna mencegah adanya jentik nyamuk.

Sementara untuk fogging tetap dilakukan di wilayah yang sudah ada kasus positif DBD. “PSN paling efektif karena mampu memusnahkan jentik nyamuk. Kalau pengasapan hanya mampu membunuh nyamuk dewasa,” urainya.

Terpisah, salah  akademisi  dr Hamsu Kadriyan mengatakan, demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit akut yang disebabkan virus dengue yang menginfeksi bagian tubuh dan sistem peredaran darah manusia. Serta ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti atau albopictus betina yang terinfeksi.

Gejala DBD, biasanya diawali dengan demam, nyeri otot, dan sendi. Terdapat bintik atau ruam merah dikulit disertai mual dan nyeri ulu hati. “Kita harus aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk agar lingkungan bebas dari jentik nyamuk,” saran pria yang juga menjabat  senagai dekan Fakultas Kedokteran Unram ini.

Guna mencegah wabah DBD, warga bisa menguras tampungan air dan memelihara tanaman yang efektif mengusir nyamuk. Serta membuat atau perangkap untuk mencegah nyamuk berkembang biak.

Menurutnya, peningkatan curah hujan dan perubahan iklim seperti sekarang ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan nyamuk yang dapat menularkan virus dengeu dan menyebabkan penyakit DBD. Ia meminta warga agar segera memeriksakan diri ke puskesmas maupun rumah sakit jika mengalami demam tinggi lima hingga tujuh hari.

“Kalau demam lebih dari lima hari lebih baik ke puskesmas langsung,” tutupnya. (jay/r5)

Berita Lainnya

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Dapil Satu-Dua Milik Kepala Garuda

320 Jamaah Belum Lunasi BPIH

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

Caleg Gagal Malas Hadiri Rapat Paripurna

Pansus DPRD Terima LKPJ Wali Kota Tahun Anggaran 2018

Perjuangan Para Pahlawan Demokrasi Mewujudkan Pemilu Jujur dan Adil

Restoran Siap Saji Dapat Toleransi