Lombok Post
Metropolis

Selamatkan Giant, Untungnya Apa

BERBURU DISKON: Seorang ibu-ibu sedang berburu diskon di Giant Ekstra Gegutu, beberapa waktu lalu.

MATARAM-Sejumlah investor kakap kolaps. Ada yang sudah lebih dulu tutup. Ada yang masih sekarat. Terbaru kabar Giant Ekstra Gegutu mau tutup per 30 April 2019 beredar. Melalui secarik kertas yang beredar di media sosial hingga melalui pesan berantai.

Lombok Post sendiri sudah berupaya datang ke Giant Ekstra Gegutu. Meminta keterangan lebih lanjut. Namun manajemen lokal lebih memilih tutup mulut. Media diarahkan agar menanyakan itu ke manajemen pusat.

Ragam analisa yang berkembang. Mengenai penyebab tutupnya Giant Ekstra Gegutu. Diantaranya, persaingan sektor usaha online dengan offline. Lalu, daya beli masyarakat yang turun pascagempa bumi. Hingga lokasi yang dinilai tidak strategis.

Terkait olengnya Giant Ekstra Gegutu, anggota Komisi II DPRD Kota Mataram Misban Ratmaji menilai ada perhitungan potensi usaha yang tidak cermat. Sehingga ritel usaha raksasa itu akhirnya oleng. “Coba kita hitung penduduk kota saat ini 450 ribu,” kata Misban.

Angka ini sudah mencakup semua penduduk kota. Dari ekonomi atas hingga kelas bawah. Jika dalam satu hari saja rata-rata pembeli diperkirakan 10 persen, maka ada 45 ribu warga kota yang berbelanja dalam setiap hari. “Kalau 45 ribu itu hanya beli di beberapa ritel modern mungkin menguntungkan,” ujarnya.

Tapi persoalannya, 45 ribu itu harus dibagi lagi dengan ribuan hingga ratusan usaha masyarakat. Ritel modern raksasa sekelas Giant, mal, lalu ada waralaba lain yang juga tak kalah menjamur. Sebut saja Alfamart dan Indomart yang hampir merata tersebar di seluruh penjuru kota.

“Ini belum lagi toko-toko usaha milik masyarakat, hingga pasar-pasar tradisional,” ulasnya.

Luas kota sendiri 61,3 kilometer persegi. Artinya, dalam satu kilometer ada pembeli sekitar 734 orang. Itupun dengan catatan kemampuan daya beli masyarakat merata. Tetapi potensi itu masih besar peluangnya untuk berkurang. Karena masih ada warga yang berada di bawah garis kemiskinan. Sehingga kebutuhan sehari-hari tidak dibeli setiap hari.

“Kalau dalam satu kawasan, ada sekitar 50 pedagang saja, dari pedagang besar sampai kecil ada sekitar 14 pembeli untuk satu toko,” rincinya.

Bagi pedagang kecil 14 pembeli dalam sehari masih dinilai cukup menguntungkan. Tapi bagi pedagang besar, sekelas Giant, Transmart, atau Mataram Mall ini justru tidak cukup untuk menutupi biaya operasional.

“Sementara ada Alfamart dan Indomart yang buka 24 jam dan itu membuat persaingan semakin sengit,” ujarnya.

Bagi Misban para pengusaha raksasa terlalu berani berspekulasi. Menganggap kota sebagai kawasan berkembang, tapi tidak mempertimbangkan timing yang tepat.

“Kalau warga kota 1 juta mungkin wajar buka banyak ritel modern, tapi kalau saat ini saya rasa janganlah terlalu ambisi. Biarkan ini jadi kesempatan pedagang kecil saja,” kritiknya.

Kritik ini juga disampaikan Misban untuk Pemkot Mataram yang saat ini sangat ambisius. Membuka kawasan-kawasan sebagai ladang investasi. Padahal dampaknya belum tentu menguntungkan secara ekonomi bagi para pengusaha. “Belum saatnya lah jor-joran,” cetusnya.

Di sisi lain investasi itu memang membawa dampak baik bagi penyerapan tenaga kerja di kota. Tapi perlu diingat investasi juga butuh konsumen sebagai ‘bahan bakar’ usaha. Kalau masyarakat yang membeli tidak ada, pada akhirnya hanya akan membuat pengangguran kembali diproduksi. “Coba lihat sekarang pekerjanya penuh ketidakpastian,” ujarnya.

Apalagi ritel modern seperti Giant tidak ada kontribusi besar bagi pemasukan daerah. Pajak penghasilannya diterima oleh pemerintah pusat. Sedangkan kota hanya dapat Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), pajak reklame, dan potensi parkir. “Tapi Giant juga gratiskan parkir, jadi hampir tidak dapat apa-apa,” cetusnya.

Dalam pemikiran Misban pemerintah tidak punya alasan kuat mendorong agar Giant Ekstra Gugutu tidak menutup cabangnya. Sebab dari segi keuntungan nyatanya tak ada hasil yang menguntungkan bagi daerah. “Kayak Giant, Alfamart, Indomart, dan sejenisnya itu ndak dapat pajak kita,” ungkapnya.

Pajak pertambahan nilai (PPN) langsung diterima pemerintah pusat. Hanya dari segi pengangguran saja kota terancam bertambah. Dengan tutupnya ritel modern itu. “Tapi kalau bangunanya itu nanti dibuat jadi pasar, mungkin bisa serap tenaga kerja lagi,” cetusnya.

Sementara itu, Kepala Badan Keuangan (BKD) Kota Mataram HM Syakirin Hukmi membenarkan kota tak dapat pajak dari hadirnya gurita usaha investor raksasa seperti Giant. Pendapatan kota hanya datang dari PBB, potensi parkir, dan reklame yang dipasang. “Ya potensi reklame mereka yang hilang,” terang Syakirin.

Tidak hanya itu, syakirin juga mengaku sedikit khwatir jika Giant benar-benar tutup. Sebab bagaimanapun bangunan mereka tetap berdiri di wilayah Kota Mataram. Jika usahanya tutup maka ia khawatir ini akan menyulitkan kerja timnya untuk menarik PBB-nya. “Kalau itu tutup, nanti manajemennya ke mana ya? mudahan petugas kami tidak kesulitan mencari untuk menagih PBB,” cetusnya. (zad/r7)

Berita Lainnya

Akibat Terlalu Banyak Janji! Rp 476 Miliar Jadup Belum Dibayar

Redaksi LombokPost

Lepas Rindu di Lumbung Suara, Prabowo Datang ke NTB Bersama Nissa Sabyan

Redaksi LombokPost

Penyaluran Jadup Kian Tak Jelas

Redaksi LombokPost

Panen Ikan Semudah Memetik Sayur

Redaksi LombokPost

Pengumuman PPPK setelah Pilpres

Redaksi LombokPost

Pemecatan ASN Paling Lambat 31 April

Redaksi LombokPost

Kaling Rentan Terseret Politik Praktis

Redaksi LombokPost

Tren Statistik Gaya Hidup Warga Kota, Happy dengan Rokok, Abaikan Bahan Pokok

Redaksi LombokPost

Lebih Dekat dengan Amiruddin ‘Pawang’ Kompor Gas Lulusan SMA : Buat Kompor Gas 8 Tungku dari Bekas Kompor Minyak Tanah

Redaksi Lombok Post