Lombok Post
Metropolis

Rekonstruksi Sudah Progresif, Presiden Instruksikan Jajaran Terus Lakukan Percepatan

PERIKSA RUMAH: Presiden Joko Widodo memeriksa rumah tahan gempa yang dibangun di Lingkungan Pengempel, Kelurahan Bertais, Kota Mataram, kemarin (22/3).

MATARAM-Presiden Joko Widodo memastikan, proses rehabilitasi dan rekonstruksi rumah korban gempa di Lombok dan Sumbawa sudah berjalan sangat progresif. Tercatat, sudah 160 ribu Kepala Keluarga telah menerima dana bantuan perbaikan rumah.

Memang belum seluruh rumah yang rusak terbangun. Terutama rumah yang rusak berat. Namun, hal tersebut bukan lantaran persoalan dana bantuan dari pemerintah yang tersendat. Sebab, kemarin, sudah dipastikan, dana Rp 5,1 triliun untuk perbaikan rumah korban gempa sudah berada di NTB.

Kepala Negara kembali datang mengecek pembangunan rumah korban gempa Lombok-Sumbawa, kemarin. Orang nomor satu di Indonesia itu melihat dari dekat proses pencairan dana bagi korban bencana gempa Lombok di Gedung Hakka, Narmada, Lombok Barat.

Selain itu, Presiden juga meninjau proses pembangunan rumah warga di Lingkungan Pengempel, Kelurahan Bertais, Kota Mataram.

            Di Pengempel, Jokowi blusukan melihat rumah-rumah warga yang sudah jadi dan masih setengah jadi. Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut juga berbicara dengan beberapa orang warga penerima bantuan.

Salah satunya, Papuq Suri, 85 tahun. Jompo yang luka berat akibat gempa Agustus 2018 itu sangat bersyukur bisa bertemu Presiden Jokowi.  Dia tidak menyangka seorang presiden singgah di gubuknya. Ia sudah menantikan kedatangan presiden cukup lama. Sebab, rumahnya yang rusak sampai sekarang belum juga diperbaiki. Dia masih tinggal di tenda.

”Saya sudah bertemu tadi, senang sekali. Semoga rumah bisa cepat jadi,” harapnya.

Di Lingkungan Pengempel ada 131 KK yang rumahnya rusak berat, 52 KK rusak sedang dan 2 KK punya rumah rusak ringan. Hingga kemarin, rumah yang sudah selesai dibangun 26 unit, sedang dikerjakan 105 unit, dan belum selesai 44 unit.

Setelah keliling melihat pembangunan rumah korban gempa, Presiden Jokowi menilai, ada perubahan yang progresif dari Februari sampai Maret ini. Ada peningkatan penanganan korban gempa, baik dalam bentuk pembagian buku tabungan maupun perbaikan rumah. Total 160 ribu buku tabungan dibagikan kepada warga.

Tantangannya kini tinggal membangun rumah. Ia mengakui proses pembangunan mengalami banyak hambatan di lapangan. Mulai dari ketersediaan bahan panel beton, kurangnya pasokan semen dan baja ringan.

Terhadap berbagai persoalan itu, Jokowi meminta Kementerian BUMN menambah pasokan semen dan baja ringan langsung dikirim dari pabriknya.

Mengenai target penyelesaian pembangunan rumah, Jokowi menyerahkan ke BNPB bersama tim. Ia meminta agar pembangunan ditunntaskan secepatnya.

”Saya sudah perintah harus lebih cepat dari sebelumnya,” tegas Jokowi.

Dana Rp 5,1 Triliun

Dia menegaskan, saat ini masyarakat sudah menerima buku tabung dan menerima dana tersebut. Pemerintah sudah mentransfer bantuan tahap pertama Rp 3,5 triliun dan bantuan tahap dua Rp 1,6 triliun. Sehingga total Rp 5,1 triliun sekarang sudah ada di NTB.

”Yang paling penting (uang) sudah ada di sini,” tegas Presiden.

Prosedur pencairan dana juga sudah dipercepat. Tim sudah membuka pelayanan satu pintu yang mempertemukan semua pihak di satu lokasi. Mulai dari Pokmas, aplikator, fasilitator, BPBD, dan pihak bank bertemu membuat kontrak di satu tempat. Dengan pola itu kontrak langsung diteken Pokmas dan aplikator.

”Ada empat kali meja, tanda tangan sini, tanda tangan sini, selesai,” katanya.

Jokowi optimistis pembangunan bisa lebih cepat. Sebab, antusiasme masyarakat membangun rumah tahan gempa (RTG) cukup tinggi. Baik rumah instan sederhana sehat (Risha), rumah instan konvensional (Riko), rumah instan kayu (Rika), dan rumah instan sederhana baja (Risba). Masyarakat semangat memilih RTG karena sudah teruji ketika gempa bermagnitudo 5,4 Ahad, pekan lalu, rumah-rumah itu aman meski digoyang gempa besar.

Masyarakat dibantu anggota TNI diharapkan membangun kembali rumah mereka secara gotong royong. Kerja sama yang baik akan semakin mempercepat pembangunan. Seperti di Lingkungan Pengempel, Kelurahan Bertais, Kota Mataram. Baginya itu bukan perkerjaan ringan, semua sudah bekerja keras, namun kadang-kadang di lapangan banyak masalah dihadapi.

”Ini yang mau kita klikkan agar tidak ada masalah,” katanya.

