Lombok Post
Metropolis

Cerita Warga Kota Melawan Rasa Trauma Gempa

HILANGKAN RASA TRAUMA: Beberapa warga Kota Mataram terlihat memeriksa semua barang bawaan yang dibantu petugas keamanan, dengan menggunakan alat pemindai logam di Lombok Epicentrum Mall, kemarin (20/3).

Gempa bumi menyambung ceritanya. Lama menghilang, Minggu lalu bencana itu kembali datang. Trauma warga Kota Mataram pun muncul lagi. Tapi tidak lama. Karena kini, mereka seakan sudah terbiasa.

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

==========================

Suara musik khas yang diputar di pusat perbelanjaan Transmart Mataram, begitu terasa menyapa telinga. Ada yang ikut menggumamkan liriknya, pelan. Ada juga yang sibuk memilih dan memilah, barang mana yang akan dibeli. Semuanya larut dalam aktivitas masing-masing.

Mereka seperti lupa. Atau memang tidak mau memikirkannya lagi. Soal gempa yang kembali mengguncang pada Minggu (17/3).

Kekuatan gempa itu sejatinya cukup terasa. Mampu membuat warga lari tunggang langgang. Pokoknya harus keluar dari gedung.

Siang itu, Koran ini sedang asyik memantau aktivitas warga kota saat sedang berbelanja. Maklum saja, berkaca dari kejadian tahun lalu, memasuki pusat perbelanjaan seperti sebuah uji nyali. Takut kalau terjadi gempa susulan.

Gusti Ayu, seorang wanita paro baya yang sedang asyik menikmati aktivitas belanjanya di Transmart Mataram, pun membenarkan. “Memasuki gedung bertingkat atau semacamnya, memang harus menanamkan keberanian pada diri sendiri,” terangnya.

Ia tidak akan lupa. Seumur hidup akan terus mengingat, bagaimana kejadian sejak akhir Juli sampai guncangan kuat pada malam 5 Agustus 2018, membekas dalam benaknya. Namun, berkaca dari kejadian itu, sekarang dirinya seperti sudah terbiasa.

Wanita 49 tahun mengakui, rasa trauma masing-masing pribadi pasti berbeda. Namun baginya, rasa trauma harus segera diatasi. Agar tetap beraktivitas kembali.

“Seperti saya sekarang, belanja kebutuhan keluarga ke Transmart Mataram, biar saya semakin terbiasa saja,” kata Ayu.

Ia percaya, bangunan Transmart Mataram sudah teruji katahanannya. Bahkan ada hal menarik yang telah ia pelajari dari kejadian gempa ini. Sebelum ia memasuki gedung, ia selalu memperhatikan mana jalur yang lebih cepat untuk mengeluarkan diri dari dalam gedung. Itu sebagai langkah antisipasi Ayu jika terjadi gempa susulan.

“Sambil jalan, sambil merhatiin lewat jalan mana, kalau ada jalur evakuasi, saya bisa tenang,” kata dia.

Sebagai orang beragama, ia hanya memasrahkan diri pada Tuhan. Hidup dan tinggal ditanah yang selalu berguncang. Seperti Lombok. Ayu juga selalu berdoa sebelum keluar rumah.

Dirinya juga menyebut, harus ada manajemen waktu. Mengatur berapa lama dirinya berada di luar rumah. Bahkan untuk membeli kebutuhan apa saja, juga harus diatur.

“Itu sebagai tindakan mawas diri aja. Kalau di bilang trauma sih udah gak ada ya, mungkin karena sudah terbiasa. Jadi kita jalanin aja semuanya, pasrah sama Tuhan,” tutupnya.

Setelah bertemu dengan warga kota di Transmart Mataram, Koran ini pun bergeser ke pusat perbelanjaan terbesar di NTB. Yaitu Lombok Epicentrum Mall. Di sini, bertemu dengan warga pendatang dari Jawa Tengah, yang telah tujuh bulan bekerja di Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Namanya Zein Malik.

Saat bertemu dengan Koran ini, sama seperti Ayu. Ia sedang disibukkan dengan memilih beberapa pakaian di salah satu tenant. Sempat berbincang mengenai gempa beberapa hari lalu. Zein bercerita, pada saat kejadian ia juga tengah berada di pusat perbelanjaan.

“Ya sempat lari sih karena kerasa,” tuturnya.

Meski begitu, ia mengakui sama sekali tidak trauma. Bahkan untuk tidak mengunjungi pusat perbelanjaan, adalah hal yang mustahil bagi Zein. Gempa memang sudah sering menyapa Lombok, jadi jika ada guncangan, ia sudah terbiasa.

“Pas 5 Agustus itu, saya udah kerja di sini dan saya merasakan gempa susulannya. Bahkan sampai sekarang,” kisahnya.

Bekerja di daerah dengan kuatnya intesitas gempa, tidak membuat Zein ingin kembali ke Jawa. Sama seperti Ayu, apapun bencana alam yang terjadi, semuanya ia pasrahkan pada Tuhan. Makanya ia tidak segan-segan untuk kembali mengunjungi pusat perbelanjaan.

“Bagi saya, mal itu tempat bersenang-senang. Jadi pas masuk ke sini, malahan saya gak mikir gempa lagi. Jangan di pikirin lah. Namun tetap waspada,” pungkasnya. (*/r5)

Berita Lainnya

Bukit Nipah dan Padanan Terbakar

Redaksi LombokPost

NTB Gak Mau PNS Kerja di Rumah

Redaksi Lombok Post

Uang Korban Gempa Dicuri Mandor

Redaksi LombokPost

Kejuaraan Paralayang Nasional Diikuti 153 Peserta

Redaksi LombokPost

Melihat Persiapan Pemkot Menyambut HUT Kota Mataram Ke-26

Redaksi LombokPost

Korban TPPO Banyak Dijual ke Suriah

Redaksi LombokPost

Wajib Pakai Besi Kolom Sepuluh Mili

Redaksi LombokPost

Tok, Tok, Tok, Bank Rontok

Kafilah Kecamatan Mataram Juara MTQ XVIII