Lombok Post
Headline Kriminal

Taufik Rusdi Terus Bernyanyi

SERET NAMA LAIN: Terdakwa Taufik Rusdi turun dari mobil tahanan sebelum menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Mataram, beberapa waktu lalu.

MATARAM-Taufik Rusdi, terdakwa perkara korupsi pengadaan sampan fiberglas, menyebut sejumlah nama yang diduga turut terlibat. Ada duga nama yang kerap disebut Taufik. Mantan Ketua DPRD Kota Bima Hj Ferra Amalia dan Nggempo, mantan bos Taufik di Dinas PU.

Dalam kasus ini, Hj Ferra bertindak selaku rekanan yang mengerjakan lima unit sampan fiberglass. Sedangkan Nggempo diketahui sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).

Dirreskrimsus Polda NTB Kombes Pol Syamsudin Baharuddin mengaku belum mengetahui pasti seperti apa peran dua nama tersebut. ”Kami akan dalami dulu nama-nama itu,” kata Syamsudin.

Saat kasus ditangani Polda NTB, Hj Ferra telah diminta keterangan saat kasus di tahap penyelidikan dan penyidikan. Begitu juga dengan KPA Nggempo.

Ditanya kemungkinan adanya tersangka lain, Syamsudin mengaaku tidak ingin berspekulasi. Ia menegaskan, penyidik akan menunggu hasil persidangan terlebih dahulu. Jika fakta persidangan menyebutkan ada keterlibatan pihak lain, penyidik akan melakukan pengembangan.

”Kita tunggu dulu hasil persidangan. Intinya keterangan terdakwa akan ditindaklanjuti,” ujarnya.

Nama Ferra dan Nggempo muncul seusai Taufik menjalani persidangan perdana di Pengadilan Tipikor Mataram. Taufik mengaku mendapat tekanan dari Kepala Dinas PU Nggempo.

”Yang namanya di PU Bima (selalu ada tekanan). Memang betul secara aturan itu PPK yang bertanggung jawab tapi harus diketahui Kepala Dinas PU Bima itu selaku KPA,” kata Taufik usai persidangan.

Taufik tidak menyebut secara gamblang peran Nggempo dalam rekayasa pemenang proyek tersebut. Ia menyentil kalau komando di Dinas PU berada di tangan Nggempo. Otomatis, dirinya bekerja di bawah perintah atasan.

Mengenai tekanan dari Kepala Dinas PU, ia mengaku secara tertulis memang tidak ada.  Tapi secara internal ke di dalam ada perintah. ”Ada perintah secara lisan yang dilakukan oleh KPA. Apalah kuasa seorang Taufik dibanding H Nggempo,” cetusnya.

Taufik mengakui pengadaan sampan itu penuh rekayasa. Sejak tahap awal hingga akhir, ia mengatur semuanya. Ia mengatur proyek senilai Rp 1 miliar agar bisa dimenangkan Hj Ferra. ”Tiga perusahaan itu milik beliau (Dae Ferra). Dua perusahaan mereka pinjam,” beber Taufik.

Satu perusahaan diketahui milik Ferdiansyah Fajar Islam, adik Ferra. Satu lagi, milik orang tuanya Ferra. ”Ada juga atas nama Rafik, sopirnya. Tapi itu milik mereka (Ferra),” pungkas dia.(dit/r2)

Berita Lainnya

Telkomsel Hadirkan Kuota Keluarga

Redaksi Lombok Post

Duta Bahasa NTB Juara Favorit

Redaksi Lombok Post

BUMN Gelar Jalan Sehat dan Pasar Murah di Mataram

Redaksi Lombok Post

Ayo Dukung Duta Bahasa NTB

Redaksi Lombok Post

Protes Warga Tak Mempan, Dewan Siap Paparkan Hasil Kunker

Redaksi Lombok Post

Nyabu Biar Lebih Bergairah

Redaksi Lombok Post

Mantan Kepala Kemenag Bima Ditahan, Tersandung Korupsi Tunjangan Guru di Bima

Redaksi Lombok Post

NTB Gak Mau PNS Kerja di Rumah

Redaksi Lombok Post

Zaini Arony Diklarifikasi Soal LCC

Redaksi LombokPost