Lombok Post
Kriminal Lapsus

Kerja Ekstra Jaga Ibu Kota

PECAH KACA: Mobil Suzuki Ertiga milik Zaenal menjadi sasaran pencurian dengan modus pecah kaca mobil, di Jalan TGH Faisal, Kelurahan Turida, beberapa waktu lalu. Akibat peristiwa ini, korban menderita kerugian hingga ratusan juta.

Kota Mataram dijadikan panggung tindak pidana bagi para pelaku kejahatan. Saban hari, nyaris ada saja aksi kejahatan yang dilakukan. Aksi penjahat dibalas dengan upaya penindakan dari kepolisian. Sayangnya, dari beberapa pengungkapan, didominasi kerja anggota Resmob 701 Polres Mataram dan segelintir Polsek.

== == ==

Seorang laki-laki  mengenakan celana pendek dan kaos hitam, datang ke salah satu toko di Jalan AA Gde Ngurah, Cakranegara, pertengahan pekan lalu. Dia datang dengan menenteng satu tongkat berwarna putih.

Pergerakan pelaku terekam kamera pengawas toko. Dengan tongkat itu, lelaki yang menutup wajahnya menggunakan kaos, mencoba untuk merusak tiga kamera pengawas. Aksinya dilanjutkan dengan merusak gembok toko.

Beruntung bagi pemilik toko dan sial bagi terduga pelaku. Gembok pintu toko tak mampu dibuka pelaku. Percobaan pencurian itu pun berakhir sia-sia.

Aksi pembobolan toko tersebut merupakan upaya pencurian yang kali kesekian terjadi di wilayah hukum Polres Mataram. Sebelum itu, dari penelusuran Lombok Post, telah terjadi beberapa pembobolan toko hingga pencurian dengan modus pecah kaca mobil.

Sebagai Ibukota dengan aktivitas perekonomian yang cukup tinggi, Kota Mataram kerap memancing pelaku kejahatan untuk beraksi. Di sisi lain, kepolisian juga terus berusaha melakukan upaya penindakan.

Polres Mataram, sebagai satuan polisi yang berada di Kota Mataram, memiliki tanggung jawab penuh terhadap keamanan warga kota. Guna memudahkan kerja-kerja kepolisian, Polres dibantu dengan satuan polisi satu tingkat di bawahnya, yakni Polsek.

Khusus Kota Mataram, empat Polsek didirikan untuk menjaga dan melakukan tindakan hukum. Antara lain, Polsek Cakranegara, Polsek Mataram, Polsek Pagutan, dan Polsek Ampenan.

Sayangnya, tidak semua Polsek bekerja dengan optimal. Dari sejumlah penindakan dan pengungkapan kasus kejahatan, lebih banyak dilakukan anggota Resmob 701 Satreskrim Polres mataram.

Padahal, hampir setiap hari ada saja terjadi tindak kejahatan. Misalnya saja, upaya pembobolan toko di Jalan Catur Warga, awal Maret; pencurian motor di wilayah Kampus Universitas Mataram, hingga pencurian dengan modus pecah kaca mobil di Jalan Pejanggik.

Untuk pencurian di Unram, sempat menimpa mahasiswa Fakultas MIPA. Wahyu Bambang, ayah korban mengatakan, saat melapor ke Polsek Mataram, sudah ada enam korban yang turut melapor.

”Pas saya melapor, sudah ada enam korban sebelum itu. Jadi asumsinya, satu minggu bisa dua kali terjadi pencurian motor,” terang Wahyu.

Meski sudah membuat laporan polisi, Wahyu belum mendapat informasi apakah jajaran Polsek Mataram berhasil menangkap pelakunya.

Kinerja Polsek Mataram memang tak menggembirakan untuk urusan pengungkapan kasus kejahatan konvensional. Sebagai Polsek di kantung kota, Polsek Mataram belum mampu mengimbangi aksi kejahatan di wilayah hukumnya.

Minimnya upaya penindakan hukum terhadap pelaku kejahatan, membuat sebagian korban kejahatan enggan untuk melapor. ”Percuma melapor. Kita mau melapor kalau memang handphone saya bisa kembali,” kata Andini, salah satu korban penjambretan di Jalan Sriwijaya, Februari lalu.

Kriminologi Unram Dr Muhammad Natsir mengatakan, minimnya kesadaran melapor didorong rasa trauma atas penegakan hukum. Banyak masyarakat yang menilai hukuman terhadap pelaku tindak pidana curas, curat, dan curanmor (3C) masih sangat rendah. Termasuk upaya pengungkapannya.

Dari sana, masyarakat banyak memilih untuk main hakim sendiri. Masyarakat sudah sangat benci dengan kejahatan yang berulang-ulang. Aksi pengeroyokan yang dilakukan, disebut Natsir sebagai upaya perlawanan. Sebagai negara hukum, hal tersebut tentu tidak bisa dibenarkan.

Karena itu, lanjut dia, masyarakat perlu diberikan pencerahan. Mengedukasi warga untuk tidak main hakim sendiri. Meski mereka menangkap tangan pelaku pencurian.

”Pelaku kejahatan masih punya hak hukum. Seringkali hak-hak ini diabaikan,” ujarnya.

Ditambahkannya, keluarga, lingkungan, dan pemerintah diharapkan bisa menjalankan perannya dengan baik. Mengedukasi masyarakat untuk mengedepankan proses hukum.

”Yang terakhir baru peran aparat penegak hukum untuk penindakan,” kata dia.

Disinggung mengenai kinerja polsek yang melempem, Kapolres Mataram AKBP Saiful Alam menyebut itu akan menjadi bahan evaluasi jajarannya. ”Memang belum maksimal. Tapi, akan kita back up agar kegiatannya selaras,” ujar Alam.

Menurut Alam, Polres dan Polsek merupakan satu kesatuan. Jika ada kejadian di wilayah hukum polsek atau ada kendala pengungkapan tindak pidana, maka sudah menjadi kewenangan polres untuk membantu.

Lebih lanjut, setiap Sabtu atau satu hari per minggu, Alam mengaku tetap ada evaluasi kinerja. Untuk saat ini, karena bertepatan dengan situasi pemilu, jajarannya masih fokus pada pengamanan pesta demokrasi tersebut.

”Saran itu kita jadikan evaluasi. Hasil evaluasi kita coba gugah Kapolsek untuk melakukan tindakan hukum agar tercipta situasi hukum yang kondusif,” tandas Alam.

(wahidi akbar sirinawa/r2)

Berita Lainnya

Jual Sabu Untuk Modal Kawin, Dua Sejoli Kompak Masuk Bui

Redaksi LombokPost

Nyabu Biar Lebih Bergairah

Redaksi Lombok Post

Mantan Kepala Kemenag Bima Ditahan, Tersandung Korupsi Tunjangan Guru di Bima

Redaksi Lombok Post

Zaini Arony Diklarifikasi Soal LCC

Redaksi LombokPost

Tersangka Penyuap Imigrasi Segera Diadili

Redaksi LombokPost

Rekanan Proyek THR Diklarifikasi

Dae Ferra Berkelit Tak Terima Fee

Cari Selamat, Maling Amatir Hianati Kawan

Dorfin Dituntut 20 Tahun Penjara

Redaksi LombokPost