Lombok Post
Metropolis

Relokasi Dua Pasar Belum Jelas

JUALAN DIPARKIRAN: Beginilah kondisi Pasar Kebon Roek, kemarin (22/3). Tampak puluhan pedagang masih memilih bertahan untuk berjualan di halaman parkir karena kondisi gedung pasar yang sangat memprihatinkan.

MATARAM-Pemkot Mataram telah lama menggaungkan relokasi dua pasar legendaris di Kota Mataram. Pasar Kebon Roek dan ACC yang direncanakan akan digabung menjadi satu sudah diwacanakan sejak 2017 lalu. Namun, sampai saat ini wacana tersebut seperti rencana tak berujung. Padahal kondisi kedua pasar itu semakin hari kian memprihatinkan.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Mataram H Mahmuddin Tura mengatakan, pemkot memang ada rencana soal itu. Lokasi pemindahan kedua pasar sudah dipastikan, yaitu di wilayah Kebon Talo, Jalan Saleh Sungkar, Kelurahan Ampenan Utara.

“Lokasi itu sudah kita siapkan, mulai dari rencana Detail Engineering Design (DED) sampai kajian Amdalnya juga sudah selesai,” terangnya, kemarin (22/3).

Tetapi nampaknya, para pedagang di kedua pasar itu harus bersabar dan menunggu lebih lama. Karena untuk menyiasati APBD, Pemkot Mataram masih menggunakan skala prioritas, seperti fokus untuk pembangunan Kantor Wali Kota di Jalan Lingkar Selatan.

Apalagi, setelah dilihat secara detail dari perencanaan DED dan dihitung dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB), pasar yang akan dibangun dengan konstruksi satu lantai itu menelan anggaran sebesar Rp 70 miliar. Dengan kenyataan itu, Pemkot Mataram jelas tidak mampu karena keterbatasan anggaran.

“Pemkot tidak punya anggaran untuk memindahkan kedua pasar itu ke Kebon Talo, karena kita mau menampung dua pasar jadi memang butuh biaya besar,” tegas Tura.

Dirinya mengakui, Pasar Kebon Roek dan ACC sekarang ini sudah dalam kondisi memprihatinkan. Seperti sudah tidak representatif lagi untuk berdagang. Kedua pasar itu, sudah tidak mampu lagi menampung banyaknya jumlah pedagang. Ditambah lagi dengan konstruksi bangunan bertingkat.

“Lantai atasnya sudah tidak berfungsi maksimal, karena rata-rata pedagang langsung menjemput pembeli di lantai bawah, makanya banyak menggelar lapak ditempat parkir,” jelasnya.

Setelah DED dan RAB selesai, pengajuan proposal pengajuan permintaan bantuan anggaran, memang telah dilakukan dari jauh-jauh hari, proposal pun sudah diterima oleh Kementerian Perdagangan RI. Namun, diakui memang sampai saat ini belum ada kejelasan bahkan kepastian.

“Kita sudah ajukan sepenuhnya dan berharap itu dukung semuanya, kalaupun tidak bisa semuanya, yang penting harus ada sharing anggaran,” ujar Tura.

Pemkot Mataram pun sampai saat ini tetap mengupdate kondisi terakhir proposal yang diajukan dan terserah pemerintah pusat mau membantu dari sumber mana saja. Bisa dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) atau Tugas Pembantuan (TP). Tapi rencananya diajukan pada APBN.

“Anggarannya ini akan terus kita dorong, tetapi tidak di APBN Perubahan karena waktunya mepet, mungkin nanti di APBN murni sehingga 2020 bisa kita bangun, doakan saja,” pungkasnya. (yun/r7)

Berita Lainnya

Buat Wisata Kuliner Ikan di Sekarbela

Redaksi LombokPost

Muhir Keok, Malik Melenggang

Redaksi LombokPost

Jadup Mulai Ada Titik Terang

Redaksi LombokPost

Aneh, Usulan Perda Koperasi Dihapus Begitu Saja

Redaksi LombokPost

Zohri Kembali Pertajam Rekor Jadi 10,13 Detik

Redaksi LombokPost

Partai Beringin Panas Dingin

Redaksi LombokPost

Gubernur Bantah Ucapkan Selamat kepada Calon Presiden Tertentu

Redaksi LombokPost

Gubernur Zul Yakin Jokowi Tak Cuekin NTB

Redaksi LombokPost

Kebutuhan Uang Selama Ramadan Rp 2,9 Triliun

Redaksi LombokPost