Lombok Post
Headline Metropolis

Lebih Dekat dengan Amiruddin ‘Pawang’ Kompor Gas Lulusan SMA : Buat Kompor Gas 8 Tungku dari Bekas Kompor Minyak Tanah

SELALU ADA AKAL: Amir tengah membuat kompor gas dari bekas kompor minyak tanah di rumahnya kawasan Selagalas, Kota Mataram, kemarin (25/3).

Pengalaman jauh lebih berharga daripada teori di bangku sekolah. Amir yang lulusan SMA bak profesor merancang kompor yang mampu memasak berkali-kali lebih cepat dari kompor pada umumnya.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

=================================

MASIH ingat kompor minyak tanah merek Hock? Dulu kompor ini sangat legendaris dengan tagline api birunya. Konon api biru diyakini memiliki titik didih lebih tinggi. Image api biru pun terkesan panas. Mewah. Dan tentu saja branded buat jadi bahan iklan. Bukankah kebanyakan api lumrah berwarna merah?

Tapi masa jaya sang api biru perlahan redup. Seiring dengan dicabutnya subsidi minyak tanah. Harga minyak tanah pun melambung. Orang-orang lebih perlahan menggudangkan kompor Hock-nya bersama sisa kebanggaan yang masih melekat bersamanya. “Kalau lihat rangka kompor ini rasanya seperti nostalgia ya,” kata Amiruddin.

Amir bukan sekadar tukang service kompor gas biasa. Alumni SMAN 6 Mataram itu selama dua tahun pernah mendalami ilmu per-kompor-an di Singaraja, Bali. “Saya jadi konsultan kompor gas,” terangnya.

Pengalaman bersentuhan dengan kompor selama dua tahun membuat Amir begitu fasih. Mereparasi separah apapun kerusakan kompor gas. Bahkan tidak hanya fasih mereparasi ia pun telah membuat kompor gas dengan delapan tungku. Wow!

“Sebenarnya dari dulu saya sudah sangat ingin membuat kompor seperti ini,” ujarnya.

Idenya sederhana. mempararel delapan kompor. Tapi ini jadi tidak mudah karena kompor yang dimodifikasi adalah kompor-kompor minyak tanah yang sudah digudangkan. Tak hanya itu bahan bakarnya dari gas. Bahan bakar yang nyaris ‘tabu’ diutak-atik oleh masyarakat.

“Ya daripada dibuang apalagi dulu dibeli dengan harga cukup mahal, kalau tidak salah Rp 130 ribu harganya,” kenangnya.

Tapi rangka-rangka kompor minyak tanah saat ini hanya  membuat gudang kompor penuh saja. Mahalnya harga minyak tanah setelah subdidi dicabut dengan sendirinya menggiring orang-orang beralih ke kompor gas.

Amir owner Service Kompor The Sisok pun tertarik untuk mengajak orang-orang bernostalgia dengan kompor Hock. “Tiga hari saya buat, hasilnya seperti ini,” kisahnya.

Ia membeli rangka kompor hock yang sudah tidak terpakai dengan harga Rp 15 ribu. Maka untuk delapan rangka, total ia keluarkan uang Rp 120 ribu. Lebih murah dari harga Kompor Hock saat masih baru. Ada beberapa properti tambahan yang harus ia beli juga. “Seperti mesin kompor gasnya,” jelasnya.

Lalu ada juga burner. Bila ditotal-total ia menghabiskan sekitar Rp 200 ribu untuk memodifikasi satu tungku kompor minyak tanah menjadi kompor gas. Maka untuk delapan tungku itu, Amir mengeluarkan modal Rp 1,6 juta.

“Belum lagi pipa stainless dan beberapa modifikasi tambahan agar delapan tungku ini cukup menggunakan satu tabung gas,” ulasnya.

Seseorang pernah menawar kompor delapan tungku milik Amir dengan harga Rp 2 juta. Tapi ia enggan menjual. Amir lebih suka diminta membuat dengan bahan-bahan disiapkan langsung oleh pemesan.

“Karena susah juga cari bahan seperti ini, sebab kompor minyak tanah lain ternyata tidak bisa dimodifikasi seperti ini,” terangnya.

Total ia telah membuat tak kurang dari 40 unit kompor modifikasi seperti itu. Para pemesannya mengaku tertarik dengan kemampuan kompor untuk memasak yang berkali-kali lipat lebih cepat dari pada kompor biasa. Mengapa?

“Karena burner yang saya gunakan lebih besar dari kompor gas pada umumnya,” jelasnya.

Keunggulan burner lebih besar membuat nyala api pun semakin besar. Para pemesan kompor gas modifikasi buatan Amir kebanyakan dari para pengusaha atau industri rumahan. Mereka membutuhkan kompor yang lebih cepat memasak dan unitnya lebih banyak. Sehingga produktivitas industri rumahannya lebih cepat pula.

“Misalnya untuk para pengusaha katering, pembuat kue rumahan, dan sejenisnya,” contoh dia.

Tidak hanya sekadar cepat memasak. Dengan tungku yang banyak. Amir pun yakin daya tahan kompor buatannya tak kalah jauh dengan kompor-kompor gas bermerk. Bahkan lebih safety karena sebelum diserahkan ke pemasan. Amir menguji kompornya berkali-kali untuk memastikan tidak ada yang bocor. “Dua hari saya coba dulu di rumah, sampai benar-benar saya yakin aman, baru saya serahkan ke pemesannya,” terangnya.

Kompor hasil modifikasi Amir pun jadi andalan kampungnya. Saat ada acara gawe (pesta, Red) keluarga yang membutuhkan alat masak yang banyak. Kompor gas modifikasi Amir selalu dicari. Karena itu, satu-satunya kompor gas modifikasi yang ia buat masih tersisa enggan ia jual.

“Saya lebih bahagia kompor ini dimanfaakan masyarakat untuk acara-acara pesta buat masak, setidaknya ilmu saya bermanfaat bagi banyak orang,” ujarnya puas. (bersambung/r7)

Berita Lainnya

Kelelahan, Enam PPS Tumbang

Redaksi LombokPost

PSU Rentan Money Politic

Redaksi LombokPost

Kinerja Dewan Mengecewakan, Pembahasan Raperda Sangat Minim

Redaksi LombokPost

Telkomsel Optimalkan Jaringan di Lebih dari 1.400 Titik Penting

Redaksi Lombok Post

Buat Wisata Kuliner Ikan di Sekarbela

Redaksi LombokPost

Muhir Keok, Malik Melenggang

Redaksi LombokPost

Jadup Mulai Ada Titik Terang

Redaksi LombokPost

Aneh, Usulan Perda Koperasi Dihapus Begitu Saja

Redaksi LombokPost

Gubernur: Jangan Ada Dendam Politik!

Redaksi LombokPost