Lombok Post
Headline Praya

Uang Ada, Fasilitator Tak Ada

BAHAN BANGUNAN: Tumpukan bahan bangunan berupa, seng, kerangka atap dan pasir di Dusun Montong Dau Desa Teratak, Batukliang Lombok Tengah, Jumat (1/3) lalu.

        PRAYA-Penanganan pascagempa di 53 dusun di 22 desa, di tiga kecamatan di Lombok Tengah, dipastikan tidak sesuai target. Kali ini, bukan karena persoalan panel Risha yang terbatas. Melainkan, fasilitator.

        “Jumlahnya, terbatas,” keluh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng H Muhamad, Sabtu (23/3). Per satu petugas saja, lanjutnya menangani puluhan unit rumah, bahkan ratusan unit rumah.

        Alhasil, terang Muhamad mereka menggunakan sistem giliran, sehingga yang terjadi saling tunggu menunggu. Idealnya, per satu fasilitator menangani satu, atau dua unit rumah saja. Wajar, progres pembangunannya, tidak berjalan cepat. Baik rumah rusak berat, rusak sedang maupun rusak ringan.

        Kendati demikian, pihaknya mengaku sudah berkali-kali menyampaikan kepada warga, bahwa penanganannya terhitung hingga 2020 mendatang. Jadi tidak perlu khawatir, jangan termakan isu yang tidak-tidak, misalnya pengembalian dana bantuan, penyetopan pembangunan dan sebagainya.

        “Sejak awal, kami keluhkan persoalan ini. Seharusnya, pemerintah mengantisipasinya,” sambung kepala desa (Kades) Barabali Lalu Ali Junaidi, terpisah.

        Gara-gara fasilitator, ungkap Junaidi penanganan pascagempa di desanya tertunda dan terlambat. Disatu sisi, menjadi fasilitator tidak lah mudah, mereka memiliki keahlian khusus dibidangnya masing-masing. “Tapi, kami tidak mau tahu, pemerintah harus mencarikan jalan keluarnya,” cetusnya.

        Sementara itu, Bupati Loteng HM Suhaili FT mengatakan, kedatangan Presiden RI Joko Widodo, Jumat (22/3) kemarin, memberikan angin segar bagi percepatan penanganan pascagempa. Baik fisik maupun non fisik. Sekarang, tinggal bagaimana seluruh elemen masyarakat bekerja sama dan bergotong royong.

        Yang pasti, tekan Suhaili penanganannya berjalan tuntas. Secara umum di NTB, anggaran sudah di transfer 75 persen, tinggal 25 persen lagi. Termasuk, di Loteng. “Ini akan diselesaikan dalam waktu dekat,” ujarnya.

        Hanya saja, tambah pria asal Desa Bodak, Praya tersebut saat gempa ber magnitudo 5,8 skala richter (SR), Minggu (17/3) lalu. Kondisi rumah warga semakin parah. Yang semula, rusak sedang menjadi rusak berat, yang rusak ringan menjadi rusak sedang.

“Mau tidak mau, alokasi anggarannya menyesuaikan. Jumlahnya, sedang di data,” ujar orang nomor satu di Gumi Tatas Tuhu Trasna tersebut.(dss/r2)

Berita Lainnya

Tenaga Pemetaan BPS Terlindungi Program BPJS Ketenagakerjaan

Redaksi Lombok Post

Siswa BLK Menjadi Peserta BPJS Ketenagakerjaan

Redaksi Lombok Post

Tetaplah Akur Zaitun! Fauzan Fokus Bangun Industri, Sumiatun Janji Kembangkan Pariwisata

Redaksi LombokPost

Perempuan Harus Ikut Membangun Daerah

Redaksi LombokPost

LIA Alami Lonjakan Penumpang Lima Persen

Redaksi LombokPost

Petugas TPS Desa Pengembur Dipecat

Redaksi LombokPost

16.080 Siswa SMP/MTs Laksanakan UN

Redaksi LombokPost

Puluhan Petugas KPPS dan PPS “Tumbang”

Redaksi LombokPost

13 Ahli Waris Non ASN Kemensos RI Terima Santunan BPJSTK

Redaksi Lombok Post