Lombok Post
Metropolis

Sabarnya Ibu Muniah Memungut Buah Kenari Sejak 1965

PANTANG MENYERAH: Ibu Muniah (75), ditemani sapu dan topinya, sedang sibuk memungut buah kenari yang jatuh di depan Kantor Gubernur NTB di Jalan Pejanggik, kemarin (14/3).

Pohon Kenari sangat identik dengan Kota Mataram. Namanya pun diabadikan sebagai salah satu ruang rapat di Kantor Wali Kota Mataram. Ada juga yang menggantungkan hidupnya, dari kehadiran buah pohon kenari. Bahkan bisa menjadi salah satu ladang penghasilan.  

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

============================

Lampu lalu lintas berganti warna. Kendaraan roda empat dan roda dua saling melintas. Dari berbagai arah. Menandakan denyut nadi di pusat kota siang itu, masih ramai. Warga beraktivitas dengan segala kesibukan.

Begitu juga dengan Ibu Muniah. Lansia berumur 75 tahun. Ia terlihat sibuk memungut buah kenari. Yang silih berganti berjatuhan di depan Kantor Gubernuran NTB. Jalan Pejanggik tetap ramai seperti biasa. Tetapi tidak menyurutkan semangatnya siang itu. Sambil menggotong sapu untuk mengumpulkan di satu tujuan.

“Ngumpulinnya pakai sapu, biar dimasukkan ke keranjang nggak susah,” katanya.

Usai menyapu, Muniah lalu memungut satu per satu buah kenari hitam itu. Dimasukkan ke dalam keranjang. Pekerjaan yang menyenangkan.

Baginya memungut buah kenari bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Meski tidak banyak, tetapi bisa buat dapur Muniah bisa mengepul.

Muniah adalah seorang warga Kebun Lelang. Ia sudah menekuni pekerjaan ini sejak 1965. Ia bercerita awalnya ia diajak oleh sang kakak. Lambat laun, hal ini menjadi sebuah kebiasaan. Muniah biasanya memungut kenari dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore.

Setiap hari, ia harus berjalan kaki. Dari rumahnya menuju Kantor Gubernur NTB yang jaraknya cukup jauh. Bagi Muniah, buah kenari sudah seperti sumber kehidupan. Dari buah ini, ia bisa menjualnya ke pedagang di pasar.

“Karena saya sudah lama mungut ini, sampai saya punya langganan sendiri,” kata Muniah.

Dalam memungut buah kenari, ia biasanya sendiri atau dibantu oleh keponakannya. Sehari ia bisa mendapatkan satu hingga dua keranjang. Biasanya juga mendapatkan setengah keranjang. Untuk mendapatkan sekilo buah kenari, Muniah harus mengumpulkan dua keranjang.

“Kalau sudah dapat segitu, baru bisa dijual. Harga per kilo gramnya Rp 40 ribu, mungutnya bisa dua sampai tiga hari,” terangnya.

Ada juga buah kenari yang isinya sudah dicongkel. Kata Muniah, isi seperti bentuk kacang mete. Muniah tetap memungut kenari, karena banyak orang memanfaatkan buah ini, sebagai bahan campuran cake atau brownies. Ia mengakui, rasanya lebih enak dari kacang mete.

Sebelum buah kenari dijual. Ternyata memiliki proses yang tidak mudah dan tergolong lama. Isinya harus dicongkel terlebih dulu. Kemudian dikeringkan dengan cara di jemur sepanjang hari.

“Kalau cuaca bagus, biasanya cuma tiga hari. Tetapi kalau ada mendung terus hujan, biasanya sampai seminggu baru bisa dijual,” terangnya.

Harga perkilo yang sudah kering hanya Rp 60 ribu. Karena sudah diolah. Dirinya mengakui, meski tidak setiap hari uang dikumpulkan melalui cara memungut buah kenari. Tetapi semua hal ini bisa membuat dapurnya tetap mengepul. Meski tidak seberapa tetapi ia bersyukur.

Memungut buah kenari sejak 1965, Muniah mengaku bahwa keluarganya sempat beberapa kali melarang. Karena selain menghasilkan uang yang teramat kurang, membahayakan jiwa Muniah karena harus memungut di dekat jalan raya. Namun, dirinya tidak bergeming dan tetap bertahan sampai sekarang.

“Bertahan sampai sekarang karena buah kenarinya terus berbuah, senang aja bisa mungut sekalian mau bersihin halaman Kantor Wali Kota, makanya saya bawa sapu. Siapa tahu ini bisa jadi pahala dan nambah-nambah amal ibadah saya,” kata Muniah.

Dirinya memang tidak punya pilihan lain. Karena kalau berdiam diri di rumah, tentu saja membuat dirinya yang memiliki usia renta, akan sakit-sakitan. Menurutnya, inilah salah satu resep kenapa ia sampai saat ini sehat dan tetap berakitivitas. Jalan kaki setiap hari membuat dirinya tetap bisa merasakan hidup sehat. Meski cuaca sedang hujan, tidak menghalanginya untuk memungut buah kenari.

“Alhamdulillah bisa sehat sampai sekarang, kalau mungut pas hujan saya pasti bawa jas hujan, meski sudah robek,” jawabnya sambil tersenyum. (*/r5)

Berita Lainnya

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Dapil Satu-Dua Milik Kepala Garuda

320 Jamaah Belum Lunasi BPIH

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

Caleg Gagal Malas Hadiri Rapat Paripurna

Pansus DPRD Terima LKPJ Wali Kota Tahun Anggaran 2018

Perjuangan Para Pahlawan Demokrasi Mewujudkan Pemilu Jujur dan Adil

Restoran Siap Saji Dapat Toleransi