Lombok Post
Metropolis

Cara Unik Seniman Mural Kampanyekan Pemilu Damai

KEREN BANGET: Chung melukis mural bertema pemilu untuk mengajak masyarakat untuk membangun semangat pemilu damai, beberapa hari lalu.

Para seniman mural mungkin tak sepandai politisi saat bersilat lidah di atas panggung politik. Tapi mereka punya cara menggelitik, mengkritik dan mengoreksi politik tanah air saat ini!

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

==================================

SYAMSUL Bahri tengah duduk santai. Di Kedai Kopi depan Gereja Patekosta Mataram. Saat itu sebenaranya sudah siang. Tetapi rinai hujan membuat suasana lebih dingin. Kopi sebenarnya sajian yang saat suasana seperti itu. Tapi anehnya pria yang beken dengan nama Chungky Fungky itu malah memilih jus.

“Jus buah naga, tapi naganya nggak hilang kan?” kelakarnya santai.

Mungkin akan banyak orang terkecoh. Antara penampilan Chung di media sosial dengan di dunia nyata. Di media sosial ia terlihat begitu “rame”. Apalagi kalau sudah nyerempet-nyerempet politik. Tapi begitu bertemu, Chung dengan sempurna menggambarkan dirinya sebagai seorang seniman.

Bicaranya yang pelan, tak banya cing-cong. Tapi efektif. Tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga ia “rame” di media sosial. Setidaknya itu telah menggambarkan dirinya dengan jujur tentang persepsinya pada dunia politik saat ini. Chung merasa politik saat ini sudah tak ramah. Bahkan semakin menjauhi ajakan kampanye damai dan gembira. “Saya buka Facebook saja takut,” akunya.

Facebook sudah jadi sedemikian menyeramkan. Mulai dari hoax, agitasi, sampai bagaimana para tim sukses menjual tokohnya. Takut ini bahkan ia tempatkan di atas rasa muaknya dengan intrik yang tak lagi mencerminkan rasa persaudaraan. Sesama anak bangsa.

“Fitnah dimainkan, hoax disebar, ketakutan disebarkan, kenapa politik yang katanya menyenangkan jadi seburuk ini,” sesal Chung.

Alhasil perjuangan masyarakat hanya untuk memilih calon yang disuka pun jadi dramatis. Bagaimana tidak, sebelum menentukan pilihan masyarakat dicecoki oleh narasi-narasi sampah tak ada gizinya sama sekali bagi otak. “Rasanya kita ingin tutup telinga dan mata, biar bisa menjernihkan pilihan,” ungkapnya.

Keresahan ini diakuinya telah lama bertumpuk di dalam pikiran dan hatinya. Chung ingin berteriak di setiap telinga politisi busuk: cukup bodohi kami!

Tapi ia sadar. Ia bukan pimpinan partai. Bukan pula, tokoh yang perkataanya adalah sabda yang tak boleh dibantah siapa saja. Ia juga sadar dirinya bukan siapa-siapa. Hanya seniman mural yang lebih pandai menuangkan idenya di atas tembok daripada bicara lantang ala para politisi hebat. “Makanya saat KPU menggelar lomba mural, saya langsung ikut,” ungkapnya.

Bagi Chung, orientasi ia bukan hadiah. Bukan pula menjadi nomor satu dalam lomba. Ia hanya butuh media. Dan itu: tembok!

Lalu di atas tembok, ia menumpahkan apa yang dirasakan selama ini. Sebagai warga negara. Telinganya memekak, mendengar segala hasutan para ‘marketing’ kandidat. Suara mereka lantang dan cadas, memasuki ruang-ruang histori media sosial, televisi, dan media lain.

Mereka hadir seperti bayang-bayang. Mengikuti ke mana langkah pergi setiap orang.

“Karena itu saya lukis ada seorang yang menutup mata dan telinga, lalu bayangan orang itu berubah menjadi setan-setan politik yang terus menggoda,” terangnya.

