Lombok Post
Metropolis

Panen Ikan Semudah Memetik Sayur

INI BARU KEREN: Kepala Dinas Perikanan Kota Mataram Hj Baiq Sujirhatini (pakai hijab) memperkenalkan teknologi aquaponik, kepada salah satu hotel di Kota Mataram, kemarin (25/3).

MATARAM-Sukses mengenalkan teknologi bioflok, Dinas Perikanan (Diskan) Kota Mataram kembali memperkenalkan teknologi urban farm. Yakni, kombinasi antara pertanian dengan perikanan. Teknologi ini dinamai Aquaponik.

“Aquaponik memungkinkan bertanam dan budi daya ikan dalam satu wadah,” kata Kepala Dinas Perikanan Kota Mataram Hj Baiq Sujihartini.

Teknologi ini langsung diperkenalkan kepada 75 ibu rumah tangga perwakilan dari seluruh kelurahan. Para ibu rumah tangga itu, nantinya diharapkan dapat mentransfer pengetahuannya tentang sistem aquaponik kepada ibu rumah tangga di sekitarnya. “Mereka masing-masing akan kita berikan bantuan media aquaponik senilai Rp 2 juta,” ujarnya.

Para ibu rumah tangga itu nanti akan dapat pendampingan dari para penyuluh perikanan. Agar proses budi daya ikan dan tanam sayuran di media aquaponik bisa berhasil. Tini yakin, kampanye bioflok yang sebelumnya juga telah berhasil di beberapa wilayah sampel.

Teknik budi daya aquaponik akan menambah pilihan. Sehingga warga kota semakin tertarik memanfaatkan pekarangannya yang terbatas. Dengan budi daya ikan dan tanaman sayur yang bermanfaat. “Kami serius ingin menggarap urban farm dengan memperkenalkan teknologi-teknologi yang menarik dan unik,” tegas Tini.

Ia mengakui mendorong masyarakat kota terbuka pada teknologi urban farm bukan pekerjaan mudah. Perhitungan untung rugi yang tepat jadi pertimbangan apakah mereka punya ketertarikan atau tidak memanfaatkan teknologi itu di rumah masing-masing. “Keberhasilan 75 ibu rumah tangga ini sangat penting sebagai contoh sukses budi daya dengan sistem aquaponik,” ulasnya.

Sistem aquaponik punya keunggulan yang tak kalah dengan bioflok. Yakni, air kolam tidak perlu diganti. Karena itu sangat baik bagi nutrisi tanaman. Sebaliknya tanaman juga akan menyerap kotoran ikan sebagai pupuk tanaman. “Panen ikan semudah memetik sayuran di pekarangan rumah,” ujarnya.

Praktisi urban Farm Kota Mataram H Masbuhin terlihat antusias saat melihat ide aquaponik yang ditawarkan dinas perikanan. Ide ini dinilai ini cemerlang, menjawab persoalan penyempitan lahan pertanian kangkung yang menyusut. “Dulu luar pertanian kangkung di Kota Mataram mencapai 8 hektare (ha) sekarang yang tersisa cuma 2 ha,” kata Buhin .

Kerisauan penyempitan lahan pertanian ini sempat dikeluhkan masyarakat. Mengingat Mataram termasuk daerah pengkonsumsi kangkung yang cukup tinggi. Buhin mencontohkan saat bulan puasa, harga kangkung biasanya melambung tinggi. “Kangkung bisa dihargai Rp 7 ribu seikat,” ujarnya.

Tapi jika konsep aquaponik ini dipahami dan diterapkan dengan baik oleh masyarakat, dia yakin kebutuhan akan kangkung bisa terjawab di pasaran. Warga tidak perlu pusing membeli dengan harga tinggi. “Karena sistem aquaponik ini juga sangat baik untuk menanam kangkung,” yakinnya.

H Nasrudin, Penyuluh Dinas Pertanian Kota Mataram mengatakan, proses tanam sayuran dengan sistem aquaponik hanya butuh waktu 10-15 hari. Karena kebutuhan pupuknya sudah terpenuhi dari kotoran ikan dan sisa makanan jadi pupuk bagi tanaman. Sedangkan ikan yang dibudidaya di media aquaponik hanya butuh waktu 3-4 bulan untuk bisa panen dan siap goreng.

“Pada media satu kali dua meter ini masih bisa untuk budi daya ikan lele sebanyak 5 ratus ekor dengan hasil yang maksimal, ikan patin, nila, juga bisa,” tandasnya. (zad/r7)

 

Berita Lainnya

Buat Wisata Kuliner Ikan di Sekarbela

Redaksi LombokPost

Muhir Keok, Malik Melenggang

Redaksi LombokPost

Jadup Mulai Ada Titik Terang

Redaksi LombokPost

Aneh, Usulan Perda Koperasi Dihapus Begitu Saja

Redaksi LombokPost

Zohri Kembali Pertajam Rekor Jadi 10,13 Detik

Redaksi LombokPost

Partai Beringin Panas Dingin

Redaksi LombokPost

Gubernur Bantah Ucapkan Selamat kepada Calon Presiden Tertentu

Redaksi LombokPost

Gubernur Zul Yakin Jokowi Tak Cuekin NTB

Redaksi LombokPost

Kebutuhan Uang Selama Ramadan Rp 2,9 Triliun

Redaksi LombokPost