Tenaga Tukang Langka

Ketua Satgas Rehab Rekon Pacagempa Kementerian PUPR Achmad Gani Ghazali menyebutkan, dari 75.138 unit rumah rusak berat, rumah tahan gempa yang terbangun hingga kemarin mencapai 17.633 unit. Terdiri dari 16.033 unit sedang dalam proses pembangunan dan 1.600 unit sudah selesai dibangun dan sudah ditempati warga.

”Proses pembangunan memerlukan waktu, tapi sudah berjalan dengan lancar,” katanya.

Ia mengakui, sebenarnya pembangunan rumah agak terlambat. Banyak faktor yang memengaruhi. Mulai dari kondisi cuaca yang tidak bersahabat, sehingga orang bekerja agak terhambat. Juga karena kelangkaan bahan bangunan, dan kelangkaan tukang.

Dengan 75.138 unit rumah rusak yang dibangun bersamaan, tentu membutuhkan ribuan orang tukang. Sehingga disiasati dengan mendatangkan tenaga dari luar daerah.

“Beberapa masyarakat menyiasatinya dengan satu tukang berpindah-pindah,” katanya.

Untuk ketersediaan material bahan bangunan, mereka sudah bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Tapi sekarang sulit mendapatkan batu bata. Batu bata dipakai untuk dinding rumah warga, tapi selama musim hujan perajin agak susah menjemur bata. ”Agak sedikit terkendala,” katanya.

Kementerian PUPR ditugaskan ke daerah untuk membantu mempercepat pembangunan. Target masa transisi darurat menuju pemulihan berakhir 12 April. Setelah itu nanti ada mekanisme seperti hibah agar masyarakat segera membangun rumahnya.

Nanti terserah masyarakat mau dibangun sampai kapan. Karena dana itu diserahkan kepada masyarakat tidak dipegang institusi. Karena itu harus melewati Pokmas, dengan menggunakan Pokmas lebih terkendali dan nanti akan ada pertanggungjawaban.

Kunjungan ke Graha Pena

Presiden tiba di Lombok International Airport (LIA) lebih lambat dari yang dijadwalkan semula. Di LIA, Presiden yang didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi disambut Gubernur NTB H Zulkieflimansyah. Setelah beristirahat sejenak di ruang VIP LIA, Presiden kemudian bertolak ke Mataram.

Presiden langsung menuju gedung HAKKA. Di sana, sudah menyambut masyarakat korban gempa yang memproses penerimaan bantuan perbaikan rumah. Juga para bupati dan wali kota yang daerahnya terkena gempa di Lombok dan Sumbawa.

Dai gedung HAKKA, Presiden dan rombongan kemudian menunaikan Salat Jumat di salah satu masjid di Kelurahan Bertais, Kota Mataram. Di sana, warga menyambut dengan sangat antusias. Apalagi, Salat Jumat di masjid ini tak ada dalam jadwal Kepala Negara, karena semula Presiden dijadwalkan Salat Jumat di Islamic Center.

Usai Salat Jumat, Presiden kemudian berkunjung ke Pengempel. Lalu kemudian ke hotel Lombok Raya untuk bertemu dengan para relawan yang sudah berkumpul di sana.

Dari Hotel Lombok Raya, Presiden kemudian menuju Gedung Graha Pena Lombok, yang merupakan kantor Lombok Post Group. Di Graha Pena Lombok, Presiden disambut Direktur Lombok Post Alfian Yusni, General Manajer Lombok Post Haliluddin, dan Pemimpin Redaksi Lombok Post Jony Marthadinata.

Dalam suasana yang guyub dan santai, Presiden menyempatkan diri melihat dari dekat suasana newsroom Lombok Post. Presiden menyapa langsung satu persatu awak redaksi Lombok Post yang sedang berada di ruang redaksi. Dalam kunjungan ini Presiden didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Sekretatis Kabinet Pramono Anung. Turut mendampingi pula, Gubernur H Zulkieflimansyah dan Gubernur NTB periode 2008-2018 TGB HM Zainul Majdi.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden menyampaikan pentingnya peran media dalam terus mengawal proses pemulihan kembali Lombok dan Sumbawa selepas dilanda gempa. Presiden juga menekankan, bahwa dirinya dalam dua tau tiga bulan lagi akan datang ke Lombok untuk melihat lagi dari dekat progress penanganan pemulihan Lombok dan Sumbawa pascagempa.

Dari Gedung Graha Pena Lombok, Presiden kemudian menuju LIA, untuk selanjutnya bertolak melanjutkan kunjungan kerja ke Bali. Turut melepas Presiden di bandara Gubernur H Zulkieflimansyah dan TGB HM Zainul Majdi. (ili/kus/r8)

Berita Lainnya

Buat Wisata Kuliner Ikan di Sekarbela

Redaksi LombokPost

Muhir Keok, Malik Melenggang

Redaksi LombokPost

Jadup Mulai Ada Titik Terang

Redaksi LombokPost

Aneh, Usulan Perda Koperasi Dihapus Begitu Saja

Redaksi LombokPost

Zohri Kembali Pertajam Rekor Jadi 10,13 Detik

Redaksi LombokPost

Partai Beringin Panas Dingin

Redaksi LombokPost

Gubernur Bantah Ucapkan Selamat kepada Calon Presiden Tertentu

Redaksi LombokPost

Gubernur Zul Yakin Jokowi Tak Cuekin NTB

Redaksi LombokPost

Kebutuhan Uang Selama Ramadan Rp 2,9 Triliun

Redaksi LombokPost