Chung juga melukis kotak suara. Di mana ada puluhan tangan yang terangkat di bawahnya. Sebagai representasi harapan rakyat, pemimpin yang peduli pada rakyatlah yang tetap menang kali ini. “Hanya pemilu cerdas yang dapat melahirkan pemimpin yang berkualitas,” tegasnya.

Chung juga menulis dengan besar “Tolax Hoax”. Lalu menambahi tagline ala KPU: Pemilih Berdaulat Negara Kuat. Tapi tahukah, bahwa gambar yang terlihat funny dan menyenangkan itu, lahir dari ketakutan Chung.

“Ya saya rasa inilah cara kami, bagaimana menyuarakan ketakutan menjadi sesuatu  yang terlihat menyenangkan,” ujarnya sembari tersenyum.

Gambar sepanjang 15 meter kali dua meter dan ia kerjakan dalam satu setengah hari itu pun berhasil menyedot perhatian publik. Puluhan bahkan mungkin ratusan orang yang hilir mudik di sana menyempatkan diri untuk memfoto atau berselfie.

“Bahkan ada yang dengan sengaja menunggu saya selesai melukis, begitu selesai ia langsung selfie di sana,” ungkapnya.

Chung mengaku senang. Keresahannya, berhasil ia suarakan lebih luas lagi. Melalui orang-orang yang berselfie lalu diupload ke media sosial masing-masing. Ia senang orang menangkap pesan ia dengan gembira: Hoax harus dilawan!

 “Sekalipun saya sebenarnya melukis itu berangakat dari rasa resah dan takut,” bebernya.

Dari segi pendidikan Chung memang hanya lulusan SMA. Tapi dari segi karya, ia bahkan selevel dengan para doktor yang disertasinya telah menjadi rujukan banyak orang. Suaranya pun diamini banyak orang.

Setali tiga uang, Chung pun hakikatnya sama. Ia ‘doktor’ mural yang dengan kejernihan hatinya membaca suasana. Berhasil menghipnotis banyak orang. Lalu merenungi pesan di balik gambarnya yang memukau.

“Padahal sebenarnya banyak coretan yang tak disengaja di sana,” bebernya sembari tersenyum lebar.

Coretan itu, tak disengaja Chung. Karena ia terbiasa melukis tanpa sketsa. Ia lebih senang melukis langsung. Menuangkan idenya bleg ke atas media tembok. Ia tak bisa menghapus coren itu, karena cat itu bukan pensil yang bisa dihapus dengan mudah. “Tapi kalau anda cari di mana coretan itu pasti tidak ketemu,” ujarnya.

Kok bisa? Ya bisa. Bagi Chung dalam melukis itu tidak ada coretan yang salah dan perlu dihapus. Coretan justru harus bisa dikreasikan menjadi lukisan yang indah dan mendukung tentang tema.

“Coretan atau doodle itu ada yang berubah jadi simbol media sosial, gambar lucu kespresi orang saat mendengar hoax, dan ragam yang lain. sampai semua sempurna,” tandasnya.

Sama seperti filosofi yang selalu ia anut dan pegang sampai saat ini. Tidak boleh ada yang disesali dalam hidup. karena sejatinya kesalahan itu, hanya coretan yang bisa diubah jadi hal yang bermanfaat bagi hidup.

“Semoga hasil karya ada manfaatnya walau sedikit dalam mewujudkan pemilu yang damai dan membahagiakan bagi kita semua,” tutupnya. (*/r7)

Berita Lainnya

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Dapil Satu-Dua Milik Kepala Garuda

320 Jamaah Belum Lunasi BPIH

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

Caleg Gagal Malas Hadiri Rapat Paripurna

Pansus DPRD Terima LKPJ Wali Kota Tahun Anggaran 2018

Perjuangan Para Pahlawan Demokrasi Mewujudkan Pemilu Jujur dan Adil

Restoran Siap Saji Dapat Toleransi