Lombok Post
Metropolis

Berkunjung ke Ruang ATCS Dinas Perhubungan Kota Mataram

MATA TEKNOLOGI: Mawan tengah memberikan pengumuman pada pengendara motor di ruang ATCS Kota Mataram, Selasa (19/3).

Ruangannya kecil. Tapi, dari ruangan ini, lima titik jalan di Kota Mataram bisa terpantau dengan jelas. Bahkan, dengan segala aktivitas para pengguna jalan tersebut.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

===================================

MASIH ingat video lalu lintas di simpang empat Dasan Cermen?

Seorang pengendara motor dengan enteng menunggu traffic light di lajur kanan. Posisi itu melanggar lalu lintas. Sebab ia seharunya ada di lajur kiri. Tapi dengan enteng ia tetap berdiri menunggu di sana.

Polisi yang berboncengan dengan enam motor di lajur kiri pun tak ia pedulikan. Sampai akhirnya sebuah peringatan keluar dari speaker yang dipasang di perempatan jalan itu.

“Kepada pengendara Honda Scoopy agar kembali ke lajur kiri!” begitu perintah yang keluar dari speaker yang terpasang di perempatan jalan itu.

Video ini viral. Lalu jadi perbincangan jagat netizen.

Tak hanya itu, video ini pun pernah jadi bahan perbincangan di acara talk show yang dipandu pelawak Sule pada sebuah stasiun televisi swasta Nasional.

Pengendara itu pun tampak kecele. Ia buru-buru berputar mengikuti menuju lajur kiri.

Sesaat kemudian, dalam video itu tedengar potongan lagu biduan dangdut Sasak: Erni Ardita.

 Kembali… kembalilah padaku. Insyafilah semua kesalahan dirimu!

Potongan lagu itu dianggap sangat pas. Serupa nasehat bagi pengendara tadi agar ia tak mengulangi lagi perbuatannya. Cara menegur ini dinilai jenaka dan lebih mengena. Jauh dari kesan formal dan kaku.

“Itu kerjaan tim kreatif,” kata Made Mawan, sembari tersenyum.

Pria itu nampak bersemangat saat ditemui siang, kemarin. Di ruang kerja Area Traffic Control System (ATCS). Ruangan ini persis berada di belakang kantor Dinas Perhubungan Kota Mataram. Dari ruangan inilah suara teguran itu muncul.

Udara di dalam ruangan ini terasa sejuk. AC menyala selama ada orang di dalamnya. Desain interiornya mengusung tema delux. Khas ruangan hi tech dan milenial. Di tembok sisi utara terpampang empat layar raksasa.

“Dari sana kami bisa mengamati lima titik simpang di Kota Mataram,” tuturnya.

Simpang tiga Turida, Simpang Tiga Sweta, Simpang empat Sweta, Simpang empat Rembiga, dan Simpang empat Dasan Cermen. Semua terangkum di dalam empat monitor tadi.

Meja operator berada di sisi selatan. Sedangkan di tengah ruangan, kursi sofa berbentuk setengah lingkaran tersedia. “Buat tamu,” jelasnya.

ATCS belakangan membuat orang banyak penasaran. Teguran tiba-tiba pada pelanggar lalu lintas, tak hanya membuat kaget. Tapi video yang dibagikan melalui akun Dinas Perhubungan Kota Mataram dapat respons positif dari netizen.

“Saya ditunjuk sebagai Kasi Pengembangan Sistem Lalu Lintas di sini,” terang Mawan, mulai bercerita.

Sebelum akhirnya ia menempati posisi itu, Mawan bukanlah orang yang paham teknologi. Sehari-hari ia hanya akrab dengan komputer “ketik” biasa. Hanya bisa mengoperasikan Microsoft Word dan Microsoft Excel. Itu saja.

Tetapi perangkat seharga Rp 3 miliar lebih itu tiba-tiba di bawa ke sana. Dan ia ditunjuk menakhodai perangkatnya. “Takut juga, semua serba hi tech. Kami takut salah pencet lalu rusak,” ungkapnya polos.

Tapi itu dulu. Kini ia sudah fasih. Memainkan commad-commad di dalam layar monitor. Merekayasa lalu lintas dari sebuah ruangan yang relatif kecil jika dibanding fungsinya.

“Inilah yang akan jadi masa depan pengaturan transportasi modern kita,” ujarnya dengan sangat yakin.

Mawan mengaku beruntung. Bisa bekerja dalam ruangan itu. Juga mengenal perangkat-perangkatnya. Apa yang belum dimulai di kabupaten kota lain di NTB, bahkan di daerah lain di Indoensia. Sudah dimulai di Kota Mataram. “Tentu bangga,” terangnya.

Tak hanya bisa mengoperasikan. Mawan juga dengan fasih menggambarkan tentang masa depan teknologi itu.

Ia menargetkan 50 persen kelak wilayah kota akan termonitor kamera dengan resolusi tinggi. Mampu zoom in hingga 25 kali lipat. Serta menjangkau 100 meter jarak pandang dengan detail.

“Coba lihat, jangankan plat motor, puntung rokok juga bisa terlihat jelas,” tunjuknya.

Memulai target mendigitalisasi 50 persen wilayah kota dalam layar monitor raksasa tentu butuh biaya besar. Mau tidak mau perangkatnya harus dicicil. Saat ini mereka telah mengantongi Rp 600 juta. Hanya untuk bisa menambah satu titik lagi. Di simpang empat Bank Indonesia.

“Buat para pelanggar, nanti siap-siap dapat surat cinta dari kami,” tuturnya, sembari tersenyum.

Iya: surat cinta. Memang dinamai surat cinta. Alasannya biar lebih millenial. Walaupun sebenarnya isinya teguran pemilik kendaraan telah melanggar lalu lintas. Bagaimana caranya?

Para pelanggar lalu lintas akan dicatat nomor polisinya. Lalu pemiliknya akan di-tracking alamat. Setelah ketemu dinas perhubungan akan mengirimi surat cinta itu. Agar pemilik tidak mengulangi lagi perbuatannya, atau meminjami kendaraannya pada orang yang tidak paham lalu lintas.

“Ini ide dari pak Kadis dan akan kita kerjasamakan dengan Kepolisian. Jika berulang-ulang mungkin akan ditilang. Bukankah kita sudah memiliki rekaman, pelanggarannya?” ujarnya.

Bagaimana, Anda tertarik dapat surat cinta dari Dishub? Jika tidak, tertiblah berlalu lintas mulai sekarang di ibu kota ini. Sebab Anda semua terpantau di dalam digitalisasi perangkat ATCS! (*/r5)

Berita Lainnya

Buat Wisata Kuliner Ikan di Sekarbela

Redaksi LombokPost

Muhir Keok, Malik Melenggang

Redaksi LombokPost

Jadup Mulai Ada Titik Terang

Redaksi LombokPost

Aneh, Usulan Perda Koperasi Dihapus Begitu Saja

Redaksi LombokPost

Zohri Kembali Pertajam Rekor Jadi 10,13 Detik

Redaksi LombokPost

Partai Beringin Panas Dingin

Redaksi LombokPost

Gubernur Bantah Ucapkan Selamat kepada Calon Presiden Tertentu

Redaksi LombokPost

Gubernur Zul Yakin Jokowi Tak Cuekin NTB

Redaksi LombokPost

Kebutuhan Uang Selama Ramadan Rp 2,9 Triliun

Redaksi LombokPost