Lombok Post
Metropolis

Warga Harus Tetap Waspada DBD

AIR TERGENANG: Seorang warga melintas di genangan air yang berada tepat di depan rumahnya, beberapa waktu lalu. Tempat itu berpotensi jadi sarang nyamuk Aedes Aegypti.

MATARAM-Akhir-akhir ini, hujan terus melanda Kota Mataram. Kondisi seperti ini, jelas akan berpengaruh pada tingkat dan kualitas kebersihan lingkungan. Apalagi Kota Mataram adalah daerah endemik DBD harus mewaspadai hal semacam ini.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Mataram H Ahmad Zulfikar mengatakan, kasus DBD yang ditemukan per 22 Maret atau minggu ke-11 totalnya mencapai 237 kasus. Dengan satu jumlah kematian dan 177 positif mengidap penyakit yang disebab oleh nyamuk Aedes Aegypti itu.

“Dari jumlah itu, sisanya masih bersifat dugaan, apakah positif atau negatif mengidap DBD, itu masih kita periksa,” jelasnya, kemarin (22/3).

Pihaknya sendiri sampai saat ini masih terus mengimbau masyarakat untuk mewaspadai perubahan cuaca yang tidak menentu. Apalagi hujan yang terjadi hampir setiap hari, membuat genangan air terlihat di mana-mana.

Karena itu, Zul terus menyarankan, cara yang paling ampuh adalah tetap berperilaku hidup sehat. Kemudian pihaknya menggalakkan juru pemantau jentik (jumantik) di masing-masing rumah dan intensif melalukan pembersihan sarang nyamuk di lingkungan rumah masing-masing.

“Itu sudah kita imbau ke masing-masing kepala lingkungan se-Kota Mataram, harus ada upaya pembersihan. Misalnya saluran air yang nggak boleh ngadat atau kubur-kubur barang bekas,” jelasnya.

Terkait soal upaya dalam mengurangi kasus positif DBD melalui pengasapan atau fogging, pihaknya mengatakan itu sebagai langkah terakhir. Sebab pengasapan sendiri akan terasa sia-sia kalau PSN tidak dijalankan dengan baik. “PSN itu sebenarnya lebih baik daripada fogging, jadi sebelum kita lakukan pengasapan, kami tetap tekankan PSN,” tegas Zul.

Berdasarkan informasi Dikes NTB, Kota Mataram memang dikenal sebagai wilayah endemik DBD. Karena merupakan daerah perkotaan dengan kepadatan penduduk melebihi kabupaten lainnya. Hal inilah yang harus tetap diwaspadai warga kota. Sebab perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti di daerah perkotaan sangat cepat. Hanya memakan waktu sembilan hari saja, sudah menghasilkan puluhan bahkan ratusan jentik nyamuk penyebab DBD.

“Makanya petugas puskesmas harus standby 24 jam karena itu terintegrasi dengan jumantik tadi, mereka harus saling berkoordinasi, biar kalau ada kasus baru cepat tertangani,” ujarnya.

Selain itu, sosialisasi dan penyuluhan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terus dilakukan Dikes Mataram. Sekarang ini sudah menyasar ke sekolah-sekolah di Mataram. Menurut hasil survei penanggulangan DBD oleh Dikes Kota Mataram pada 2015, banyak kasus DBD asal mulanya berada disekolah.

“Kita sekarang sedang melakukan pelatihan guru untuk angkatan ke enam, materi yang selalu kami tekankan bahwa semua pihak disekolah, harus mengupayakan PSN,” tutupnya. (yun/r7)

Berita Lainnya

Gerindra Belum Tentukan Siapa Wakil Ketua DPRD

Redaksi LombokPost

Alhamdulillah, Semua Karyawan Sudah Dibayarkan THR

Redaksi LombokPost

Ketika Terminal Mandalika Menjadi Ladang Rezeki Pedagang Asongan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Kedubes Prancis Kunjungi Poltekpar Lombok

Dapil Satu-Dua Milik Kepala Garuda

320 Jamaah Belum Lunasi BPIH

Korban Gempa Tarawih di Masjid Darurat

Caleg Gagal Malas Hadiri Rapat Paripurna