Lombok Post
Selong

Membaca dan Bercerita di Ruang Baca Anak DPK Lotim

SIAPKAN PERALATAN: Murni Rahmawati, penanggung jawab ruang baca anak DPK Lotim (kiri) sedang menyiapkan peralatan bermain anak di ruang baca anak DPK Lotim, kemarin (14/3).

Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Lotim baru tiga bulan berjalan. Namun layanan yang baru seumur jagung itu sudah menarik perhatian banyak sekolah. Tempat itu dikhususkan bagi murid TK, RA, dan SD. Apa saja yang membuat anak betah dan bahagia di dalam sana?

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

=============================

Ribuan buku tersaji rapi dalam rak buku warna-warni. Lantainya diberikan permadani. Dindingnya juga mengandung warna pelangi. Tempat itu berbeda dari ruang baca lainnya. Sebab ruang itu memang khusus untuk anak-anak. Para bidadari guru dan orang tua.

Pagi jelang siang itu, Murni Rahmawati, penanggung jawab ruang baca anak sedang berkemas. “Kebetulan hari ini tidak ada jadwal kunjungan. Jadi kami manfaatkan untuk merapikan koleksi,” kata Murni kepada Lombok Post.

Ruang baca anak ini mulai ada awal Januari 2019 lalu. Tempatnya terletak di bawah ruang perpustakaan umum. Awalnya, program kunjungan sekolah tetap berjalan. Tapi anak-anak hanya bermain dan naik ke lantai dua untuk membaca buku.

Kata Murni, tingginya tingkat kunjungan anak-anak menjadi salah satu penyebab mengapa ruang baca anak itu dibangun. Di satu sisi, anak bisa saja menganggu pemustaka dewasa yang sedang khusuk membaca. Di sisi lain, anak juga terkadang kasihan naik ke lantai dua. Belum lagi jika jumlah mereka banyak. Bisa berebutan, dan membuat guru pendamping kewalahan. Nah, dengan adanya ruang khusus baca anak, sekarang guru bisa leluasa.

“Di sini kita memiliki koleksi buku cerita yang sangat lengkap. Di samping itu, ada juga alat peraga edukasi (APE) yang standar,” terangnya.

APE tersebut berupa lalu lintas, puzzle angka, gambar, dan lainnya. Selain itu terdapat juga bola mainan, juga boneka yang digunakan mendongeng. Murni menerangkan, pihaknya sudah mengirim surat untuk semua RA,TK, dan SD. Dalam surat itu, disertai nomor kontak penanggung jawab.

Setiap ada sekolah yang ingin melakukan kunjungan, mereka harus memberi informasi minimal dua hari sebelumnya. Ruangan itu sendiri menampung 40 anak. Kata Murni, terkadang ada guru yang membawa 80 siswanya. Jika demikian, anak akan dibagi jadi dua.  Satu kelompok di luar melakukan senam, dan permainan outdoor lainnya. Kelompoknya lainnya berada di dalam ruangan. Begitu seterusnya secara bergantian.

Murni menjelaskan, sampai saat ini sekolah yang datang berkunjung masih sekitaran Kecamatan Selong. Paling jauh dari Masbagik. Untuk itu, ia berharap jika ruangan tersebut setidaknya bisa lebih besar. Melihat antusias kunjungan anak. “Karena tidak mungkin kita meminta gurunya membawa separo muridnya,” terangnya.

Di dalam sana, ruang baca anak memiliki program membaca dan bercerita. Jadi anak yang sudah membaca, diminta untuk menceritakan kembali apa yang sudah dibacanya. “Mereka bisa  dengan gaya mendongeng, atau hanya sharing biasa,” kata Murni.

Kasi Layanan dan Otomasi Bidang Pelayanan DPK Lotim L Nasrun mengatakan, harapan ke depannya adalah perputakaan memiliki ruang baca khusus anak disabilitas. “Intinya ramah anak berkebutuhan khusus. Seperti ada jalan untuk kursi rodanya, dan juga lengkap koleksi brailenya untuk yang tunanetra,” kata Nasrun. (*/r7)

Berita Lainnya

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum

Ramai-ramai Berburu Takjil

Gara-Gara Kritis, Aldi Tak Diluluskan Sekolah

Dua Pelaku Curas Tertangkap, Dua Masih Buron

Redaksi LombokPost

Pekan Depan Pembangunan Taman Rinjani Mulai Dilelang

Redaksi LombokPost

Para Penjaga Rumah Allah di Gumi Patuh Karya (2)

Redaksi LombokPost

Jalan Rusak Picu Lakalantas

FPR Minta Amaq Har Dibebaskan

Tolong, Mata Kiri Nadir Diserang Tumor