Lombok Post
Metropolis

Cara Menghilangkan Bau Tak Sedap di Sepatu ala BROOK.LIN

CUCI SEPATU: Seorang pegawai tempat cuci sepatu BROOK.LIN sedang sibuk mencuci sepatu pelanggannya agar kembali bersih dan mengkilap, kemarin (22/3).

Apakah anda penikmat kopi? Mau itu kopi Robusta atau Arabica. Sama saja enaknya. Tetapi tahukah anda. Kopi ternyata tidak hanya dinikmati dalam bentuk seduhan saja, kopi yang masih berbentuk biji utuh juga ada khasiatnya.

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

==========================

Mesin kasir berbunyi kriiiiing. Seorang pegawai BROO.KLIN, sebuah tempat usaha mencuci sepatu di Lombok Epicentrum Mall, tengah asyik melayani pembayaran para pelanggan usai mengambil sepatu mereka yang sudah bersih. “Jangan lupa datang kembali ya,” katanya sambil tersenyum ramah.

Menoleh ke belakang pegawai mesin kasir. Ada sebuah rak, memajang puluhan sepatu. Yang sudah dipercantik dan dipoles, sampai sepatu yang masih tersimpan, untuk dicuci keesokan harinya. Sampai puluhan tas bergelantungan di sana. Para pegawai yang bertugas mencuci sepatu, sedang khusyuk menikmati pekerjaannya. Sikat dan mengelap beberapa sepatu kotor.

Christopher Kurniawan, pria 27 tahun sebagai pemilik BROOK.LIN, mempersilakan koran ini untuk menilisik lebih jauh dapur usahanya. Namun, setelah ditelusuri, ada sesuatu hal yang membuat agak tercengang. Yaitu sebuah sepatu terbungkus plastik transparan. tetapi di dalam sepatu ternyata dipenuhi dengan biji kopi. “Benar kok, kita memang pakai kopi,” kata Christopher.

Kepada Koran ini, ia bercerita bahwa penggunaan kopi bukan semata-mata langsung tercetus begitu saja. Suatu ketika, ada beberapa pelanggan yang datang ke tempat usahanya, bertanya bagaimana cara menghilangkan bau. Kata Christopher, sepatu pelanggannya itu terkena kencing tikus, kencing anjing sampai kencing kucing.

Mulai dari kejadian itu, dirinya berfikir hingga kemudian melakukan eksperimen sendiri. Membuka mesin pencarian Google untuk mencari petunjuk. Setelah itu, mencoba berbagai jenis bahan alami sampai bahan kimia lainnya.

“Sudah saya pakai produk ini itu, yang katanya bagus, terus pakai buah ini itu sudah tetapi tidak hilang juga bau sepatu itu,” kata Christopher.

Sampai akhirnya ia menemukan formula. Yaitu teh dan biji kopi. Sebelum menuju kopi, awalnya Christopher mencoba eksperimen dengan menghilangkan bau sepatu menggunakan teh, baunya memang hilang namun ternyata butuh waktu lama. Dia bilang, ada dua sampai tiga hari.

“Kalau sampai segitu lamanya, nggak bisa dong malah yang ada lari pelanggan saya karena kelamaan nunggu,” ujarnya.

Barulah, ia menuju kopi. Setelah percobaan dilakukan selama sehari. Ia kaget dan senang bukan kepalang, sungguh bau sepatu itu langsung hilang. Tak berbekas kembali. Karena pengalaman itulah akhirnya ia memutuskan memilih biji kopi sebagai penghilang aroma busuk sepatu.

Christopher sungguh murah hati. Meski itu adalah teknik marketing usahanya, namun ia tetap berbagi. Biar pelanggannya bisa mencoba di rumah. Ia mengatakan, untuk menghilangkan aroma busuk sepatu itu, hal pertama yang harus diingat adalah masukkan biji kopi sebelum sepatu di cuci.

“Kalau sudah dicuci, sama aja bohong karena tetap aja bau, kalau sebelum dicuci biar nanti aroma wangi sabun yang dipakai langsung terasa, karena bau busuk sepatu sudah hilang,” katanya.

Setelah sepatu belum dicuci itu dimasukkan biji kopi yang sudah disangrai, langkah selanjutnya adalah membungkus sepatu menggunakan plastik transparan atau bening. Kemudian mengikatnya erat sampai tidak ada udara yang masuk. Diamkan selama sehari semalam, kemudian dibuka dan percayalah bahwa bau sepatu busuk sudah hilang.

“Sejak saya coba beberapa bulan lalu, sampai sekarang, memang benar biji kopi ini sangat ampuh, kalau gak percaya, silakan teman-teman coba di rumah,” sarannya.

Christopher mengatakan, mau kopi Robusta atau Arabica, semuanya sama saja. Selain itu, manfaat lain yang ia dapatkan adalah penggunaan biji kopi menghemat biaya operasionalnya.

Dalam sehari saja, usahanya bisa menerima 10 pasang sepatu, belum lagi yang mencuci helm, tas,.dan koper. Berapa banyak biaya yang harus ia keluarkan jika tidak bisa menyiasati dengan cara yang lebih murah dan tentu saja hemat waktu

“Nggak sulit kok temui biji kopi sangrai di pasar, sejauh ini menurut saya masih murah,” terangnya.

Hemat waktu benar-benar diperhatikan Christopher. Karena dalam bisnisnya ini, ia mematok harga Rp 50 ribu untuk pencucian lebih detail dan Rp 35 ribu untuk cuci kilat. Pihaknya juga menyediakan sandal, bagi para pelanggan yang tiba-tiba ingin menunggu sepatunya dicuci, tetapi tidak membawa cadangan. Agar terus menikmati dan berkeliling mal. Sewanya pun tidak dipungut biaya alias gratis.

“Karena kalau nunggu kan sampai dua hingga tiga jam, kita beri gratis sewa,” pungkasnya. (*/r7)

Berita Lainnya

Hadapi Kekeringan dengan Sumur Dangkal

Redaksi LombokPost

Jangan Jadi Generasi Pil Koplo!

Redaksi LombokPost

Kalau Begini kan Enak! Trotoar Jembatan Jangkuk Steril dari Motor

Redaksi LombokPost

Mataram Butuh Pemimpin Tegas

Redaksi LombokPost

Cerita Agus Fahrul, Membawa Ratusan Anak Yatim Piatu Belanja Baju Lebaran

Redaksi LombokPost

Daging Impor Serbu Mataram

Redaksi LombokPost

CJH Meninggal Diganti Ahli Waris

Redaksi LombokPost

Pemkot Usulkan 300 Formasi CPNS

Redaksi LombokPost

Bisa Membangun, Tak Bisa Merawat!

Redaksi LombokPost