Lombok Post
Headline Kriminal

Terdakwa Dorfin Tolak Penerjemah Bahasa Prancis yang Dimintanya

BANYAK ULAH: Terdakwa Dorfin Felix (baju tahanan) saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Mataram, kemarin (14/3).

MATARAM-Sidang terdakwa penyelundup sabu Dorfin Felix kembali ditunda, kemarin (14/3). Alasan penundaan kali ini, Dorfin menolak penerjemah yang dihadirkan Penuntut Umum. Padahal, di sidang sebelumnya, terdakwa sendiri yang meminta untuk dihadirkan penerjemah Bahasa Prancis ke Indonesia.

 ”Sekarang saya memilih penerjemah dari Bahasa Inggris,” kata terdakwa Dorfin di hadapan majelis hakim, kemarin.

Menurut Dorfin, orang yang dihadirkan jaksa, tidak memiliki kapasitas sebagai penerjemah dalam  persidangan. ”Penerjemah yang diberikan seorang pemandu wisata. Dia tidak mengerti apa-apa soal jalannya persidangan,” terang Dorfin.

Meski ada ketidakkonsistenan yang ditunjukkan Dorfin selama mengikuti persidangan, Ketua Majelis Hakim Isnurul Syamsul Arif tak mempersoalkannya. Arif mengatakan, apa yang disebut Dorfin merupakan bagian dari haknya sebagai terdakwa.

”Itu hak terdakwa. Untuk memenuhi itu, sidang kita tunda hingga 18 Maret,” kata Arif.

Dalam persidangan kemarin, Dorfin rupanya tidak didampingi penasihat hukum yang sempat hadir di sidang perdananya. Menyikapi ini, JPU akhirnya mengambil langkah untuk menunjuk penasihat hukum yang disediakan pengadilan.

”Kemarin ada pengacara Jakarta. Tapi, sekarang tidak kelihatan. Ya sudah, kita pakai dari posbakum. Nanti masalah ada pengacara baru atau tidak, itu dari pihak keluarga,” kata JPU Ginung Pratidina.

Dalam dakwaan jaksa, terdakwa diketahui membawa narkoba dengan berat kotor 3.194,57 gram. Rinciannya, 9 bungkus besar kristal cokelat diduga narkotika jenis MDMA; satu bungkus besar serbuk kuning diduga narkoba jenis amphetamine.

Ada juga satu bungkus besar serbuk putih diduga narkotika jenis ketamine; satu bungkus berisi pil diduga MDMA sebanyak 828 butir; dan satu bungkus pil cokelat berlogo tengkorak jenis MDMA sebanyak 22 butir.

Narkoba dibawa dari Prancis dan disimpan dalam koper. Koper diberikan seseorang yang tak dikenal Dorfin di Prancis. Orang tersebut meminta tolong agar Dorfin membawa koper ke Lombok. Dorfin sendiri mengaku tidak mengetahui apa isi koper itu.

Meski tidak tahu koper berisi narkoba, Dorfin tetap membawa koper menuju Lombok. Dia terbang dari Lyon, Prancis menuju Frankfurt, Jerman. Dari Jerman, terdakwa berangkat menuju Bandara Changi, Singapura.

Ketika tiba di Lombok, petugas otoritas bandara ZAM, Lombok Tengah (Loteng) menemukan 3,1 kilogram narkoba di koper. Meski demikian, tes urine Dorfin menunjukkan hasil negatif mengandung zat narkoba.

Jaksa mendakwa Dorfin dengan pasal subsidaritas. Yakni, Pasal 113, Pasal 114, dan Pasal 112 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Di sidang perdananya itu, Dorfin telah menunjukkan drama. Dia menolak penerjemah Bahasa Inggris, yang kala itu dihadirkan jaksa, untuk menerjemahkan isi dakwaan.

Dorfin meminta surat dakwaan diterjemahkan secara detail. Dia tidak ingin kejadian di kantor polisi, terulang saat persidangan. ”Karena saat penyidikan kepolisian, didampingi penerjemah bahasa Inggris yang kurang baik,” terang Toni, penerjemah yang dihadirkan jaksa.

Dorfin juga meminta adanya penerjemah yang bisa Bahasa Prancis. Langsung dari kedutaan.(dit/r2)

Berita Lainnya

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Menelusuri Penyebaran Islam di Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (1)

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Zohri Spektakuler! Genggam Tiket ke Tokyo 2020

BNI Tebar 100 Ribu Bingkisan Ramadan

Hearing Buntu, Aldi Tempuh Jalur Hukum

Progres RTG Belum Sesuai Harapan

Alhamdulillah, Bantuan Jadup Cair Besok