Lombok Post
Selong

Lotim Kekurangan Tenaga Gizi

Hj Herni Widiyanti

SELONG-Tenaga gizi memiliki peran penting dalam mencegah kenaikan angka gizi buruk dan stunting. Hanya saja, sampai saat ini Lombok Timur masih kekurangan tenaga tersebut secara kuantitas. “Masih jauh dari kata cukup,” kata Kasi Gizi, Bidang Kesmas, Dinas Kesehatan Lotim Hj Herni Widiyanti, kemarin (14/3).

Master gizi tersebut menerangkan jika saat ini jumlah tenaga gizi di puskesmas sebanyak 92 orang. Jumlah tersebut terdiri dari fungsional PNS sebanyak 54, dan honorer sebanyak 38 orang. Sementara di RSUD Selong terdapat sebanyak 9 orang. Ditambah rumah sakit swasta sebanyak 4 orang. “Total tenaga gizi yang kita miliki di Lotim sekitar 105 orang,” terangnya.

Kata Herni, tenaga sebanyak 92 di puskesmas harus mengurus 254 desa dengan total 124.269 balita di tahun 2019. Tentu tak cukup. Selama ini, biasanya para tenaga gizi dibantu oleh petugas dari puskesmas dan kader posyandu. Hanya saja,  penanganan akan berbeda jika bukan dikerjakan oleh ahlinya. Karena itulah, kebutuhan tersebut setidaknya harus bisa dipenuhi dengan melakukan perekrutan.

Sementara itu, pada CPNS 2018 lalu, kuota untuk ahli gizi hanya dua orang. Kata Herni, angka tersebut sangat tidak signifikan. Biasanya, tenaga gizi yang bekerja di puskesmas merupakan lulusan D-3. Ia menerangkan, tenaga gizi di Lotim sudah banyak yang menyandang gelar sarjana dan bahkan master.

Saat ini, Bupati Lotim baru saja mengeluarkan SK baru tim penanggulangan gizi buruk. Herni menjelaskan, dengan adanya tim tersebut, diharapkan pihaknya bisa lebih maksimal menanggulangi angka gizi buruk yang terennya setiap tahun menurun.

Tapi meskipun angkanya menurun, Herni tak menapikan adanya fenomena gunung es. “Dipermukaan sudah ditangani, tapi yang luput dari penanganan ini masih banyak. Karena itu, kita tekankan kepada tenaga di puskesmas untuk terus melakukan pemantauan. Meskipun sudah di atas usia lima tahun,” terangnya.

Sebelumnya, Kabag Kesra Sekda Lotim H Ahmad menerangkan, jika pihaknya akan melakukan percepatan penanganan gizi buruk. Ia menegaskan, percepatan tersebut tak bisa hanya mengandalkan satu OPD terkait, akan tetapi lintas sektor. Terutama lemdes yang dianggap paling mengetahui kondisi masyarakat. “Di sinilah kita butuh radar dari kadus dan kader yang berada di desa. Sehingga tidak ada lagi informasi yang terlambat diketahui,” kata Ahmad. (tih/r7)

Berita Lainnya

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum

Ramai-ramai Berburu Takjil

Gara-Gara Kritis, Aldi Tak Diluluskan Sekolah

Dua Pelaku Curas Tertangkap, Dua Masih Buron

Redaksi LombokPost

Pekan Depan Pembangunan Taman Rinjani Mulai Dilelang

Redaksi LombokPost

Para Penjaga Rumah Allah di Gumi Patuh Karya (2)

Redaksi LombokPost

Jalan Rusak Picu Lakalantas

FPR Minta Amaq Har Dibebaskan

Tolong, Mata Kiri Nadir Diserang Tumor