Lombok Post
Metropolis

Tunggakan Bantuan Rp 55 Miliar Sudah Ditranfer

TINGGAL PENEMBOKAN: Dua orang tukang terlihat memotong kayu pada pembangunan Rumah Instan Sederhana (Risha) di Lingkungan Tegal, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram, pekan lalu.

MATARAM-Dinas Perumahan san Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Mataram mengklaim kekurangan dana bantuan bnagi korban gempa sudah ditranfer. Kekurangan dana Rp 55 miliar bagi korban gempa kategori rumah rusak sedang dan ringan  sudah ditranfer ke PPK BPBD Kota Mataram. “PPK BNPB sudah mentransfer kekurangan dana tersebut ke PPK BPBD Mataram. Bantuan ini sudah disalurkan melalui kelompok masyarakat (pokmas) penerima bantuan,” kata Kepala Dinas Perkim Kota Mataram HM Kemal Islam, pekan lalu.

Diungkapkan, setelah dana Rp 55 juta ini ditranfer maka penyaluran bantuan untuk korban gempa Mataram tahap pertama dianggap telah selesai. Total dana bantuan untuk korban gempa bumi di Mataram sebesar Rp285 miliar, dengan total sasaran 13.437 unit rumah. Rinciannya rusak berat 2.396 unit, rusak sedang 2.777 unit dan rusak ringan 8.264 unit. “Para korban gempa bumi mendapatkan dana bantuan sesuai janji pemerintah yakni Rp 50 juta untuk rusak berat, Rp 25 juta untuk rusak sedang dan Rp 10 juta untuk rusak ringan,” terangnya.

Kini kata Kemal, bantuan ini  sudah tidak ada masalah. Sekarang ini yang terpenting bagaimana memotivasi para korban mempercepat proses pembangunan hunian tetap (huntap) untuk rusak berat serta renovasi untuk korban rusak sedang dan ringan. Apalagi masa tanggap darurat sampai 12 April 2019.  Dan akan masuk ke masa rehabilitasi dan rekonstruksi mulai 13 April sampai 20 September 2019. “Masih banyak panjang untuk membangun, tapi masyarakat tak boleh terlalu santai,” tuturnya.
Kemal mengaku, progres pembangunan rumah rusak berat cukup bagus. Dari 1.584 unit rumah rusak berat, sebanyak 886 unit sudah terbangun. Saat  ini, pemerintah kota kembali mengusulkan bantuan sebesar Rp 20 miliar untuk korban gempa bumi yang tidak terdata dalam Surat Keputusan Wali Kota Mataram. Mereka yang tidak terakomodasi ini ada yang rumahnya rusak ringan, sedang dan berat.

Warga yang tidak terdata karena beberapa faktor. Mereka tidak yakin mendapat bantuan, dan setelah melihat ada bantuan riil barulah mereka meminta untuk diakomodasi. “Ada juga yang tidak mau merobohkan ruamhnya karena dianggap dana Rp 50 juta tak cukup untuk membangun kembali,” tukasnya.

Sementara itu Ketua Pokmas Gotong Royong Lingkungan Jangkuk, Kecamatan Sandubaya Gupran mengatakan, pembangunan rumah rusak berat konsep Rumah Instan Konvensional (Riko) tinggal finishing. Pihaknya sudah mengajukan pengajuan dana termin ketiga untuk disalurkan guna menuntaskan yang belum rampung. “Kami sudah meminta anggota kelompok untuk mengajukan pembelian daun pintu, jendela dan kusen. Kalau bisa cari yang bagus,” tutupnya. (jay) 

Berita Lainnya

Buat Wisata Kuliner Ikan di Sekarbela

Redaksi LombokPost

Muhir Keok, Malik Melenggang

Redaksi LombokPost

Jadup Mulai Ada Titik Terang

Redaksi LombokPost

Aneh, Usulan Perda Koperasi Dihapus Begitu Saja

Redaksi LombokPost

Zohri Kembali Pertajam Rekor Jadi 10,13 Detik

Redaksi LombokPost

Partai Beringin Panas Dingin

Redaksi LombokPost

Gubernur Bantah Ucapkan Selamat kepada Calon Presiden Tertentu

Redaksi LombokPost

Gubernur Zul Yakin Jokowi Tak Cuekin NTB

Redaksi LombokPost

Kebutuhan Uang Selama Ramadan Rp 2,9 Triliun

Redaksi LombokPost