Lombok Post
NTB

Penutupan Pendakian Rinjani Bisa Lebih Lama

MATARAM-Penutupan jalur pendakian Gunung Rinjani bisa lebih lama. Pascagempa 5,4 skala Richter (SR) Minggu (17/3), longsoran di tebing-tebing gunung diprediksi kembali terjadi.  Meski demikian, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) belum berani memutuskan. ”Kami harus menunggu hasil evaluasi dengan tim,” kata Kepala Balai TNGR Sudiyono, kemarin (18/3).

            Namun Sudiyono memberi harapan, dampak gempa kali ini tidak separah Agustus 2018. Kalau pun ada longsor, tidak sebesar tahun lalu. Sehingga masih ada kemungkinan pendakian dibuka. Tapi akan sulit sampai puncak dan Danau Segara Anak. ”Longsor di lereng-lereng danau kemungkinan masih terjadi,” ujarnya.

            Jalur pendakian Aik Berik di Lombok Tengah, masih dibuka. Namun pendakian tidak sampai ke Danau Segara Anak. Sementara jalur pendakian yang lain belum dibuka karena belum aman.

            Untuk memastikan pendakian Gunung Rinjani aman, tim survei sudah diterjunkan. Bahkan saat gempa Minggu (17/3) lalu, 72 orang tim survei gabungan sedang berada di Rinjani untuk memantau kondisi jalur-jalur pendakian. Mereka terbagi menjadi dua tim: Tim Senaru 18 orang dan Tim Sembalun 54 orang.

            Tim Senaru sudah mencapai Pelawangan Senaru . Namun tidak sampai danau karena kondisi tidak memungkinkan. Ketika di puncak Pelawangan, mereka memutuskan untuk kembali.

Sementara Tim Sembalun sudah berada di Pelawangan Sembalun. Karena terjadi gempa, mereka kaget dan berusaha menyelamatkan diri. Satu orang sempat pingsan. Mereka kembali ke Pos II. Hingga kemarin (18/3) belum ada kontak lagi, apakah mereka memutuskan pulang atau meneruskan survei. ”Namun semuanya dalam kondisi selamat,” ujarnya.

            Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata NTB H Lalu Mohammad Faozal berharap yang terbaik. Pemerintah mengharapkan Rinjani normal agar wisatawan bisa menikmati kembali keindahan Rinjani.  ”Belum bisa kita putuskan, tapi semoga dampaknya tidak parah,” harapnya.

Pastikan Destinasi Wisata Punya Papan Informasi

Sementara itu, gempa Minggu (17/3) lalu, menguak fakta baru tentang minimnya fasilitas di destinasi wisata NTB. Salah satunya papan informasi keselamatan. Destinasi wisata air terjun Tiu Kelep, Desa Senaru, Kabupaten Lombok Utara, lokasi meninggalnya dua wisatawan diketahui tidak dilengkapi fasilitas itu.

Kepala Dispar NTB HL Moh. Faozal mengatakan, destinasi itu murni dijual para pemandu wisata di sana. “Pengelola tour di situ yang menjual,” kata Faozal, kemarin (18/3).

Faozal mengakui, gempa kali ini betul-betul memberikan catatan penting bagi Dispar NTB. Bagaimana mengevaluasi dan membenahi kembali destinasi-destinasi yang ada. “Ini pelajaran berharga bagi kami,” tegasnya.

Terkait itu, dalam waktu dekat, Dispar NTB bersama para pelaku wisata, akan membangun papan informasi di setiap destinasi yang ada. Tidak melulu menjelaskan hal-hal terkait dengan sejarah terbentuknya destinasi wisata itu.

Mengenai papan informasi di setiap destinasi wisata, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah mengaku, pemprov telah menerima banyak masukan dari para pegiat desa wisata untuk segera merealisasikannya. Karena berkaitan langsung dengan mitigasi bencana. “Ini memang masukan yang bagus, supaya kita lebih hati-hati sebab semua proses keselamatan di destinasi wisata bukan hanya indah tetapi juga aman untuk dikunjungi,” tandasnya. (ili/yun/r1)

Berita Lainnya

Banjir Dompu Rendam Lima Wilayah, 3.140 Warga Mengungsi

Redaksi LombokPost

500 Ribu Warga Belum Tersentuh Listrik

Redaksi LombokPost

Ayo Nyoblos, Jangan Golput Ya

Redaksi LombokPost

Bantu Buat Paparan Lebih Mudah Diingat dan Dipahami

Redaksi LombokPost

Tiga Investor Global Hub Angkat Kaki

Redaksi LombokPost

Batik Ijo Komit Kembangkan Smart City

Redaksi LombokPost

Perbaikan IC Molor, PUPR Belum Bersikap

Redaksi LombokPost

Wapres Tinjau Rehab Rekon Lagi

Redaksi LombokPost

Pemprov Siapkan Program Sasambo Gemilang, Sasar 10 Ribu Keluarga Miskin

Redaksi LombokPost